Follow me on Twitter RSS FEED
Tampilkan postingan dengan label varia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label varia. Tampilkan semua postingan

Kecerdasan Majemuk

Seringkali terdapat anggapan bahwa manusia, khususnya siswa yang memiliki kecerdasan matematis (logic smart) telah mewakili sosok pintar. Padahal sudah banyak contoh melalui murid yang terkenal nakal atau malas di kelas seperti Thomas Alva Edison, justru lebih sukses dan terkenal ketimbang rekannya atau menjadi idola seperti John Lennon. Mengapa bisa terjadi demikian? Sesungguhnya mereka dengan status bandel bahkan sempat tidak naik kelas bukanlah semata bodoh, tetapi memang tidak menonjol dalam kecerdasan matematis atau memiliki bakat khusus dalam jenis kecerdasan lainnya. Namun umumnya sistem pendidikan formal di sekolah kebanyakan memang lebih menekankan aspek bagi kecerdasan matematika dan verbal-linguistik. Selain gampang dijabarkan menurut kurikulum, juga demi alasan tingkat ketrampilan yang lebih terukur. Padahal potensi dan minat setiap manusia bersifat unik dan tidak harus diperlakukan sama, akibatnya terkesan dipaksa serta berdampak beberapa siswa akan bermasalah.
Kecerdasan majemuk (Multiple Intelegence) merupakan kecerdasan yang terbawa sejak lahir dan tidak dapat dibentuk. Profesor Howard Gardner adalah ahli psikologi dari Harvard Graduate School of Education yang memperkenalkan istilah kecerdasan multidimensi ini, melalui buku Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983). Ia meneliti bahwa pada setiap balita telah dibekali setidaknya tujuh kecerdasan sekaligus, berkembang sesuai umur, minat dan lingkungan si anak sehingga dua atau tiga bakat yang inferior akan lebih menonjol. Teori Multiple Intelligences dapat dimanfaatkan untuk membantu pihak sekolah agar lebih optimal mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik. Sekaligus melalui metode pembagian kecerdasan majemuk menurut Gardner, akan lebih merangsang minat siswa secara proporsional sekaligus memunculkan kemampuan sesungguhnya.
1. Kecerdasan Matematika (Reasoning Intelligence): Kemampuan deduktif, yakni kemampuan mengambil kesimpulan dari serangkaian fakta, berfikir analitis, mengurutkan rangkaian simbol menurut pola tertentu, serta mendapat hasil secara nalar melalui bukti empiris.
2. Kecerdasan Verbal-Linguistik (Word Intelligence): Mencakup semua kemampuan berbahasa, aktif maupun pasif. Sejak bayi telah sanggup membedakan sosok ayah dan ibunya, membentuk bunyi berupa kata berirama dan intonasi, kecakapan komunikasi lisan (auditory) maupun tertulis serta membaca, hingga memahami sekaligus berinteraksi secara berbahasa yang kompleks.
3. Kecerdasan Musikal (Music Intelligence): Meliputi kemampuan mengenal irama, ritme, ketukan, nada, serta unsur lain mencakup berbahasa musikal maupun secara teknis partitur. Gardner menyebutkan adanya hubungan paralel antara kecerdasan musikal dengan kecerdasan matematika saat membuat partitur sekaligus memadukan kecerdasan bahasa berupa lirik dan bait lagu.
4. Kecerdasan Gerak Tubuh (Body Intelligence): Kemampuan untuk memanipulasi mental, pikiran, dan tubuh guna memecahkan sebuah masalah. Cara umum yang mengasah kemampuan kinetik ini adalah melalui latihan motorik seperti olah raga, maupun game rumit namun disukai setiap kalangan seperti stimulasi gerak melalui PS3 maupun XBox.
5. Kecerdasan Gambar (Spatial Intelligence): Jika seorang anak dapat mengenali lokasi secara tepat, membedakan luas ruang tamu di rumahnya dengan posisi ruang kelas di sekolah, hingga pengetahuan geografis maupun memahami kondisi lingkungannya, inilah keunggulan yang bersifat spasial atau pemetaan serta gambar secara ruang tiga dimensi.
6. Kecerdasan Inter-personal (People Intelligence): Merupakan pengetahuan yang lebih kompleks meliputi pengenalan maksud orang lain, memahami gesture dan simbol melalui "body language", apa yang tersirat daripada yang tersurat. Sebuah kecerdasan tersendiri untuk berinteraksi, amat penting dikuasai oleh para pendidik maupun seorang yang berbakat "sales" pada umumnya.
7. Kecerdasan Intra-personal (Self Intelligence): Mencakup kemampuan mengenali diri sendiri, introspeksi, hingga kemampuan antisipasi dan meditasi. Tidak banyak orang yang sanggup melakukan empathi yakni kecerdasan menempatkan diri dalam posisi atau kacamata orang lain. Taraf utama dalam pencapaian kecerdasan yang cenderung spiritual ini lazim disebut sebagai kebijaksanaan.
Selaku pemerhati pendidikan, Howard Gardner juga menambahkan tiga kecerdasan tambahan yang baru ditulisnya pada buku Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century (1999). Sehingga terdapat 10 kecerdasan majemuk yang saling mendukung sebagai kesatuan, yakni kecerdasan naturalistic, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan eksistensial.
Aplikasi Mata Pelajaran Melalui 7 Kecerdasan: Bagi seorang guru, seni mengajar bukan hanya target menghabiskan materi panduan berdasarkan tuntutan kurikulum belaka. Melainkan ada kepuasan tersendiri selaku pendidik (digugu; bahasa Jawa) maupun menjadi teladan (ditiru) bagi para muridnya. Maka melalui teori pendidikan oleh Howard Gardner, mungkin dapat menjadi inspirasi saat memancing minat siswa dalam menyerap pelajaran. Misalnya dengan membahas sebuah topik pelajaran tertentu di kelas, dapat dijabarkan melalui tujuh contoh yang meliputi masing-masing minat siswa. Setidaknya siswa yang paling apatispun akan merasa dilibatkan karena telah memancing topik yang dianggap menyentuh minatnya. Berikut adalah contoh dengan menggunakan majalah VARIA sebagai topik khusus untuk dibahas di kelas.
1. Logika Matematika: VARIA adalah majalah yang terbit dengan isi halaman berjumlah kelipatan empat untuk kebutuhan percetakan, dalam tiap satu lembar format berukuran kertas A3. Maka tidak pernah ada cetakan VARIA yang memiliki isi majalah berjumlah 50 halaman.
2. Logika Bahasa: VARIA adalah majalah ekslusif milik SMA Sto Paulus Pontianak. Sehingga dapat dikatakan bahwa materi dan isinya adalah satu-satunya majalah di dunia yang telah menulis serta membahas mengenai kegiatan berikut tokoh yang terjadi si sekolah tersebut pada saat tertentu.
3. Logika Musikal: Sebetulnya mudah saja, jika VARIA adalah sebagai "trademark" sekolah Paulus, seharusnya juga memiliki lagu khusus yang mewakili slogan VARIA maupun lagu wajib SMA Sto Paulus. Namun logika musikal juga mencakup perkara seni bertutur, maka dalam dunia jurnalistik adalah berupa seni menulis, wawancara, meliput, melaporkan, dll.
4. Logika Gerak Tubuh: Yakni kecerdasan psikomotorik misalnya penggarapan majalah VARIA melalui kerja sama yang terdiri dari banyak pelaku dan relasi, koordinasi dan pembagian tugas, distribusi dan dokumentasi, serta tindak lanjut dari kecerdasan lainnya.
5. Logika Gambar: VARIA sebagai media tulisan, juga berurusan dengan ilustrasi dan gambar, mencari dan mencetak foto, desain font dan grafis, lay out dan editing.
6. Logika Inter-personal: VARIA adalah sebuah kerjasama secara kelompok maupun perorangan, yang terbagi sejak menurut bagian tim redaksi maupun sebagai siswa pelajar.
7. Logika Intra-personal: VARIA adalah media komunikasi sekolah yang menghubungkan masa lalu sebagai dokumentasi, masa kini berupa artikel yang relevan-aktual, serta masa depan yakni terbit kontinyu dan dapat memprediksi namun bukan meramal.(*)

Read more...

"Kebenaran Itu Sunyi, GIE!"

Soe Hok Gie
17 Desember 1942
16 Desember 1969
Nobody knows the troubles I see
Nobody knows my sorrow ..
'
Desember 15, empat puluh dua tahun lalu.
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis .. nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda".
Pemuda kurus berjaket kuning itu tengadah di tepi hutan Cemoro Kandang. Matanya sigap menyibak daun cemara, mengabaikan mentari senja, lalu lekat pada batu yang menjurai tertinggi di tanah Jawa. Sesaat bibirnya lirih mengumandangkan nada Donna-Donna, seolah menetapkan eksistensi sekaligus menepis kebisingan dan debu Jakarta. "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan, saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras .. diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur".

Pemuda kurus berjaket kuning itupun giat terjun dalam kancah peralihan penuh pergolakan di suatu rezim, cukup bersenjatakan pena serta mimbar menjadi panggung laganya. Memasuki periode 1965, ia dibesarkan sebagai mahasiswa yang harus menyaksikan borok pemerintahan Soekarno sekaligus dijadikan sasaran mengasah kritik tajamnya. Hingga meletus peristiwa G.30-S 1965, pemuda itu tetap bergeming untuk berposisi di luar garis sembari tambah kritis menuruti getar nurani. "Lebih baik terasing, daripada menyerah pada kemunafikan". Ketika itulah sebagian rekannya dan sesama aktivis menjelma menjadi anggota dewan sembari menikmati fasilitas negara. Ia muak namun tetap saja menulis serta menyapa karib sejatinya dengan menepi di puncak gunung, pilihan yg seterusnya kekal sebagai tunas Mapala UI.

Desember 16, empat puluh dua tahun lalu.
"Saya tidak mau menjadi pohon bambu, tetapi saya mau menjadi pohon oak yang berani menentang angin".

Pemuda kurus berjaket kuning itu tegar merambas hutan cemara seiring matahari senja, liat bak pohon oak merentang jarak. Langkahnya lekat mendaki bebatuan yang tertinggi di tanah Jawa, fasih selayaknya mencintai sesuatu secara sehat pertanda ia mengenal objeknya. Bibirnyapun masih melafal bait Donna-Donna bak mantera gunung yang khusuk ditujukan bagi puncak Semeru oleh pemujanya. Donna-Donna lebih dari sekadar balada baginya, yakni identitas seperti saat piringan hitam Joan Baez favoritnya disita di bandara Sydney karena dianggap pro komunis. Pohon oak itu berani menentang angin namun memilih nada lirih yang sanggup mematahkan pohon bambu secara sunyi.

Sunyi dan sendiri bagai sahabat sejati, merupakan pilihan dibalik bujukan kekuasaan berikut ketenaran. Arif Budiman, abang si pemuda itu lantas menerawang. "Di kamar belakang rumah kami, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik selalu suram karena voltase selalu naik turun, dan banyak nyamuk. Kadang saya terbangun dari tidur, karena terdengar suara mesin tik. Pasti Gie, dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu. Sendirian, masih mengetik karangan!". Sunyi dan sendiri, adalah harta sang peziarah ketika tidur beralas gunung beratap hamparan bintang. Begitulah pada Desember 16, empat puluh dua tahun lalu. Pemuda kurus berjaket kuning itupun merebahkan kisahnya tepat di usia 27 tahun kurang dari semalam, berselimut embun diiringi nyanyian cemara puncak Semeru.
Desember 17, empat puluh dua tahun kemudian, hari ini.
Mata pemuda kurus berjaket kuning lelah meredup tanpa ada ratapan. Ia tak perlu menangis karena sedih, termasuk kemarahan yang hanya sanggup membuatnya keluar air mata.

"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang .. makin lama semakin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti. Kritik saya tidak mengubah keadaan .. jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian."
(Soe Hok Gie; Catatan Seorang Demonstran, 1983)

Read more...

Sayangi Bumi

Posted in
Tuduhan Kalbar sebagai pengekspor asap tahunan serta keluhan dari negara tetangga kerap terdengar, walau korban yang paling menderita tentulah penduduk di sekitar lokasi pembakaran (hotspot). Banyak wacana dan upaya sudah dilakukan berbagai pihak untuk menangani asap. Namun masalah ini, sebutlah, sudah menjadi semacam tradisi hingga tetap berlangsung terus entah sampai kapan. Siapakah yang harus bertanggung jawab? Apakah peladang tradisional yang telah menjalani aktivitasnya sejak puluhan tahun tanpa masalah, ataukah para pemilik modal yang sanggup mengeksploitasi lahan besar-besaran?
Sesuatu memang sedang terjadi pada bumi kita secara global. Asap dan kebakaran lahan terus terjadi dimanapun setiap tahun. Entah berupa kesengajaan beberapa pihak untuk pembersihan hutan (land clearing), maupun faktor alam seperti musibah tiap musim panas seperti di Australia (bush fire). Serta berkaitan erat dengan efek rumah kaca pada atmosfir bumi, sehingga telah menyebabkan pemanasan global dan naiknya suhu udara. Fenomena tersebut sanggup merubah iklim dunia secara ekstrim dan berdampak masif. Naiknya permukaan laut akibat es kutub mencair, serta musim hujan dan kemarau tidak menentu yang berdampak pada banjir hingga kebakaran. Kadar oksigen sehat yang dibutuhkan oleh pernafasan semakin terdesak karena udara semakin tercemar.
Sebuah refleksi popular yang menggambarkan katastrofis pemanasan global, contohnya melalui apokaliptis fiksi ilmiah berjudul The Day After Tomorrow. Tidak ada hal indah dalam film produksi Hollywood tahun 2004 ini. Dominasi adegan dipenuhi kedahsyatan alam sebagai pemeran utama melalui terpaan gelombang panas, badai gigantik samudera Atlantik, siklus musim berubah drastis, hingga seluruh daratan berselimut es membeku. Bangunan pencakar langit tampak memucat putih, segala mahluk hidup tercekik suhu di bawah nol derajat celcius, hamparan es membutakan mata. Sungguh teramat pas dengan simbol patung lady Liberty yang tergeletak tanpa daya hingga terbenam salju sebatas dadanya. Alam sanggup memperlihatkan kekuasaannya di bumi.
Rata PenuhDiinspirasi dari rangkuman kajian berjudul The Coming Global Superstorm, film The Day After Tomorrow memang tak bermaksud menjual fiksi hiburan belaka. Melibatkan sejumlah ilmuwan termasuk pakar perubahan iklim Dr. Michael Molitor yang turut memprakarsai Protokol Kyoto 1997, untuk memberi masukan pada skenario film. Sementara rekaman sebagian besar adegan berupa rekaan kiamat berikut setting landscape dilakukan di Montreal, Kanada. Produksi kerjasama sineas dua negara itu seolah ingin merekam bencana sekaligus memperingatkan para pemimpin mereka, yang hingga kini masih keras kepala menentang isu dampak lingkungan. Amerika Serikat dan Kanada memang menolak meratifikasi Protokol Kyoto, bahkan nyaris memporak-porandakan agenda perundingan iklim Conference on Climate Change 2007 di Bali.
Menurut laporan ilmiah mengenai perubahan iklim (Intergovermental Panel on Climate Change), telah terjadi kenaikan suhu permukaan bumi. Berupa peningkatan berkisar 0,7 derajat Celcius yang berlangsung sejak revolusi industri di abad 18 hingga ke era millenium. Perubahan suhu yang menyebabkan terjadinya pemanasan bumi (global warming) dan memicu perubahan iklim (climate change) itu, telah dikhawatirkan ilmuwan Swedia bernama Svante Arrhennius sejak tahun 1894. Yakni saat revolusi industri berupa tumbuhnya pabrik sebagai pengguna bahan bakar fosil seperti gas alam, minyak, dan batu bara. Serta perkembangan pesat tehnologi transportasi modern yang menguras bensin sekaligus membuang emisi dari knalpot mobil, kereta api, hingga pesawat terbang. Hanya perlu waktu dua abad untuk merubah kondisi bumi berikut segala aspek kehidupan manusianya.

Bumi yang makin rentan dan sesak oleh pertumbuhan dalam hitungan milyar penduduknya, akan bereaksi secara alamiah atas tiap perlakuan. Sebagai pemberi kehidupan, ia akan memelihara dengan rasa sayang kepada manusia yang merawatnya dengan kepedulian. Bumi memberi oksigen melalui paru-paru dunia berupa hutan pedalaman Kalimantan, dan atmosfirnya membungkus aman setiap jengkal laut dan daratan dari terjangan ultraviolet mematikan. Bumi adalah alam, yang harus dimanfaatkan secara bijak oleh penghuninya yakni manusia. Namun ketika manusia semakin ceroboh saat mengeksploitasi bumi, hutan terus dibakar dan punah, polusi memperbesar lubang ozone, semua akan berujung kepada bencana.
Manusia memang dapat membunuh dirinya, berikut seluruh isi kehidupan di bumi. Alam dapat merana walau ia tak pernah murka dan balas menyakiti manusia. Maka manusialah yang harus bertindak, melalui sikap kepedulian dan lebih berpihak kepada alam. Tidak ada kata terlambat, mulailah memberikan rasa sayang untuk memelihara persada dan kehidupan. Ada banyak cara, hal sederhana seperti hemat energi, penghijauan, maupun program eco-trend berupa 3 R yakni Reuse, Reduce, Recycle. Siapa yang akan memulai untuk kebaikannya sendiri (*)

Untuk Majalah Varia Edisi Let's Go Green 2008
SMA Santo Paulus - Pontianak.

Read more...

Reduce, Reuse, Recycle

Posted in
Akhir-akhir ini, udara terasa makin gerah dan kering terutama di siang hari. Sementara kondisi malamnya bisa terasa dingin secara drastis. Apalagi saat musim kemarau tiba, ditambah gangguan asap dan kabut hasil pembakaran misalnya pembersihan lahan atau ladang berpindah di budaya Kalimantan. Sementara musim hujan terasa bertambah panjang yang mempengaruhi jadwal tanam dan panen para petani, atau nelayan gak bisa lagi membaca peta bintang untuk panduan melaut. Mengapa cuaca semakin gak menentu dan gampang berubah? Apakah berkaitan dengan fenomena pemanasan global yang khabarnya diakibatkan oleh efek rumah kaca? Apa kata dunia?
Istilah efek rumah kaca pertama kali disebutkan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan proses yang terjadi dimana atmosfer memanaskan sebuah planet. Istilah ini awalnya diambil dari cara tanam para petani di daerah beriklim empat musim, misalnya menanam sayuran atau bunga di dalam rumah kaca dengan suhu ruangan tetap terjaga. Penggunaan kaca atau bahan bening adalah berdasarkan sifat materi yang dapat ditembus sinar matahari, lalu akan dipantulkan kembali oleh benda yang ada di rumah kaca itu. Pantulan sinar akan berubah menjadi energi panas melalui inframerah, selanjutnya terperangkap di dalam sekaligus dibutuhkan untuk proses fotosintesis dan menjaga suhu ruangan. Rumah kaca juga digunakan agar suhu ruangan tetap konstan.
Serupa dengan bumi, dimana atmosfir adalah pelindung yang dianggap sebagai rumah kaca raksasa. Energi panas matahari yang telah dipantulkan ke permukaan bumi, seharusnya kembali lepas ke angkasa (stratosfer). Namun akibat terganggunya komposisi gas rumah kaca seperti polusi karbon dioksida serta metan dari emisi industri, transportasi, kebakaran hutan, hal itu dapat membuat "luka langit" berupa lubang ozon. Peristiwa ini telah berlangsung lama sehingga memicu terjadinya efek pemanasan secara global, yang berdampak luas terhadap perubahan iklim di seluruh permukaan dunia.
Salah satu pengamatan lain dari para peneliti dunia adalah semakin banyak gunung es abadi di kutub utara yang mulai pecah dan mencair. Akibatnya terjadi perubahan tinggi pada permukaan laut, yang beresiko dapat menenggelamkan sebagian pantai bahkan pulau-pulau kecil di seluruh dunia. Serta siklus alam semakin sering berubah dan berdampak pada kacaunya jadwal musim khususnya petani. Hal itulah yang menjadikan suhu siang hari terus meningkat, juga banjir semakin sering terjadi dimana-mana. Pemanasan secara global memang sebuah peringatan akan bencana dunia nan serius, berawal dari berbagai perubahan iklim secara drastis. Cuaca semakin sulit ditebak, manusia telah memulai perubahannya dan manusia pula yang harus menanggungnya.
Salah satu kegiatan paling sederhana adalah manusia harus kembali memperhatikan aspek lingkungannya, misalnya terhadap sampah sehari-hari. Pemerintah menggalakkan program mengelola dan menangani sampah dengan penerapan sistem 3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala pemakaian yang mengakibatkan sampah seperti penggunaan plastik. Dan Recycle berarti mengolah kembali atau daur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Mengelola sampah dengan sistem 3R dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja, serta tanpa biaya. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu dan kepedulian, namun berdampak besar dalam mencintai lingkungan. (*)

Untuk Majalah Varia Edisi Let's Go Green 2008
SMA Santo Paulus - Pontianak.

Read more...