Follow me on Twitter RSS FEED
Tampilkan postingan dengan label sting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sting. Tampilkan semua postingan

I.N.S.I.D.E (Pulau Kecil Di Kolam Besar)

Posted in
inside .. the doors are sealed to love
inside .. my heart is sleeping
inside .. the fingers of my glove
inside .. the bones of my right hand
inside .. it's colder than the stars
Dalam beberapa hari terakhir, aku sering mendapat telpon dari seorang sahabat, kebetulan pernah menjadi salah satu stafku. Seorang pekerja ulet dan temperamental, keras kepala serta memiliki keangkuhan tipikal bergelar Strata Hukum, namun loyal dan diistilahkannya sendiri, "militan". Saat pertama ia menghadap sbg dampak mutasi, reputasinya sudah santer kudengar sbg sosok bermasalah. Maka ia duduk sambil menatap tajam, kuingat kalimat pertamanya adalah, "Saya sudah mempelajari bapak dari beberapa sumber, semoga kita bisa bekerja sama dalam suasana baru". Halaaah .. salah satu beban dari amanat tugas nih, pembinaan, dimana separuh dari "pasukanku" yg berjumlah 20an telah berusia lebih tua dariku termasuk dia. Dalam beberapa minggu bertugas, kudengar ia pernah berkomentar di kantin, "Jika ibarat pernah kerja di salon murah bertarif lima ribuan, sekarang aku punya bangku sendiri di salon sekelas Rudy". Entah apa urusannya dgn salon dan legenda Rudy sang piƱata rambut mengingat tupoksi kerja jauh dari wangi dan kemayu, justru erat dgn perundangan berikut pengawasan penegakkan hukum di lapangan termasuk ragam resiko.
inside .. the dogs are weeping
inside .. the circus of the wind
inside .. the clocks are filled with sand
inside .. you'll never hurt me
inside .. the winter's creeping
inside .. the compass of the night
inside .. the folding of the land
Yang pasti ia selalu muncul di kantor sejak pagi, bahkan bosku sering kaget mendapati ia masih sibuk di ruangan hingga maghrib. Mengingat selama ini ia hanya muncul beberapa hari dalam seminggu, gak lebih dua jam per hari. Gayanya masih keras kepala walau gak terlalu mengumbar kapasitas hukum, maklumlah ia kini punya bos baru dgn level strata termasuk pemahaman hukum di atasnya yg justru jadi aset kebanggaannya. Seperti beberapa bulan kemudian, ia melapor telah "menggertak" salah satu pejabat di kabupaten yg pernah membicarakanku secara kurang pantas menurutnya. Berdampak aku perlu menelpon yg bersangkutan secara pribadi meski tindakan staf kutegaskan sudah benar. Lalu aku memberikan mainan baru, mengurus kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) perikanan se Kalimantan Barat sekaligus tantangan ekstra untuk dapat membawa salah satu Pokmaswas dari kabupaten ke level evaluasi nasional. Hasilnya, juara pertama nasional yg tak pernah terbayangkan selama ini, sekaligus menimbulkan dampak di luar dugaan yakni kecemburuan terselubung di ruanganku. Maka ketika ia duduk kembali di hadapanku sembari masih menatap tajam, salah satu kalimatnya adalah, "Alasan saya bekerja dan ada di kantor ini hanya karena dan untuk bapak, semoga tidak menjadi beban dan apapun yg terjadi saya akan selalu menjaga bapak!". Beberapa minggu kemudian, atau nyaris setahun menjadi stafku, datang sepucuk surat dari Badan Kepegawaian Daerah yg menulis namanya untuk dipindahkan dari kantorku.
  
inside my head's a box of stars,
i never dared to open ..
inside the wounded hide their scars,
inside this lonesome sparrow's fall ..
inside the songs of our defeat,
they sing of treaties broken
inside this army's in retreat,
we hide beneath the thunder's call
Aku ingat sewaktu usia 12 tahunan dulu, ada kolam besar di belakang rumah. Terasa besar seperti danau mini bagi ukuranku saat itu, kedalamannya lebih tinggi dari badanku saat berenang yg berarti 2 meteran. Di kolam itulah jadi ajang rendezvous sepulang sekolah, kebanyakan para anak tetangga sekampung yakni pencari rumput bagi kerbau yg bahkan sering memandikan piaraannya di tepi kolam. Maka akupun paham bahwa kerbau ternyata suka berendam bahkan berenang bareng hilir mudik tanpa tenggelam. Tentu salah satu sahabat sekelasku ikut gabung setelah nyaris tiap sore bersepeda dan berujung nyebur bareng di kolam, namanya Ganis alias Arie Ganisha Putra. Hal menarik dari kolam adalah sebuah gundukkan tanah menyerupai pulau di tengahnya, persis Samosir di tengah Toba skala mini. Tempat favoritku bareng Ganis mendaki pulau lantas berbaring telanjang dada berbantal lengan beralas rumput, menatap langit dan ngalor-ngidul tanpa henti nyaris tiap sore. Namun sesungguhnya, aku lebih senang sendirian setelah berenang lantas menaiki pulau untuk rebahan sembari diam saja. Aku memperoleh teritorial berikut kebebasan nan sentosa, hanya ditemani kesendirian namun begitu mewah. Aku cukup berdialog dgn diam, kolamnya tenang menyimak serta pulau itupun mengamini dalam bisu. Segalanya hening tapi gk diam, aku sendiri tapi gk sepi. Kami sering bertukar dialog termasuk membicarakan si Ganis yg sering kencing di pulau itu, atau tergelak berupa angin yg menghempas beberapa pohon kecil hingga menimbulkan riak gelombang kolam. Sehingga aku mulai merasa, setidaknya mendapatkan kedamaian, bahkan meyakini jika pulau itupun menyukaiku. Mungkin ini yg disebut mutualisme, keyakinan terhadap hakekat komunikasi.
  
outside .. the rain keeps falling
outside .. the drums are calling
outside .. the flood won't wait
outside, they're hammering down the gate
Pulau kecil seukuran lapangan Badminton di tengah kolam besar, di halaman belakang rumahku saat di Ketapang. Adalah sahabat terbaik saat sendiri, bukan cuma tempat singgah setelah riang berenang maupun pelampiasan gundah sepulang sekolah. Sejatinya persahabatan, bukankah selalu ada untuk menemani termasuk menerima betapapun konyolnya, bukan? Walau hanya membisu dan saling berpelukan diam. Dengarkan saja si pulau mengisahkan tentang gerimis semalam saat membasuh kolam, langit terang yg menyimpan kehangatan saat kutiduri beralas lengan. Termasuk makna terbesar yg pernah kudapat berupa rasa kehilangan, ketika aku harus pindah rumah bahkan menuju pulau baru yg lebih besar serta menyeberang samudera. Aku harus meninggalkan segala aset berharga berikut ritual dan segala komunikasinya, walau semua kulakukan secara diam-diam. Aku, pulau kecil dan kolam besar, telah terbiasa hening tapi bukan pendiam, selalu sendiri tapi gk pernah sepi. Aku yakin, kalaupun pulau kecil di kolam itu masih ada sekarang, mereka akan tetap hening. Begitupun seandainya kelak aku berkunjung ke Ketapang dan menemukan kolam berikut pulaunya, kami akan tetap saling membisu berikut menjajagi perubahan. Namun yg selalu terus kuingat, aku memang pernah teramat kehilangan saat itu pada kolam berikut pulaunya. Kenangan dan perasaan yg semestinya jauh lebih baik.
love is the child of an endless war
love is an open wound still raw
love is a shameless banner unfurled
love's an explosion, love is the fire of the world
love is a violent star .. a tide of destruction
love is an angry scar, a violation, a mutilation
capitulation .. love is annihilation
"Saya sedang tugas dinas ke Kementerian Dalam Negeri, berkat segala dorongan dan keyakinan bapak. Saya semakin paham dgn cerita tempohari mengenai ikan besar di kolam kecil, saya sedang merasakan dan menjalaninya sekarang. Mohon maaf jika sempat membantah karena merasa bapak hanya berniat menghibur, tetapi yg saya alami saat ini seperti mimpi tak terbayangkan. Bapak telah menjadikan saya ikan kecil di kolam besar, akan selalu menjadi motivasi untuk lebih baik lagi. Sekali lagi maaf saya gak bisa telepon lama, maklum baru kali ini bertugas resmi ke Jakarta. Oya pak, ada salam dari bos saya, rupanya beliau teman baik bapak juga. Selamat malam pak", akupun menutup selularku setelah membalaskan salamnya. Sebetulnya malam ini perlu istirahat panjang setelah seharian menemani salah satu Direktur dari Kementerian untuk bertemu seorang Bupati, dan besok harus menyambut kunjungan kerja seorang Menteri. Tapi gak ada salahnya mengabadikan salah satu kisah hari ini, demi kenangan dan perasaan yg semestinya akan berdampak menjadi baik. Semoga seterusnya .. 
love me like a parasite,
love me like a dying sun
love me like a criminal,
love me like a man on the run
-duke-

Read more...

Saat Bulan Di Atas Pontianak

@Ruang Studio (Jam 22.13)
[Announcer]:Well, sobat muda La Palomania .. jumpa lagi bareng Garfield di balik perangkat siar yg selalu menemani dari seputaran jalan Irian. Gimana khabar anda dan .. heiii guess what, ternyata Pontianak tercinta pada kali ini sedang bermandikan cahaya purnama! Apa saja yg bisa dikisahkan lewat suasana sakral begini? Namun pastinya untuk 2 kali 60 menit ke muka di edisi Rabu pekan terakhir bulan ini, bakal meluncur seabreg koleksi asik mengisi paket ritual mingguan .. kita buka semangat musik pembebasan .. Jazz Online!

Kidjoe sang operator membuat kode mengangkat jempol sembari menggeser track mike down, beralih line 3 dan 4 dan player mengangkat Freedomland milik Yellowjackets. Garfield mendengus pelan saat melepas headphone sambil melirik jam, lebih 8 detik dari opening tune Child Anthem yg nyaris jeda. Kidjoe memperhatikan lalu beranjak dari panel mixer setelah merubah switch mikrophone off. Ia menunjuk tumpukkan CD yg tergeletak, Garfield mengangguk sambil meraihnya, "Thanks Joe!", tanpa bersuara. Ada setitik keringat di dahi meluncur, menjadikan mulut sejenak asam. Terkadang yg bikin nikmat saat siaran di shift terakhir begini adalah kebebasan boleh merokok walau AC studio kudu dimatikan. Maka begitu gerakan meraba saku celana terlihat oleh Kidjoe, iapun maklum ritual berikut. Artinya untuk dua jam lagi studio mutlak dikuasai Garfield serta pintu kedap ganda sengaja dibiarkan terbuka, sekaligus menghalangi stiker "No Smoking" di kaca sebaliknya. Setelah menggeser asbak, Garfield meraih Log Book memeriksa list songs di sesi pertama. Pada manual skedul tertulis "rutin", berarti gak ada paket sisipan maupun add lips khusus. Jadwal iklan malam ternyata sudah dicicil sang operator saat peralihan waktu, maka 45 menit awal dapat disusun aroma Jazz tempo cepat sebelum masuk ke topik mingguan. Tema yg sudah disiapkan adalah khasanah Jazz yg sukses mendaur ulang karya lawas, misalnya Cantaloup, Groovin High, juga Birdland versi vocal Manhattan Transfer. Garfield mencopot bandana sambil mengurai rambutnya, meraih kantong jaket dan mengeluarkan CD Digable Planets, Arturo Sandoval termasuk album Casiopea format konser bertajuk World Tour'88 untuk menambah noise.

[Announcer]: Absolutely this night will be wild guys! Kita naikkan tensi untuk menari di bawah purnama, tensi dimana Jazz bergelora, tensi yg mengiringi peradaban sejak purba hingga mengenal musik berselera .. Sobat muda, even today .. since since someone started looking for something at the sky and after they walked on the Moon to know exactly what it is, it continues to be and always will be a great inspiration to all of songwriters across the world to make beautiful songs. Dan salah satunya datang dari Jepang yg punya cerita tentang seorang puteri, beri waktu untuk Casiopea yg penuh gemuruh saat mereka tampil di pentas London .. Princess Moon.

Garfield menikmati sensasi konser lewat volume optimal via headphone, asap bergulung di wajahnya membentuk ilusi. Semacam preparasi mendaki untuk memasuki twillite zone, ekstasi yg selalu dinikmatinya tiap awal siaran. Euphoria itupun terus merasuk dan dituntun silih berganti dgn rangkaian Colibri dari Incognito, menurun lewat running piano Andrew Previn untuk digeber lagi Why Not versi Michel Camilo. But hey, kemana nuansa lagu2 terinspirasi bulan yg tadi sempat disinggungnya? Kenapa tidak, jika topik kali ini khusus untuk membahas tentang purnama saja? Lagian malam ini memang terasa gejala gak biasa, ketika siluet wajah itu masih tak mau lepas sejak sore tadi. Malah jadi liar berkeliling di seputar bilik studio, bahkan mulai menari berloncatan ke atas mixer. What a hell? Ada sebentuk raut berambut panjang dgn garis bibir nan bagus, berkelebat menggurat bayangan kelam serupa kulit tubuhnya yg memang legam dipadu tatap mata yg kini jadi dirindukkan Garfield. Setitik keringat yg tadi mulai membentuk garis bening di dahi Garfield, terasa dingin dan reflek mengundang buat mengacak rambut tanpa gatal. Gerangan apa sih yg sanggup membagi perhatian, terlebih saat sedang on air begini? Garfield yg terbiasa percaya diri dan penuh kontrol saat siaran, bahkan kebakaranpun gak mungkin sanggup menghentikkan laju acaranya, konsentrasinya sejenak bercabang. Bahkan Kidjoe merasa perlu untuk mengetuk kaca pemisah ruang operator lantaran kodenya gak ditanggapi si penyiar, All Over You teriakan Mark "Level 42" King semakin sayup pertanda Garfield harus segera menyambar mike.

@Ruang Studio (Jam 22.56)
[Announcer]: Beberapa rangkaian nomor pemanasan menuju topik pekan ini, maka sobat muda akan saya ajak ke dalam suasana malam yg justru terang benderang. Bukan lantaran amit2 ada kebakaran di rumah tetangga atau bangun tidur kesiangan, namun suasana purnama yg sedang coba kita nikmati seperti saat sekarang.There is a full moon outside and it is especially stunning to me. Just look and it is huge, bright and shining though the windowpane, how about yours sobat muda? The moment got me thinking about songs that have been inspired by the moon, and believe me ada termasuk beberapa khasanah Jazz yg nanti akan meluncur. In fact, songs about the moon probably go back to the very first humans to ever write songs. Although we never hear those early compositions, but we have thousands of modern moon songs to choose from. Sudah pada nonton film Interview With The Vampire 'kan? Film adaptasi novel lawas berjudul sama ini ternyata favoritnya Sting. Konon waktu sahabatnya Andy Summers si gitaris The Police pernah meminjamkan buku Interview With The Vampire, Sting lantas berminat membuat satu lagu. Idenya dicampur saat ia sering jalan malam di Bourbon Street, lalu seolah ada yg membayangi langkahnya secara misterius. Mestinya sih diikuti vampire sesuai ide dari buku, tapi kemudian dirubahnya jadi manusia serigala biar gak kena kasus penjiplakan. So, it's not about vampire but werewolf under the moonlight, that's why Sting is howling like a wolf at the end of his song. Sobat muda, berikut dari album Dream Of The Blue Turtles tahun 1985, sahabat kita Sting.

Sejenak musik merayap khusuk, tapi perhatikanlah Garfield .. bukannya terbawa suasana namun hitunglah sudah beberapa kali menghela nafas tanpa sadar. Kayaknya asli memang lagi gak sadar alias eror. Kali ini Kidjoe gak pakai ketuk kaca, tapi langsung keluar ruang operator untuk menepuk pundak Garfield di ruang studio, "Ente kelamaan ngocehnya, boss!". Saking gak sadarnya, Garfield gagal terkejut ditepuk mendadak, "Gwe emang gak konsen nih Joe, sambung satu lagi deh .. terserah ente". Runyam, berarti Kidjoe gak boleh melanjutkan protesnya, lalu menggeser bandana Garfield yg tergeletak lalu pura2 ngacak kantong CD nyari lagu improvisasi tambahan. Sinyal telepon masuk berkedip non stop, luput dari perhatian mereka bahkan gak digubris. Biasanya ada interaktif jika si penyiar mengundang, atau sekedar request. Yang terjadi Garfield makin tertunduk seolah memperhatikan sesuatu sedang menari di pojok kaki bangkunya secara lesu seperti mawar direndam yodium. Berkelebat senyum dari bibir bagus itupun merebut gairah siarannya, Kidjoe tanpa paham kisahnya lalu melanjutkan Sting secara gak nyambung dgn George Benson favoritnya yakni Love Of My Life. Garfield terus menunduk gak ngaruh, Kidjoe sok prihatin, "Goblok macam apa sih yg diperbuatnya kali ini?", pikirnya.

@Kamar Tidur (Jam 23.07)
Dearest Diary, lama gak ketemu ya. Malam ini lagi ada cerita seru, soalnya dari sore tadi perasaan malah berdebar terus. Tau mendebarkan kan? Yang heboh gitu loh. Jadinya rada repot nulisnya, tapi gimana lagi dong. Secara hati ini sudah loncat gak keruan. Asal janji gak diketawain aja, Chetos mo sharing ama Dy. Sebetulnya pengen dari kemarin, but ragu aja .. Inget gak doi yg sekarang sering jemput Chetos habis les Inggris, walau mama blon tau. Awas jangan ngadu deh. Tadi kita mampir di es krim .. Eh bentar, denger radio dulu yuk kok ada lagu Love Of My Life ni? Udah tau kan, itu lagu favoritku tuh. Kok doi paham yag, padahal gak pernah pesen loh apalagi acaranya Jazz gini. Dy, kalo diperhatikan bener, walau kesan angkuh dan rambutnya gak kayak diurus, tapi care loh. Trus kalo naik motor emang sengaja gak mo pake helm, alasan buat pake bandana dan bebas ngobrol katanya. Koq bisa dia baik bener ama Chetos? Trus katanya besok mo ngajarin naik motor gedenya itu. Asik kan, blon pernah ada ceweq di sini yg berani naik motor gede. Dia juga mo nurut, kalo bonceng Chetos gak boleh sambil merokok kayak tadi sore. Kebayang deh klo sampai abu rokoknya terbang ke belakang bikin kelilipan, amit2. Makanya kalo boncengan Chetos mau aja diminta peluk pinggangnya, lagian bangku belakang kan tinggi bener. Gak apa kan, sebetulnya sih biasa aja kalo bonceng motor pegang pinggang kok. Trus pas brenti depan rumah, dia mulai suka ngacakin rambutku. Biar jadi kode kita saban pisahan, gitu katanya .. lucu yag

@Ruang Studio (Jam 23.49)
[Announcer]: Jika bulan berikut sensasi purnamanya begitu akrab dgn kita manusia, diyakini bahwa bulan memang memiliki pengaruh signifikan bagi bumi maupun kehidupannya. Secara fisik telah diuji bahwa magnet bulan mempengaruhi pasang surut muka lautan di bumi secara periodik. Sementara psikis diyakini dapat mempengaruhi mental hewan, dimana homo sapiens termasuk di dalamnya, contoh yg popular dikenal adalah berkaitan dgn libido serta emosional bawah sadar. There is much term associated with the Moon including it's responsible for insanity, thus the words lunatic adalah gejala penyimpangan jiwa bahkan lewat mitos seperti manusia serigala. Apapun fenomena terkait dgn bulan rupanya menjadi ilham tersendiri bagi para seniman termasuk pencipta lagu dan musisinya, pada konteks inilah topik acara ini dikemas. Bulan dapat terkait dgn Jazz, most certainly songs were sung even then about this mysterious object in the sky. Ok, this playlist includes my personal picks for the popular Moon Songs ever recorded. Setelah kita lewatkan Man On The Moon milik Trio Rio, lanjut pada rombongan Manhattan Transfer yg berkisah tentang harapan melalui How High The Moon ..

Garfield terkesan mulai adem walau pandangannya tetap suntuk. Asap rokok secara tanpa martabat makin pekat bak foging yg bikin tiap nyamuk dan kecoak studio pingsan. Namun tutur narasi Garfield mulai standard dan back to topic, termasuk ngomel juga lantaran ngeh lagu George Benson pilihan Kidjoe mengudara. Serta dampak dari segala jungkir balik peristiwa siaran kali ini adalah betapa kejamnya Garfield membiarkan sinyal telpon berkelap-kelip tanpa jeda nyaris sejam. Kalaupun pas doi tau ada sinyal masuk, cuma dilirik tanpa selera. "Setelah berabad-abad cinta Jazz dan demi reputasi siaran selama dua taon, koq malam ini bisa dibajak oleh selera cengeng sih? Mirip disiksa pake lagu Kenny G aja", batin Garfield sembari komat-kamit meremas bandananya. Rupanya ada terjadi tubrukan arus proton negatif dgn ion positif menjadi voltase sarap pada otak kecil, berefek korsluiting ringan hingga menohok simpul raganya. Ulu hatipun menanggung dampak mual, perih, kembung serta segala gangguan perut. Semua berlangsung cepat dan nervous seolah berkejaran ala akrobatik vokal Janis Siegel cs, Garfieldpun memberi kode agar Kidjoe langsung masuk bareng It's Only a Paper Moon versi klasik milik Ella Fitzgerald. Hingga akhirnya sekitar 4 menit to midnite tanpa ciri khas berupa closing tunes, Garfield mengenyahkan rokok untuk menyampaikan petuah akhir.

[Announcer]: Boleh saja diyakini, jika dunia berikut kehidupan kita ini bakal berbeda tanpa rembulan. 'Pun sulit diterima jika peradaban gak pernah kenal kalender dan sistem bulanan, apalagi malam yg melulu gelap tanpa purnama. Namun yg wajib diyakini adalah mustahil membahas Jazz tanpa melibatkan sang diva Ella yg masih sayup terdengar, serta atas segalanya adalah pantang bagi sobat muda jika melewatkan Rabu malam tanpa Jazz Online! Melalui topik Bulan di Atas Pontianak includes my personal playlist also anykind stories about particularly Moon Songs, semoga terus memupuk kecintaan plus apresiasi kita terhadap suara peradaban bernama Jazz. Itulah kemampuan yg sanggup mengimprovisasi sesuatu bernama bulan menjadi beragam sebutan seperti Moon, Phobe, Artemis, Thoth, Tsuki-yomi, Chetos .. uhk .. (Garfield spontan tersedak, sejenak leher tersumbat dan mata perih membuat berkunang-kunang .. Kenapa jadi menyebut nama itu? Apa ada telepati terkirim melalui purnama?) Kita lanjut sobat muda, sekaligus salam buat Chetos deh yg bikin saya batuk barusan .. lalu ada Selena, Nana dan akhirnya lewat pamungkas Joe Sample dari album Spellbound. Selamat malam sobat muda, salam Jazz beserta rembulannya, Luna En New York and .. ciaooo

@Kamar Tidur (Jam 24.01)
Tuh kan Dy, dengerin dia kirim salam buat Chetos. Mo telpon dulu ah, katanya dia ngasih hadiah spesial. Bye Diary ..

@Ruang Studio (Jam 23.09)

Garfield menggeleng sambil membereskan CD tapi Kidjoe nekat memaksa, "Penting nih, katanya!!", Kidjoe mengulurkan gagang telpon sambil nyengir tanpa dosa. "Yeep ..!", Garfield masih gak mood, apalagi telpon menjelang midnite biasanya iseng gak jelas. "Heeei, thanx ya lagu Bensonnya .. tapi koq gak sebut buat kamek?", suara yg akhir2 ini mengganggunya kini malah nyerocos, Garfield menahan batuk belagak cool. Kidjoe menyingkir bersama tumpukkan CD ke ruang diskotik. "Kayaknya kok malah gak tau ada lagu Benson tadi", Garfield menyoret tanda siaran di log book kemudian senyap dgn jeda hening sekitar 15 detik setara dua sedotan panjang terakhir. "Knapa sih, marah ama Chetos ya?", suaranya jadi lirih. "Gak laah .. ngantuk sih", Garfield ngeles sambil gagal mengenyahkan raut di senyum bagus itu. "Ngantuk apa suntuk tuh?", sekelebat bayang berambut panjang dgn tatapan lekat yg semestinya dapat ia raih. "Besok es krim lagi yuk, udah itu baru belajar motor", suara itu terus menghampiri namun harus ditepisnya, Kidjoe memberi kode mematikan pemancar. "Ntar dikabarin deh, udah mesti tutup nii .. bye", Garfield sesak sambil menginjak rokok baru yg bahkan belum sempat dinyalakan. Garfield menghimpun nyali dan butuh oksigen segar, meraih bandana lalu menyusul Kidjoe ke teras studio. Bagaimanapun harus dituntaskan, "Gue nitip bandana, buat adik ente. Thanks Joe!".Garfield langsung menunggangi motor dan meraung membelah malam di jalan Irian. Sekaligus lupa kesekian kali helmnya selalu tertinggal di samping studio, meninggalkan Kidjoe yg termanggu. "Pantes kayak kenal suaranya, Chetos itu berarti emang adek ane", gumannya dan tengadah ke langit terang. Taburan kerlip bintang mengawal hikayat purnama kesekian kali, kisah usang terus berulang di tiap insan sepanjang jaman. Chetos merentang lebar tangannya, sekeping purnama menerobos tergeletak di tepi ranjang, ada diary dan tumpukan buku kelas 2 SMP.
Luna en New York ..
Alumbrado neustro amor
Solo tu Y, yoo ..
(Pontianak-Des'94)

Read more...

Gampang Lupa (Fragile)

Posted in
if God is dead and an actor plays his part ..
his words of fear will find their way to a place in your heart
without the voice of reason every faith is its own curse
without freedom from the past things can only get worse

Baru-baru ini di satu TV Swasta Indonesia, ditayangankan berita penjualan bahan makanan kadaluwarsa di pasar Wates Cirebon. Hal yang juga pernah terjadi di Kalbar terutama terkait isue komoditas yang diselundupkan dari negara tetangga secara illegal. Transaksi terjadi secara terang-terangan serta (tentu) dgn harga dibanting, jelaslah diperuntukkan bagi konsumen kaum jelata serta masif.

Ketika diwawancara reporter, seorang wakil konsumen mengatakan hal ini sudah biasa dan mereka gk lantas jadi diare, terlebih yg penting harganya murah. Padahal jelas saat di close up, makanan yg dibeli tsb telah ditempeli jamur. Potret yg bukan lagi menyoal 'kemurahan', tapi perihal biang penyakit. Maka jauh untuk menakar kadar kualitas apalagi kandungan gizi, sebagai asupan nutrisi dari tinjauan aspek lahir termasuk sensasi bathin.

Gak lantas tulisan ini bermaksud nyinyir ato mendadak kritis di antara belantara kemiskinan dan busung lapar. Maupun memancing keriuhan diantara beragamnya bencana termasuk penurunan daya beli, demo yg semakin gak jelas lalu ditimpa semerbak ajang sepak bola. Jika pemberitaan telah menjadi komoditas termasuk tunggangan bagi yg berkepentingan, terkadang perlu awas saat mengunyah informasi. Bukankah sudah jamak, misalnya berita kenaikkan BBM atau perkara berkaitan hajat banyak terjadi di bulan puasa. Selain aspek waktu yg mayoritas dianggap pas untuk menahan emosi dan perut, juga bakal diikuti ritual2 kelanjutan yakni heboh mudik dan antri.

Hal ini berlangsung terus dan berulang, sehingga sebetulnya bukan lagi soal fenomena walaupun tetap aktual sbg komoditas pemberitaan. Maka gak perlu pula jadi skeptis jika kebanyakan konsumen menjadi imun atau kebal terhadap segala isu dan dinamika, berlaku secara umum buat si penerima berita maupun sang pelaku dan yg tengah jadi objek pemberitaannya.

Nah, imunisasi ato proses kekebalan ini terjadi secara periodik, gak lantas nongol pada dampaknya. Biasanya dimulai dgn stadium mual, lalu diikuti sindrom cuwek, sebelum akhirnya jadi keracunan akut. Kondisi ini berlaku umum serta nyatanya sungguh relevan dgn berbagai isu, serta terus berulang mirip gelombang tsunami berikut kisah pilu penderitanya.
Mari belajar lagi ke contoh makanan, sederhananya ada 4 kriteria yg boleh disebut konsumsi yg berbahaya atau mengancam konsumen:

1. Makanan (dan minuman) kadaluwarsa,
2. Makanan olahan dgn zat pewarna non-makanan,
3. Makanan menggunakan bahan pengawet terlarang,
4. Makanan pada kemasan bahan berbahaya.

Tentu dapat dimaklumi jika pewarna tekstil yg nge-jreng serta awet tsb telah ikut campur saat dicampur sekaligus mewarnai aneka menu sarapan. Selanjutnya akan nimbrung ke dalam lambung yg pasti gak sanggup menguraikannya, sehingga sukses mengakibatkan gagal ginjal bahkan kangker lever. Jangan lupakan pula menu formalin dan borax yg pernah dan selalu jadi primadona di era serba instant dan komoditas yg mengandalkan kemasan *biar tampak 'lucu' selalu dan untuk segar disantap* ini. Jadilah paket kemasan yg 'berselera' sekaligus murah.
Alam telah mengutus lalat si binatang jalang sbg katalisator, tapi merekapun ogah hinggap di makanan jenis ini. Mungkin mereka paham betapa gawatnya minyak penggoreng jajanan yg bersifat karsenogin. Ditambah unsur pembungkus makanan agar mentereng dan trendy pada styrofoam yg maksudnya agar tetap panas, lantas dicetak pula logo diatasnya namun ternyata mengandung Plumbum (timah hitam) pada pembungkusnya itu.

Jika segalanya telah disajikan siap masuk mulut, gak ada bedanya dengan setiap informasi yg akan masuk buat kepala. Apalagi dalam kondisi lapar dan dahaga, kadang naluri plus insting yg bakal lebih mendominasi, yakni 'Bagaimana agar tetap survive dan eksist!'. Itupun selama yg disebut 'makanan' masih menjadi konsumsi primer, termasuk menulis di berbagai blog dan milis ehehee

Padahal makanan bukan sekadar nutrisi bagi hayati, namun konsumsi buat kekayaan hati dan nurani. Serta kesemuanya memiliki tujuan dan alasan sama, 'kepentingan memelihara status dan hidup jangka lama'. Walau kadar pencernaan tiap orang berbeda, ada yg gampang diare kalo ketemu karedok, atau gampang sewot saat dihadapkan topik yg bernuansa agama misalnya. 'Jangan dicampuri akidah', itu alasannya.
Jadi rupanya, makananpun bisa mencerminkan siapa si pencernanya. Perkara yg disadari betul di paham gastronomy serta para kuliner. Sekaligus peran para koki termasuk peraciknya turut ambil kepentingan, untuk melempar komoditas yg disebut *layak santap* dan laik jual serta termasuk di sebut di atas adalah jeli melihat musim, dst.

Namun apapun itu, kembali mengacu pada empat jenis makanan yg semestinya gak layak konsumsi, memang nyatanya bisa menyebabkan penyantapnya gampang lupa. Entah memang sengaja dijual ke publik maupun gak sengaja termakan menu santapan dari racikannya sendiri. Maka 'gampang lupa' boleh diindikasikan sbg stadium tertentu sbg akibat mengkonsumsi makanan limbah, maupun peraciknya sendiri. Gampang lupa, misalnya kapan terakhir peristiwa gunung meletus. Indikasinya jelas, selalu penanganan terlambat atau seolah gak pernah terjadi sebelumnya. Sementara slogan mitigasi atau pra bencana hanya jadi kiasan karena memang dianggap gak punya prospek bernilai proyek.

Lalu biasanya ketika menjadi gampang lupa, akan gampang luka. Lupa bukan perkara alamiah maupun hukum alam, melainkan dampak luka yg dibuat secara terencana dan sistemik. Jadi gak heranlah kalo Sting pernah bernyanyi, "History will teach us nothing".

our written history is a catalogue of crime ..
the sordid and the powerful, the architects of time
the mother of invention, the oppression of the mild
the constant fear of scarcity, aggression as its child
-duke-

Read more...