Follow me on Twitter RSS FEED

STREET KINGS [2008]

(+)Captain Biggs: Patroli malam lagi Tom? Kalian berdua makin sering keliaran akhir-akhir ini ..
(-)Tom Ludlow: If you're going to do something, do it now. Jika kau memang mengincarku, but who's going to go in where the law won't? You captain? Sanggup memberantas semua narkoba dan beresin mayat bayi? No, you need me .. and my company of men. You hate me but you need me.
(+)Captain Biggs: Ludlow, maybe you're right. Maybe we do need you. But detective, pernahkah kau berfikir jika Wahington mati karena he was dirty, or because he came clean?
BAD-COP GOOD-COP: Memang ada banyak kekhawatiran, seiring banyaknya tiap persoalan yg selalu terjadi di sekitar kita. Justru semakin mengkhawatirkan jika segala persoalan itu sudah gagal menjadikan seseorang khawatir, pertanda awal dia kehilangan kewaspadaannya. Namun mengapa sebuah kekhawatiran bisa menjadi ditumpulkan, bukan karena kehilangan waspada saja. Salah satu gejala yg membuat kewaspadaan bisa dikendalikan adalah campur tangan pihak lain yg bisa dipercaya sekaligus masuk untuk menyetel kadar kekhawatiran seseorang. Misalnya pada sebuah kondisi statis, adalah ancaman bagi anti kemapanan. Maka ia akan menyusupkan oknum atau isu bahkan teror untuk menggoyahkan stabilitas. Dalam segi positif, dinamika itu dapat membangkitkan kewaspadaan semacam "wake up call" atau booster pendobrak kemapanan yg berpotensi membuat terlena. Contohnya tim Barcelona sesekali perlu kalah bahkan dari tim gak jelas di ajang berdurasi panjang (liga), namun saat laga berikutnya ngamuk dilampiaskan menghadapi laga krusial pada turnamen jangka pendek seperti liga Champion atau piala dunia. "Kekalahan itu baik, bagian dari proses evaluasi maupun penting selalu mengingatkan agar kaki tetap berpijak di tanah", ujar Pep Guardiola.
Namun jika kebablasan menjadi chaos berdampak destruktif, akan menjelma jerat lingkaran tanpa ujung yg malah menyeret kembali ke hukum rimba. Termasuk kemunculan tokoh sok misterius yg seolah tampil sbg penyelamat yg mungkin saja sebetulnya dalang dari sumber kondisi ini, lalu diimbuhi permainan "bad-cop good-cop" sesuai kebutuhan. Istilah "bad cop" sesuai terjemahannya menjadi "polisi buruk", mewakili peran antagonis bersifat intimidatif. Sedangkan "good cop" tampil sbg figur kooperatif dan memberikan empathy, keduanya umum digunakan saat menginterogasi tersangka proses penyidikan polisi. Jika dalam proses awal interogasi tidak berjalan lancar, skenario ini akan digunakan. Tersangka akan "dicuci otak" oleh "bad cop" berupa pertanyaan vulgar berikut resiko terberatnya berupa intimidasi fisik maupun mental. Jika interogasi ini gagal, dimainkanlah peran kedua dgn menampilkan "good cop" secara persuasif bahkan terkesan memihak tersangka. Pendekatan "good cop" biasanya lebih sukses karena lebih mengutamakan akal termasuk perasaan setelah dibuat trauma fisik sebelumnya.
"Bad-cop good cop" juga digunakan dalam konteks umum lain misalnya dalam sistem penyelenggaraan negara hingga keutuhan sebuah rumah tangga. Ketika masyarakat ditekan lewat kenaikkan harga BBM atau teror fisik, kondisi itulah saat ideal bagi opportunis atau pemimpin menunjukkan kendalinya. Begitupun saat bapak dan ibu mengatur peran dalam mengatur keluarga, maka ada anak yg punya penilaian bahwa bapaknya baik tapi pelit dan ibunya bawel tapi royal. Terminologi komunikasi menyebutnya "pengalih perhatian", atau "manajemen konflik" dalam konteks organisasi. Ketika ilustrasi demikian diangkat ke layar sinema, mungkin ribuan skenario sudah pernah mengisahkan dalam tiap judul berbeda namun permainannya selalu berulang dan relevan. Maka untuk dijadikan sajian menarik memang harus ada konflik yg walau relatif seragam, tapi lewat pemecahan hingga ending skenario yg membedakannya. "Street Kings" menawarkan cara meresapi kerasnya kehidupan dari kacamata polisi yg harus menguasai tiap pelosok jalan. Mereka sesungguhnya tak pernah lelap, konspirasi di lingkungan kantor hingga drama jalanan yg tak pernah tutup. Street Kings dapat menunjukkan apa, siapa dan bagaimana menjadi penguasa yg sebenarnya.

SYNOPSIS: Tom Ludlow (Keanu Reeves) detektif LAPD, spesialisasinya kasus susila namun terlibat sbg bagian dari kesatuan elit yg terpilih secara ekslusif pada misi "underground" dan direstui serta dilindungi atasannya. Disinilah sebuah kerajaan dibentuk dan diatur oleh sistim loyalitas, sepak terjangnya nyata namun tak pernah diakui keberadaannya. Sementara kepolisian adalah institusi resmi yg secara hukum menugaskan petugas memegang hingga mempergunakan senjata api di tempat umum, perlu kekuatan khusus untuk mengendalikan kekuatan tersebut. Maka saat Tom dianggap sosok ideal versi "underground" dgn latar belakang gelap serta depresi pasca kehilangan istrinya yg tewas mengenaskan, sempurna bagi sistim yg menghalalkan segala cara selaku punisher even eraser. Pihak Internal Affair yg dipimpin Kapten James Biggs (Hugh Laurie, dikenal lewat serial House M.D) mengendus kejanggalan yg berjalan di lingkungan pimpinan Kapten Jack Wander (Forest Whitaker). Biggs mengincar celah masuk lewat Tom yg amat temperamental tapi kesayangan dan andalan Kapten Jack, Biggs paham bahwa reputasi kasar Tom hanya dimanfaatkan untuk menutupi rahasia yg lebih besar.
WOW Factor: Di awal telah dikatakan, gak ada yg baru di film ini. Keanu Reeves kembali memerankan polisi seperti Speed walau beda karakter, dan temperament mirip Constantine. Tema bad-cop dgn skenario konspirasi sudah jamak berikut twist ending sedikit mengejutkan tapi gak sulit diduga setelah rangkaian aksi kekerasan yg cepat. Pilihan tajuk Street Kings mengingatkan pada serial TVRI berjudul Dark Justice (1990an) berkisah tentang seorang Hakim yg selalu melepaskan tersangka penjahat, untuk kemudian diburu di jalanan ala "street justice" setiap minggu. Their city, their rules .. no prisoners. Membosankan? Untuk itulah Street Kings menjual tampang senior Forest Whitaker yg biasanya elegan lewat watak "business as usual" dan kali ini dipasang secuil kumis sbg simbol "king of street", dipadu kesegaran Chris Evans sbg rookie berjulukan "disco" yg sebelumnya dikenal lewat film Selular dan serial Fantastic Four. Tokoh selebihnya menampilkan peran "melting pot" as a big city walau beberapa dialog rada nyerempet ke arah rasist namun kontekstual untuk mengangkat situasi jalanan sebenarnya.
Bicara hubungan kerja polisi senior dgn rookie, sekelebat jadi inget film yahud Training Day (2001). Menampilkan Denzel Washington berpenampilan antagonis nan memukau sbg mentornya Ethan Hawke sang rookie. Pelajaran terpenting adalah turun ke jalan dan lebur langsung dalam permainan, menjadi tema lewat cuplikan dialog yg berkesan sekaligus relevan dgn film Street Kings :
You have to decide if you're a sheep or a wolf.
You want to go to the grave or u want to go home.
To protect the sheep, you've gotta catch the wolf.
And it takes the wolf, to catch the wolf!
Do you understand that? Auuuww!!

Secara kebetulan film Street Kings dan Training Day ditangani oleh sutradara yg sama dgn spesialisasi menggarap dunia kepolisian, ditunjang adaptasi dari novel karya James Ellroy yg pernah meraih penghargaan dalam kisah kriminal. Ellroy sbg penduduk asli kota malaikat terobsesi menelanjangi beberapa kasus jalanan namun menguap tanpa pernah disentuh keadilan bagi masyarakatnya. Ellroy pernah kehilangan ibunya secara misterius dan tak pernah kembali, merupakan sumber ide untuk diterjemahkan melalui tulisan yg menyerang kebobrokan kinerja polisi sbg hamba hukum. Sekaligus memperkenalkan realitas betapa busuknya jalanan Los Angeles lewat kemilau postcard yg mengundang kontradiktif. Street Kings didominasi suasana malam hari dan naskah film yg asli sebetulnya berjudul The Night Watchman, konon pernah menarik perhatian sutradara kakap Oliver Stone untuk menggarapnya. Memang entah kenapa, kehidupan malam selalu mengundang banyak pertanyaan serta punya kehidupan berbeda di jalanan. Ada yg tak pernah terlelap, serta jalanan tak pernah tidur. Justice maybe blind, but it can see in the dark. Setiap peristiwapun terus berulang, history teach us nothing ..
(-): Tom ludlow: What happened to just locking up bad people?
(+): Captain Jack Wander:
We're all bad, Tom
(-): Tom Ludlow:
You .. should be my best friend!
(+): Captain Jack Wander:
Sure .. we are family
(-): Tom Ludlow:
Yep [dor .. dooorrr!]
-duke-

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kang keanu gk maen film lagi ya?

wayang-sobek mengatakan...

Ini jenis filem kick-ass, plus twist end.

Poskan Komentar