Follow me on Twitter RSS FEED

Persepsi dan Solipsis

Helios putra Titan, abang dari Eos sang fajar serta Selene si rembulan. Helios bermahkota matahari yg bersinar, setiap pagi terbang melintasi langit dgn kereta empat kuda mengelilingi bumi. Hingga ia kembali ke Kerajaan Emas yg berarti sore, ke istananya yg dibangun Hephasteus, dewa pandai besi berwajah buruk namun beristrikan dewi tercantik, Aphrodite. Suatu pagi Helios memergoki Ares sang dewa perang, mengendap masuk ke rumah Hephasteus lalu mencumbu Aphrodite. Helios dgn kewenangannya mengadukan aib ini pada Hephasteus nan lugu namun pekerja keras, ia lalu bersiasat menjebak Ares.

Maka seperti rutinitas biasanya, Hephasteus kembali berpamitan pada sang istri untuk bekerja di workshop Pulau Lemnos. Dan seperti biasa pula Ares kembali mengendap untuk bercinta dgn Aphrodite, tapi mereka lantas terperangkap di ranjang dalam jaring kokoh buatan ahlinya. Hephasteus yg bersembunyi lantas memanggil semua dewa-dewi untuk membuktikan skandal istrinya, serta menuntut para dewa untuk mengganti makar perkawinan yg dulu dia persembahkan pada Zeus dan Hera. Perselingkuhan panas di ranjang Hephasteus sebetulnya telah berlangsung lama bahkan menghasilkan beberapa anak, Eros salah satu karya mereka. Adapun perselingkuhan itu bisa langgeng karena Ares telah menempatkan pemuda bernama Alektryon di depan pintu untuk berjaga. Sialnya saat Helios lewat dan memergoki, Alektryon tertidur dalam tugas sehingga gagal memperingatkan. Bercampur malu dan marah akibatnya Ares mengutuk Alektryon berikut keturunannya menjadi hewan yg gak bakal pernah lupa lagi untuk berkokok menandai datangnya Helios sang mentari pagi, tugas si ayam jantan.
Fenomena ayam jantan berkokok saat matahari terbit, merupakan hal jamak tanpa perlu dipikirkan sbg fakta kewajaran. Jikapun terbersit penasaran ingin tahu sbg ciri berkembangnya manusia berakal, secara umum lebih kepada pertimbangan moral "kenapa" ketimbang kritisisme berfikir "bagaimana" yg lebih teknis. Keduanya memiliki titik awal yg sama sbg kepedulian terhadap fenomena di sekitarnya, namun berakhir pada titik akhir yg berbeda misalnya berupa "persepsi" ataukah "observasi". Sebuah persepsi boleh saja berkembang menjadi, "Jangan2 matahari terbit karena mendengar ayam jantan berkokok". Subjektifitas inilah yg kemudian pernah melahirkan persepsi dari topik yg sama, seperti kisah Roro Jonggrang dikutuk jadi patung oleh Bandung Bondowoso yg kecewa lantaran gagal membangun 1.000 candi dalam semalam sbg syarat perkawinan mereka. Mempunyai kemiripan dgn legenda Dayang Sumbi saat menggagalkan Sangkuriang menyelesaikan danau berikut perahunya dalam semalam sbg syarat kawin, yakni gara2 ayam jantan berkokok sehingga sang Helios datang lebih awal menjadi pagi.
Sebuah observasi bisa merupakan kelanjutan dari persepsi yg perlu pembuktian supaya objektif, bagian dari metode berfikir ilmiah. Masih dalam konteks yg sama namun secara teknis, saat fajar adalah periode waktu yg mendahului matahari terbit berupa langit yg semula gelap lalu perlahan menjadi terang. Matahari terbit adalah peristiwa dimana sisi teratas Matahari muncul di atas horizon di timur. Perubahan kecerahan langit yg dalam astronomi disebut "Astronomical Twilight" adalah periode waktu di mana langit tidak gelap total, terdapat batas dimana cahaya Matahari mulai disebarkan di bawah horizon langit. Sementara "Nautical Twilight" merupakan waktu di mana terdapat cukup cahaya Matahari untuk membedakan antara horizon laut dgn objek yg berada di langit. "Civil Twilight" adalah waktu di mana telah terdapat cukup cahaya matahari untuk membedakan objek secara normal. Kondisi pagi berdasarkan waktu juga akan dipengaruhi posisi si pengamat berdasarkan koordinat lintang bumi. Sehingga sensorik manusia termasuk ayam jantan di Khatulistiwa dapat lebih duluan mendeteksi cahaya pagi meski posisi Matahari masih di bawah ufuk, ketimbang belahan bumi lainnya. Trus kenapa Matahari saat muncul atau tenggelam di horizon tampak lebih besar? Ini soal lain, tapi jawabnya karena ilusi optik.
Ketika observasi selesai tentang fajar dan matahari pagi, bagaimana urusannya dgn kokok ayam jantan? Rasanya masih belum ada korelasi ilmiah terhadap dua fenomena itu, kecuali pendekatan yg terpisah lantas dikaitkan. Fakta ayam jantan gak hanya berkokok saat subuh, juga siang hari. Ayam jantan mewakili hewan yg juga memiliki teritorial dan otoritas sbg "leader of the pack" sehingga saban pagi setelah bangun tidur ia perlu mendeklarasikan wilayah termasuk komunitasnya. Pertanyaannya masih, "Kenapa mesti ayam jantan?". Pertama, ayam betina berkotek dan bukan berkokok. Kedua, kenapa ayam jantan kalau berkokok matanya merem? Karena beliau sudah hapal teks. Ketiga, ayam mewakili binatang peliharaan sekaligus ternak, sehingga familiar dgn manusia umumnya. Boleh sih diganti macan atau elang jantan yg mengaum saban matahari terbit, tapi manusia normal mana yg akrab mendengarkan mereka tiap subuh? Kembali pada konteks "ayam jantan berkokok" dgn "matahari terbit", adalah fakta dan rutin namun gak mesti berhubungan untuk menjaga objektivitas persepsi tanpa pula menjadi skeptis. Seorang berbakat skeptis memiliki kecenderungan ragu bahkan sanggup menihilkan segala sesuatu untuk kemudian mengatakan gak mungkin ada yg namanya kebenaran obyektif.

Maka seorang skeptis sering terjebak dgn persepsi dari mengalamannya sendiri, misalnya "Semua manusia adalah pembohong". Padahal tanpa disadari terdapat paradox "Semua manusia, termasuk saya, adalah pembohong", tiga dari jarinya selain telunjuk sedang menuding hidungnya sendiri. Skeptis begini cenderung berujung menjadi apatis (a-pathos; tumpul akal, mati perasaan), diapun gak perduli lagi urusan ayam jantan berkokok dgn matahari terbit, "Emang gue pikirin!". Karenanya persepsi tetap penting untuk mengasah kesadaran kritis dalam berfikir, termasuk memelihara dan mengasah keyakinan agar tidak membabi buta. Coba lagi, kenapa anjing melolong malam hari dan ayam jantan berkokok di pagi hari? Karena anjing dapat mendeteksi jin dan hantu lagi liwat, lalu ayam jantan sanggup melihat malaikat yg akan mengusir jin dan hantu tersebut sekaligus memberi tanda ada pasangan yg sedang berzinah. Masih minat hidup di jaman Hephasteus yg mergokin Aphrodite selingkuh dgn Ares, atau balik ketemu Sangkuriang?
Tulisan ini bermaksud sbg jembatan komunikasi yg mensyaratkan kehadiran pesan, semoga gak terjebak absurd yg nihil makna. Juga bukan propaganda paham "Solipsisme" yg ngotot hanya percaya pada pendapat atau eksistensi diri sendiri, lantas terjebak sbg egosentris (akulah sumbu semesta). Seorang solipsis sejati akan terus menggugat segala sesuatu di luar keyakinan dan pikirannya sendiri, bahkan mempertanyakan "Apakah sebetulnya manusia dapat berfikir"? Manusia gak beda dgn robot dan komputer, perangkat mekanisnya yg baru bekerja saat memberi tiap respon secara otomatis. Menjadi sebuah delusi ketika manusia percaya seolah-olah punya nalar, padahal otak manusia bekerja secara mekanis dan bukan metafisis. Neuron otak bekerja mengikuti hukum fisika, memberi respon yg khas dan spesifik menurut stimulasi pada setiap mahluk hidup. Lalu apa yg membedakan cara berfikir manusia dgn mahluk hidup lain seperti tumbuhan? Dimana letak perbedaan cara berfikir satu manusia dgn manusia lainnya? Inilah konsep "Problem of Other Minds". Kemudian ada jawaban, "Pikiran manusia berbeda dgn hewan dan tumbuhan karena memiliki nalar dan logika, serta memiliki spiritual sbg ciptaan sempurna". Ok, anda baru menyatakan diri sbg silopsis berbakat, alias mahluk paling sexy sejagad ;o)

Contoh solipsis sejati, yang Gayus atau si pasien RSJ? Gayus (nama sebenarnya) apes waktu macet pulang kantor. Tepat di tikungan jalan depan Rumah Sakit Jiwa, ban tubless mobilnya bocor. Pasti baru ketahuan sekarang, iapun menepi turun untuk mendongkrak sendiri. Ceroboh lantaran terburu-buru, beberapa baut ban berjatuhan dan menggelinding ke got, plung! Gayus bingung, butuh pertolongan juga. Pas sibuk mencet nomor kontak sobatnya, mendadak ada suara dari balik pagar RSJ. "Hei bung", rupanya pasien berseragam, "Copotlah satu sekrup dari tiap roda, lantas pasangkan ke ban serep itu!". Eh bener juga tuh, dengan tiga baut di tiap ban setidaknya masih sanggup darurat jalan ke bengkel terdekat. Gayus menyimpan hape untuk bergegas mengikuti saran brilian si pemilik suara misterius dari balik pagar RSJ. Akhirnya selesai tapi Gayus gak sanggup menyembunyikan rasa penasaran, "Makazih ya boz .. Aku zadi penazaran pulak, kok awak pintar begini tapi biza jadi pazien dizini boz?". Si pasien masih dari balik pagar RSJ menjawab lancar, "Bung, saya di sini katanya gila. Tapi gak berarti saya tolol, ya kan!".
-duke-

2 komentar:

Anonim mengatakan...

akulah tuhan atas diriku sendiri.

norwich 87 mengatakan...

Manusia hanya mampu melihat sesuatu berdasarkan kemampuannya sekaligus untuk mengenalnya (Esse Est Percipi)

Poskan Komentar