Follow me on Twitter RSS FEED

"Kebenaran Itu Sunyi, GIE!"

Soe Hok Gie
17 Desember 1942
16 Desember 1969
Nobody knows the troubles I see
Nobody knows my sorrow ..
'
Desember 15, empat puluh dua tahun lalu.
"Seorang filsuf Yunani pernah menulis .. nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda".
Pemuda kurus berjaket kuning itu tengadah di tepi hutan Cemoro Kandang. Matanya sigap menyibak daun cemara, mengabaikan mentari senja, lalu lekat pada batu yang menjurai tertinggi di tanah Jawa. Sesaat bibirnya lirih mengumandangkan nada Donna-Donna, seolah menetapkan eksistensi sekaligus menepis kebisingan dan debu Jakarta. "Kehidupan sekarang benar-benar membosankan, saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras .. diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur".

Pemuda kurus berjaket kuning itupun giat terjun dalam kancah peralihan penuh pergolakan di suatu rezim, cukup bersenjatakan pena serta mimbar menjadi panggung laganya. Memasuki periode 1965, ia dibesarkan sebagai mahasiswa yang harus menyaksikan borok pemerintahan Soekarno sekaligus dijadikan sasaran mengasah kritik tajamnya. Hingga meletus peristiwa G.30-S 1965, pemuda itu tetap bergeming untuk berposisi di luar garis sembari tambah kritis menuruti getar nurani. "Lebih baik terasing, daripada menyerah pada kemunafikan". Ketika itulah sebagian rekannya dan sesama aktivis menjelma menjadi anggota dewan sembari menikmati fasilitas negara. Ia muak namun tetap saja menulis serta menyapa karib sejatinya dengan menepi di puncak gunung, pilihan yg seterusnya kekal sebagai tunas Mapala UI.

Desember 16, empat puluh dua tahun lalu.
"Saya tidak mau menjadi pohon bambu, tetapi saya mau menjadi pohon oak yang berani menentang angin".

Pemuda kurus berjaket kuning itu tegar merambas hutan cemara seiring matahari senja, liat bak pohon oak merentang jarak. Langkahnya lekat mendaki bebatuan yang tertinggi di tanah Jawa, fasih selayaknya mencintai sesuatu secara sehat pertanda ia mengenal objeknya. Bibirnyapun masih melafal bait Donna-Donna bak mantera gunung yang khusuk ditujukan bagi puncak Semeru oleh pemujanya. Donna-Donna lebih dari sekadar balada baginya, yakni identitas seperti saat piringan hitam Joan Baez favoritnya disita di bandara Sydney karena dianggap pro komunis. Pohon oak itu berani menentang angin namun memilih nada lirih yang sanggup mematahkan pohon bambu secara sunyi.

Sunyi dan sendiri bagai sahabat sejati, merupakan pilihan dibalik bujukan kekuasaan berikut ketenaran. Arif Budiman, abang si pemuda itu lantas menerawang. "Di kamar belakang rumah kami, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik selalu suram karena voltase selalu naik turun, dan banyak nyamuk. Kadang saya terbangun dari tidur, karena terdengar suara mesin tik. Pasti Gie, dari kamar yang suram dan banyak nyamuk itu. Sendirian, masih mengetik karangan!". Sunyi dan sendiri, adalah harta sang peziarah ketika tidur beralas gunung beratap hamparan bintang. Begitulah pada Desember 16, empat puluh dua tahun lalu. Pemuda kurus berjaket kuning itupun merebahkan kisahnya tepat di usia 27 tahun kurang dari semalam, berselimut embun diiringi nyanyian cemara puncak Semeru.
Desember 17, empat puluh dua tahun kemudian, hari ini.
Mata pemuda kurus berjaket kuning lelah meredup tanpa ada ratapan. Ia tak perlu menangis karena sedih, termasuk kemarahan yang hanya sanggup membuatnya keluar air mata.

"Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang .. makin lama semakin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti. Kritik saya tidak mengubah keadaan .. jadi, apa sebenarnya yang saya lakukan? Kadang-kadang saya merasa sungguh kesepian."
(Soe Hok Gie; Catatan Seorang Demonstran, 1983)

4 komentar:

Anonim mengatakan...

tidak ada kebenaran yang hakiki. kebenaran yang selalu bermain di antara hitam dan putih.

suwendra agna mengatakan...

Che Guevara versi Indonesia

Anonim mengatakan...

Gie, emang lo lbih baik mati muda... negara ini makin gk tambah beres

Anonim mengatakan...

orang begini mmg gk pantas mati di tempat tidur

Poskan Komentar