Follow me on Twitter RSS FEED

Up In The Air

Posted in

As the tagline says, *this is a story of a man ready to make a connection*. So simpel sekaligus complicated, teramat kompleks tapi juga bisa menjadi sederhana. This is a drama with an examination of the human condition as personified by one man's quest to live out of a suitcase while enjoying a hassle-free, relationship independent lifestyle. Instead of a political satire that pokes a stick at the tobacco industry (of Thank You For Smoking) or a witty morality tale about teen pregnancy and adoption (of Juno), the director Jason Reitman -who wrote all those three scripts- explores the theme of isolation in an on-line networking era. When Facebook friendships provide ever increasing opportunities to replace face-to-face relationships with avatars made to resemble the people we know and love. Up In The Air walks a very delicate line between comedy and satire, it hopes will spark questions about the nature of the relationships and the consequences of all decisions to connect each in the digital age.

Kisah diwakili tentang sosok karir yg mungkin gak jamak buat di Indonesia, yakni 'corporate downsizer'. Yakni jasa konsultan dgn tugas spesial sbg 'tukang mecatin pegawai'. Bukanlah pekerjaan yg gampang, terutama saat pihak HRD kadang gak punya 'tega' buat mutusin karir seseorang. Apalagi menyangkut pegawai yg loyal dan kadang dieksekusi tanpa alasan disiplin kecuali problem internal perusahaan yg nyaris bangkrut, efesiensi demi krisis, unsur fabrikasi, dst. Untuk peran itulah sosok George Clooney 'pasang badan', disertai embel2 jurus mulia ala motivatorist 'untuk membantu' mereka yg akan dipecat agar bisa menemukan potensi lain di diri masing2 setelah terbebas dari bangku rutinitas di kantor. Pemahaman tiap figur maupun kisah yg mewakili karakter film ini, masih diupayakan aman dan terjaga dari spoiler ;o)
*Anda tau kan, who ever built an empire, or changed the world?
Mereka ternyata pernah mengalami pemecatan seperti anda. And it's
*because* they sat there (dipecat), they were able to do it sbg manusia yg baru.
Maka pemecatan ini justru sebuah anugerah bagi potensi anda*
Resiko tentu ada, umumnya si pegawai bersikap histeris walau pasrah menerima. Maka ada yg beneran jadi punya banyak waktu untuk keluarga sembari mencoba bisnis rumahan, atau yg fatal adalah luncat bunuh diri dari jembatan. Tapi Clooney sukses memerankan agen yg baik sekaligus prospek bagus buat bisnis di Indonesia (who knows?). Doi tampil percaya diri dgn jadwal teramat ketat, terbang sini sonoh, cuma sempat pulang basa-basi ke rumahnya cukup empat hari tiap bulan ato 40 hari dalam setaon. Rutinitas berbalut dinamika seperti inilah yg ditawarkan mewakili kehidupan saat ini, serba digital serta instant sekaligus mementingkan objektivitas. Sutradara Jason Reitman yg punya rekomendasi yahud lewat film 'dialog cerdas keseharian dan minim aksi' seperti Juno maupun Thank You For Smoking, kali ini patut dipuji lagi magic touchnya. Juno tampil dalam kemelut beberapa pihak namun begitu dewasa saat menghadapi kehamilan mudanya. Begitupun adu argue ala Thank You For Smoking yg telah menjadi 'cult' terutama 'the MOD Squad' (sebutan bagi 3 sahabat yg menamakan dirinya Merchants Of Death, yakni si penjual senjata, si penjual alkohol, dan tentu si penjual tembakau - rokok) nan legendaris. Semua tampil lagi dan dirangkum dalam topik berbeda lewat tokoh sentral George Clooney.
Bagaimana jadinya saat Clooney mendapat fakta bahwa giliran di kantornya telah terancam isu pemecatan termasuk status dan fasilitas dirinya? Terutama kehadiran seorang 'fresh graduate' yg mengusulkan efesiensi 'rasionalisasi' via online seperti penggunaan skype. Juga berarti akan mengancam kebiasannya untuk tugas terbang yg telah menjadi candu tersendiri. Maka konflik keduanya dibentrokkan, merekapun harus terbang bersama untuk sekaligus dapat saling tukar pengalaman ato memahami pekerjaan masing2 secara langsung. Tentulah sbg experties dan senior, Clooney tampil lebih dominan terhadap koleganya yg masih kencur mengandalkan teori.
+: Liat antrian jompo itu? Mereka bakal ngabisin waktu lama. Tapi liat rombongan Asia di sana, bergabunglah. Mereka ringkas dan terbiasa buru2, maka selalu antrilah di belakang Jepang itu.
-: Kok jadi rasis gini sih?
+: Katakan gw stereotipe, kayak nyokap gw. Itu bukan rasis, tapi namanya : gesit!

Clooney merasa hidupnya telah sempurna serta menikmati kegiatan berpindah di tiap bandara sbg rumah yg sesungguhnya. Filosofi yg tentu berseberangan dgn prinsip berhubungan maya ala on-line, yg menurutnya telah menghambat sentuhan personal. *Untuk bisa kenal gw, anda harus ikut terbang bareng. Karena di udaralah tempat gw tinggal*. Lantas dalam rangka 'memberi pelajaran nyata' kepada si ingusan yg begitu bangga akan ide program online-nya, Clooney dapat kesempatan itu saat menghibur doi ketika diputusin mendadak oleh cowoknya.
-: Masak sih doi broke up by text message (SMS)?
+: Wow .. udah persis getting fired by online, ya kan?
Namun terbalik dgn prinsip pendekatan personalnya, Clooney justru alergi dgn hubungan personal secara nyata. Ia menghindari pertemuan keluarga sekaligus gak minat pada ikatan kekeluargaan. Prinsip ini didukung keyakinannya sbg motivator ulung dgn paham, *Semakin sedikit beban dan tanggungan anda, semakin indahlah hidup ini*. Maka ketika Clooney telah menemukan seorang sparring partner pada sosok cewek 'frequent flyer' seperti dirinya, bagaikan pertemuan jodoh tanpa komitment. Mereka saling adu koleksi kartu terbang ato perlengkapan instant berupa 'smart cards', voucher hotel, dst. Walau sensasi itu hanya terjadi di tiap bandara, tempat pertemuan mereka saat jedah atau persinggahan saat berpapasan tugas. Pola "just one night stand" menurut pemenuhan kebutuhan instant masing2 namun telah melambangkan inter-connection between them.

Apa daya petualangan yg dianggap sbg satu paket dari pekerjaan dan 'seni terbang' itu, kelak menjerat Clooney dalam pemahaman baru baginya. Berupa sensasi yg selama ini hilang bahkan dikuburnya, yakni makna sebuah hubungan intim yg permanen dan secure. Faktor inilah yg menjadi twisting ending namun manis, bagaikan jawaban tanpa pertanyaan. Apalagi dari pihak keluarganya selalu menggugat sosok Clooney yg selama ini berkesan gak butuh relasi, kecuali asik dgn koneksi bisnis berikut ritual terbang sbg simbol independent dan kebebasan.
-: Lo selalu terbang, gak inget keluarga. Kok kayak terisolir sih?
+: Terisolir? Gw lagi dikeruminin (di bandara yg rame gini) kok!
Pesan moralnya adalah, kenalilah diri sendiri sebelum bisa mengenal orang lain. Saat anda membutuhkan resep jitu tentang makna kesepian di tengah keramaian, sebaliknya merasa ramai dikala sendirian, atau merasa trampil dan selalu bisa tampil seperti elang sendirian di luasnya angkasa, maka gak salah untuk sejenak mencerna tiap adegan di film ini. Pada dasarnya semua memiliki batas, bahkan luasnya langit yg seolah terbentang tak terbatas. Pepatah kadang terbukti benar, setinggi elang terbang toh perlu berpijak pula dan menetap di atas tanah sbg rencana yg permanen. Walaupun ironisnya, kadang berlaku pula pepatah lain, *Setiap kali sesuatu direncanakan, justru terjadilah twisting amburadul yg sebaliknya*.

Apakah benar jika seorang -ehm- lelaki mulai serius untuk berencana, saat itulah Tuhan malah tertawa? Seperti kampanye Obama yg pernah merencanakan program kesehatan bagi masyarakatnya :
Kami coba membuat anda gak menderita lagi karena penyakit.
Dan jikapun suatu saat anda diderita oleh suatu penyakit,
maka rencana berikutnya, 'Die Quickly' sajalah ehehee
-duke-

2 komentar:

Anonim mengatakan...

film tipikal clooney, always charming but tricky

endyonisius mengatakan...

He's got his own style even not really my fave though. It depends who's the director ;o)

Poskan Komentar