Follow me on Twitter RSS FEED

Jazz Dan Becak

Posted in

Jazz adalah suatu keasikan yang personal, kadang penuh manuver tak terduga serta ada rasa bebas merdeka. Maka sah saja ungkapan tadi jadi berkesan doktrin, terlebih nyatanya musik satu ini terasa kurang keliwat akrab di atmosfir Pontianak. Jadinya mesti lebih ngotot jika ingin membahas tentang bobot dan selera audiophile atau kesombongan intelektual, lantaran jazz terlanjur dianggap sebagai musik berat. Lantas bagaimana jika dibuatkan dialog sederhana untuk lebih menyimak gerangan apakah jazz itu, lewat fenomena nyata keseharian. Seperti korelasi hubungan antara eksistensi jazz dengan fenomena becak, ternyata boleh nyambung adanya.

Tentu awam tidak asing lagi dengan kendaraan khas bernama becak, walau kini tinggal fosil sejarah. Salah satu sarana transportasi umum yang pernah amat berperan dalam kehidupan masyarakat Pontianak. Ongkos jasanya relatif terjangkau karena bisa negosiasi, serta rute perjalanannya begitu dinamis atau boleh dikatakan juga 'sangat personal'. Berbeda dengan oplet yang sudah memiliki rute khusus, walau punya manuver sama yang penuh kejutan. Tak heran becak menjadi pilihan kendaraan para ibu rumah tangga kebanyakan. Misalnya ketika selesai belanja di pasar Flamboyan, kendaraan roda tiga namun tangguh ini bisa mengantar pulang penumpangnya hingga persis depan pintu dapur. Ditambah pelayanan yang familiar, sang abang becak bahkan turut masuk ke dapur membawakan belanjaan yang seabrek. Hal ini pasti sulit dilakukan oleh para supir oplet.
Pola kehidupan khas bermasyarakat yang masih penuh toleransi dan kolektif, kini sulit dijumpai di kawasan modern anggaplah di Jakarta. Becak adalah simbol kesan tersendiri. Bahkan bagi mereka yang belum pernah berkendaraan becak sekalipun, pasti punya pengalaman khusus dengan angkutan ini. Bagi pengguna jalan raya, sering kudu ekstra awas dan berhati-hati jika sang becak sedang melenggang di depan kendaraannya. Karena tidak aneh jika mendadak ada manuver kelewat tajam, entah sang becak hendak belok atau berhenti. Biasanya hukum lalu lintas umum jadi tidak berlaku lagi. Mungkin hanya dua pihak yang boleh tahu situasi itu, pertama tentu si pengemudi becak. Dan pihak kedua, cuma Tuhan yang dapat menduga apakah si becak akan ke kiri atau belok kanan. Percuma saja untuk berdebat mengenai salah atau benar, karena hal tersebut berdasarkan spontanitas. Maka sebagai pemakluman sering ada gurauan, 'Anggap saja kendaraan dewa lagi belok!'.

Namun kembali pada hal terpentingnya, adalah toleransi bermasyarakat serta bagaimana interaksi pengamalannya. Hanya faktor tenggang rasa yang dapat membuat pemakai jalan lain boleh dapat maklum akan kelakuan 'pengemudi dewa' tersebut. Kalaupun dikenakan peraturan ber-lalu lintas ketat atau kelewat banyak larangan yang belum tentu dimengerti, malah berdampak menyusahkan terutama bagi pelanggannya. Bahkan terancam lebih rumit urusannya, persoalan becak lantas merembet ke ibu-ibu yang marah karena becak dilarang. Lalu dimana korelasi personalitas jazz dengan manuver becak di tulisan ini? Apakah karena jazz yang telah mempengaruhi prilaku sang pengemudi becak lewat aksi improvisasinya? Karena esensi jazz adalah ekspresi kebebasan, identik dengan spontanitas manusiawi. Atau malah sesungguhnya jazz telah dapat memasyarakat, meski kerap diimbuhi komentar, 'Maklumlah, musiknya menantu dewa'. Lantas apakah jazz telah menjadi musiknya para pengemudi becak? Nah, mungkin disinilah ironika persamaan sekaligus letak perbedaannya.
Pertama, hal ekspresi kebebasan yang personal serta cenderung sesukanya. Seorang penikmat jazz bisa sangat meresapi liukan alunan Misty dari Sarah Vaughan ataupun versi popnya Johny Mathis. Juga tetap dengan telaten mengikuti lekuk saxophone Dave Koz, masih dari tembang karya Errol Gardner ini, bahkan jika mendengar tetangga sebelah sedang bersiul pada potongan nada refreinnya. Maka disini telah terjadi dialog batin, antara penikmat nada dengan musik jazz itu. Pengenalan melalui identifikasi maupun pemahaman ciri-karakter. Justru contoh ini yang menerangkan bahwa jazz tidaklah bebas sesuka hati, melainkan kepekaan mengolah rasa kritis. Suatu ide pemahaman yang luas ditawarkan lewat improvisasi musisinya, dimana secara kritis pula telah memberi interpretasi menurut idiom karakternya. Pendengar seolah berdialog secara pribadi dengan nada yang sudah dikenal lewat karakter tiap musisi pembawanya. Sound gitar milik Toh Pati, Lee Ritenour serta West Montgomery akan dapat dengan gampang dibedakan oleh kuping jazzer saat membawakan satu komposisi yang sama.

Maka dibalik kebebasannya, Jazz justru sangat tidak bebas dan penuh tuntutan karakter. Jazz sangat membutuhkan ciri, dibalik keleluasaan yang seolah tak terbatas. Faktor ini menjadi salah satu alasan, mengapa rekaman album jazz sangat tidak prospek buat dibajak semacam produk sound like atau cover version yang memang tidak bermartabat. Mana ada sih lagu Misty tertulis dinyanyikan oleh Ella Fitzgerald tapi dibawakan oleh penyanyi studio dari Tanjung Priok walau dibalut rekaman canggih ala audiophile. Karena Sarah Vaughan bukan hanya penyanyi yang bisa didubbing, melainkan seniman jazz dan cuma ada satu karakter bernama Sarah Vaughan. Artinya pula, banyak pengemudi becak namun masing-masing memiliki karakter tersendiri misalnya ada yang bersedia mengangkat karung beras milik pelanggannya hingga ke dapur. Tapi ketika mereka sedang mengayuh becaknya di jalan, seolah jadi sama dalam satu paham yakni manuver khas ala becak yang hanya bisa diketahui, ya itulah, olehnya sendiri dan Tuhan.

Kedua, berarti sejenak kembali pada esensi jazz itu sendiri. Meski bosan mengulang, tapi perlu diingat bahwa awal jazz terlahir sebagai produk derita para pekerja kasar di Amerika di awal tahun 1900-an. Penindasan ideologis dari kaum majikan terhadap pekerja kulit hitam, mengakibatkan pemberontakkan lewat perlawanan budaya dan tumbuh di sekitar New Orleans. Dengan ekspresi musikal tanah leluhur Afrika serta mengacak lagu dengan improvisasi naluriah, mereka memainkan instrumen produk kulit putih lewat aturan yang sama sekali keliru menurut teori baku. Rintihan sukma berbalur blues pilu dicampur soul berisikan nada harapan, adalah identitas jazz sejati. Simbol anti kemapanan yang menggugat dominasi major produk kelas atas, termasuk pesan-pesan pemberontakan. Jazz adalah ekspresi, berbahasa utama kebebasan di atas kekangan. Kebebasan yang kadang membingungkan.

Maka saat tiba di Indonesia, jazz nota bene tidak mengalami proses jerit penderitaan seperti leluhurnya. Jazz Indonesia langsung masuk istana, adalah simbol arogansi selera dan hipokrasi intelektual. Malah langsung diterima sebagai musik pengiring dansa para noni di istana bergaya Belanda. Mungkin perlu ditambahkan pula, lagu kebangsaan Indonesia Raya awalnya adalah sebuah karya jazz dimana WR Soepratman merupakan jazzer handal. Jazz milik Indonesia memang punya referensi yang berbeda, awal yang mempengaruhi khalayak jazz versi Indonesia. Seolah dengan mengerti jazz, berarti lebih tinggi tingkat seleranya dalam musik. Berdampak sosialisasi bahwa jazz akhirnya hanya membentuk kelompok ekslusif. Maklum, dulunya berkelakuan sbg piaraan amtenar, kini bisa naik pamor hanya dengan membonceng 'kendaraan dewa' padahal tetap naiknya becak.
Riza Arshad sang konseptor Simak Dialog mengatakan, 'Pada dasarnya jazz adalah musik saling membuka diri, untuk saling menyimak. Lantas terjadi dialog karena gak mungkin (bermusik) sendirian, untuk akhirnya menerima pihak lain'. Hal tersebut menjadi dasar sebagai konsep bermusik kelompoknya, Simak Dialog. Terasa penting, karena dalam kelompok muda ini terdapat 4 ego pemusik berbakat dengan jam terbang tinggi. Riza, adalah pianis yang juga membunyikan akordion. Arie Ayunir mengimbuhkan lewat drum, Tohpati sang gitaris serta Indro Hardjodikoro dengan basnya. Mereka saling menyimak satu dengan lainnya lantas bebas berdialog via kord progresi nan personal. Komunikasi telah terjadi dan seperti berbahasa, jazz memiliki berbagai dialek walau tak nyaring bergaung di telinga Pontianak. Essay inipun merupakan intisari dialog antara penulis dengan Chico Hendarto saat memperkenalkan Simak Dialog lewat album "Baur". Proses menyimak dan berdialog yang merdeka di radio Volare, selembut manuver ala Jazz BMW. Itulah Becak Merah Warnanya.

*Dionisius Endy
(harian Pontianak Post; 04 Juli 1999)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

sbg tukang mbecak, aku tersinggung bos.
aku gg ngdengerin jazz loohh ??!!

endyonisius mengatakan...

Menurutku, masalahnya ada di njenengan boss. Mbecak itu sungguh nge-jezz poll, sebaliknya jazz cocok buat ngebecak. Terutama mereka yg telah menganggap jazz adalah musik kelas elit, padahal gak lebih berkelas dari tukang becak. Nah barulah sampeyan boleh tersinggung ehehee
Nge-jazz mang!!

Poskan Komentar