Follow me on Twitter RSS FEED

Whaz Iz Jazz?

Posted in

Sering seseorang bertanya tentang apa itu Jazz. Entah apa maksudnya, mungkin hanya untuk memancing obrolan ataukah benar ingin tahu. Atau malah ingin menakar sejauh mana kadar apresiasiku, termasuk menunjukkan betapa pahamnya dia tentang pertanyaannya sendiri. Namun apapun kepentingannya, aku cenderung gak langsung menjawab tanpa jadi berniat menghindar. Sembari sering teringat masa muda dulu, aku persis seperti mereka yg penuh semangat. Maka selama aku semakin menikmati Jazz, hal semacam pertanyaan itupun justru memudar. Aku malah gak paham apa itu Jazz, mungkin ada yg melongo jika kukatakan personil Dream Theater merupakan jazzer yg baik.
Ya, apa itu Jazz? Sesuatu hal terukur yg semestinya dapat diuraikan dan diberi definisi, ataukah abstrak sebagaimana selera subjektif? Lalu bagaimana sebuah Jazz dikomunikasikan, secara aktif pada musisinya maupun pasif bagi penikmatnya? Serumit itukah Jazz? Pertanyaan ini mungkin lebih mudah. Jazz bisa rumit jika dirumitkan, dan sebaliknya. Sebagaimana rumitnya masalah keyakinan yg terus dibahas bahkan dijadikan objek perdebatan, yg malah meninggalkan makna keyakinan. Lalu kenapa mesti rumit, jika bisa dibuat gampang? Mungkin kisah berikut ini bisa membantu untuk menjelaskan proporsinya. Manusia cenderung tertarik pada hal rumit, karena yg sederhana terlalu gampangan. Mungkin itu sebabnya muncul pepatah, "Jika bisa rumit, kenapa mesti dibikin gampang?"

Tiga orang filsuf bermaksud untuk bersemedi di tepi sebuah danau. Cuaca tenang, suasana kondusif. "Waduh, aku lupa membawa alas duduk," mendadak kata filsuf pertama. Ia lalu pamit, sembari melangkahkan kakinya di atas air danau. Rupanya ia menyeberangi danau menuju ke tempat tinggal mereka di seberang, dgn melangkah di atas air. Ketika ia kembali, filsuf ke dua gantian berkata, "Aku ternyata lupa menjemur bajuku. Aku pergi dulu ya." Sama seperti rekannya, filsuf kedua langsung berjalan di atas permukaan danau, di atas air sekaligus menyeberanginya dengan mudah. Kedua filsuf tampak menguasai benar tehniknya.
Filsuf ke tiga berpikir, kedua rekannya pasti ingin pamer kebolehan di hadapannya. "Ah, aku juga bisa. Lihat saja," katanya. Ia mulai melangkahkan kakinya ke atas air danau, tapi langsung tenggelam. Ia berenang ke tepian, untuk kembali mencoba berjalan di atas air tapi gagal. "Gak mungkin aku kalah sakti dari mereka", ia berguman. Bajunya basah total namun semangatnya malah semakin membara, sementara kedua filsuf memperhatikan dengan heran. Hingga beberapa kali tenggelam tanpa sekalipun dapat berjalan di atas air, akhirnya filsuf ke dua berkata kepada filsuf pertama, "Ribet bener yag. Apa gak sebaiknya kita kasih tahu saja, di mana letak batu danaunya itu?".
(mind over the body)
-duke-

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Seringkali sesuatu yang sederhana telah menjadi tidak sederhana lagi, bagi mereka yang lebih menghargai kerumitan ketimbang kesederhanaan.

endyonisius mengatakan...

Sederhana itu, terkadang emang gak sederhana.

Poskan Komentar