Follow me on Twitter RSS FEED

Vantage Point

Posted in

Sering terjadi dalam satu peristiwa, seseorang memiliki persepsi maupun pemahaman tersendiri yg pasti berbeda dgn pihak lain. Jika perkara itu dikonfrontir, persis petuah bijak pernah berkata: "Bagai sekumpulan orang buta yg memegang seekor gajah, kemudian memberi deskripsi bentuknya masing-masing". Misalnya si buta yg memegang belalai, mengatakan gajah adalah hewan semacam pipa memanjang, walau ia mungkin belum pernah melihat pipa sebelumnya, dan seterusnya. Ungkapan terhadap berbagai pemahaman atas banyak perspektif, bagaikan memegang keping puzzle yg terlepas dari kesatuan utuh. "Bagaimana sikap memandang dari satu titik pemahaman yg lebih baik", adalah terjemahan bebas istilah Vantage Point. Maka bagaimana sempurnanya sebuah titik, tetap membutuhkan penjuru lain untuk saling melengkapi menjadi sebuah keutuhan.
SINOPSIS:
Iring-iringan mobil Presiden USA menuju ke Plaza Mayor di jantung kota tua Salamanca (Spanyol). Siang itu cerah, matahari menghangati bangunan artistik termasuk bayangan penduduknya nan eksotis. Keramaian menjadi rutinitas, namun kali ini lebih meningkat. Mereka berkumpul memadati ruang terbuka semacam amphiteatre, tempat biasanya digunakan untuk transaksi barang antik. Khusus untuk hari ini terdapat peristiwa skala dunia, yakni Pembukaan KTT Anti Teroris Internasional yang dibuka oleh Henry Ashton, sang Presiden Amerika.
"Suasana amat kondusif", begitu laporan langsung dari reporter jaringan TV GNN (Global News Network). Rex Brooks selaku produser liputan, mengerahkan tim terbaik berikut 7 kamerawan untuk merekam dan menyiarkan tiap detail. Waktu setempat telah menunjukkan pukul 11.33, dan Walikota Salamanca selaku tuan rumah bersiap memberi sambutan selamat datang bagi para tamu negara maupun turis dan para lokal. Diantara kerumunan penonton, terselip seorang turis Afro American yg tinggi besar sembari mengabadikan setiap peristiwa lewat handycam buat dikisahkan pada keluarganya.
Mendekati pukul 12.00 sesuai rencana, rombongan Presiden Amerika muncul didampingi para Secret Service yg ketat mengawal. Termasuk seorang agent senior yg kelak menjadi benang merah penghubung kisahbetikutnya. Kisah yg akan menjadi inti cerita, yakni dimulai tepat pukul 12.00 saat presiden memulai kata sambutan dari podium dgn salam membuka tangan. Dua tangan terentang yg terbuka adalah salam damai universal, namun sekaligus titik kelengahan dalam gelanggang adu pertempuran. Pilihan terakhir yg bicara, melalui teatrikal yg sempurna saat menerima letusan senapan. Dua timah panas leluasa menghajar tepat dan telak di dada presiden yg langsung tersungkur.

8 SAKSI, 8 VERSI:
1. Sebagai saksi pembuka, tentu saja dari peliput berita yg dikomando sang produser acara Rex Brooks (Sigourney Weaver). Melalui 7 kamera dan laporan para reporternya, ia bisa melihat banyak sudut pandang sekaligus memilih liputan langsung bagaikan skenario tersendiri. Iapun berperan penting saat pasca penembakan, serta Thomas Barnes kelak memanfaatkannya untuk mendapat info kunci gak sengaja melalui salah satu bidikan kamerawan. Dari segi kemunculan, sejujurnya aku kecewa dgn peran Sigourney yg minim hanya pada 10 menit awal. Bintang ini semakin selektif milih film, membuat 'kangen' pada kemunculannya. Nama besarnya menjadi magnit awal buatku untuk tertarik menonton film ini yg belum pernah kudengar atau baca resensi sebelumnya.
2. Thomas Barnes (Dennis Quaid) sang agent senior dari Secret Service, maka sosoknya amat popular terutama buat para peliput berita yg terkait urusan protokoler kepresidenan. Dengan cerdas antara lain melalui penuturan Rex Brooks yg membuka file lama Thomas (saat tugas terakhir ia telah menyelamatkan presiden dgn cara mengorbankan tubuhnya sbg tameng hidup), merupakan bertutur klasik ala film dgn format flashback. Sekaligus melalui hubungan kedekatan antara keduanya, secara tak langsung telah memposisikan peran Thomas sbg saksi terpenting kedua.
3. Agent Secret Service senior kedua , Kent Taylor (Matthew Fox; serial TV 'Lost'). Perannya vital sbg pemimpin keamanan kepresidenan serta menggantikan posisi Thomas yg dianggap belum fit pasca penyelamatan terakhir. Kent diposisikan sbg tokoh yg paling bertanggung jawab mengenai protokoler dan mengetahui detail agenda presiden, tentu berdasarkan kondite dan uji kelulusan yg ketat. Sebuah peran yg dituntut harus menyelesaikan kemelut ini sekaligus terlibat langsung sbg saksi ketiga dalam skenario.
4. Seorang turis yg selalu sibuk merekam tiap peristiwa melalui kamera mininya, bernama Howard Lewis (Forest Whitaker). Aktor watak ini memungkinkan untuk menjadi saksi kunci terutama karena liputan pribadinya, yg dalam konteks film dianggap telah mewakili pandangan masyarakat umum. Ia tidak ada urusan dgn acara yg kebetulan dihadirinya, selain turis yg kebetulan berpaspor USA. Rekaman berikut keterangannya sempat digunakan pihak Secret Service, tentu dalam kacamata dan versi awam yg bisa saja keliwat jujur atau malah dapat menyesatkan. Disitulah potensi twist plot dimasukkan, terutama untuk mengecoh asumsi penonton yg seolah telah diwakilkan sang turis kita ini.
5. Seorang figuran kunci yg muncul dari aparat lokal ada pada sosok polisi, Enrique (Eduardo Noriega; film 'Abre Los Ojos', versi orisinal 'Vanilla Sky'). Namun gak sesuai yg diharapkan selaku aparat yg memahami konstruksi dan kronologis verbal, Enrique justru disisipi kemelut hubungan pribadi dgn pacarnya. Secara kebetulan sang pacar ternyata punya keterlibatan langsung dgn penembakan ini, dgn agak sedikit gampang telah ditunjukkan sbg berperan ganda. Namun kehadiran mereka cukup memberi warna dan vital, setidaknya dapat mendekatkan kepingan persoalan yg mengerucut kepada masalah. Walau agak terlalu naif digambarkan pada akhirnya, mereka hanya korban konspirasi besar.
6. Aktor pelaku utama sbg eksekutor adalah Javier (Edgar Ramirez; aktor Venezuela yg muncul di 'Bourne Ultimatum'). Ia seorang snipper yg memang ditugaskan menghabisi presiden, serta diberi porsi secukupnya mengenai latar belakang kenapa ia melakukan hal itu. Kelak akan saling terkait antara Javier dgn Enrique berikut pacarnya, dan tanpa menjadi spolier, kondisi ini akan mudah ditebak dan terpikirkan oleh para penonton. Toh sang eksekutornya udah langsung menjadi posisi pelaku ke enam dalam saksi peristiwa ini.
7. Dalang utamanya langsung disebut, adalah Sam alias Suarez yg diperankan aktor Perancis, Said Taghmaoui. Penampilannya cukup menipu dan berkesan sekilas, dan secara teknis lapangan iapun 'hanya' bekerja melalui perangkat PDA di tengah kerumunan. Sebuah posisi yg cukup berpeluang menipu mayoritas penonton walau gak perlu ditutupi, karena alur film ini dipenuhi tehnik kilas balik secara berulang. Maka posisinya di nomor tujuh cukup dimaklumi, dimana semakin banyak kepingan puzzle disusun dan direkonstruksi, posisi dan peran Sam selalu diperbaharui dan terus mengerucut menjadi utuh.
8. Presiden Henry Ashton yg diperankan veteran William Hurt. Sempat ada gosip tadinya akan diperankan Jack Nicholson. Namun Jack menolak karena ada adegan kematiannya di awal film, alasan yg masuk akal untuk sekaliber doi. Padahal kisahnya akan berkembang, yakni ada dua presiden yg dikenal dgn istilah 'sosok bayangan' atau decoy. Yakni peran pengganti sungguhan untuk mengelabui musuh, seperti sering dilakukan para tokoh2 terkenal misalnya Saddam Hussein berikut anaknya, si Uday. Maka dari sebuah kamar di lantai tujuh Hotel Viseta, Ashton si presiden sejati dapat menyaksikan 'dirinya' sbg presiden di mimbar yg akhirnya tersungkur diterjang maut. Padahal sebelumnya ia sempat gusar karena gak diijinkan tampil terbuka demi alasan keamanan, dan kekhawatiran itu terbukti. Secara komikal ia sempat mengomentari 'kembarannya', "He doesn't even look like me!". Lalu cukup berseru "Euuwwgh" saat 'dirinya' ditembak, "You've been shoot, Mr. President".
WOW FACTOR:
Istriku sempat tertawa ketika aku di bioskop sibuk menghitung jumlah saksi, maupun merevisi tiap simpul adegan yg terus diulang tiap kejadian 30 mnt sebelum penembakan. Jika film Love Actually memiliki 11 plot cerita berikut ragam tokohnya dalam satu film sekaligus, namun terasa mengalir lebih gampang dan santai. Vantage Point didukung tensi yg ketat namun efektif bergaya thriller, seolah menonton 3 rangkuman sekuel The Bourne dlm durasi 90 mnt saja. Beberapa tokoh tambahan yg mencuri perhatian dan sempat masuk hitungan, misalnya sang reporter TV, pacar Enrique si polisi, maupun penasihat pribadi presiden selaku orang terdekat yg berpotensi sbg master of grand scenario di film ini. Posisi mereka cukup menjadi alasan untuk menjadi tokoh penting, namun harus mengalah kepada delapan tokoh di atas. Itupun sudah cukup repot untuk membuat paradox, betapa sedikit yg kita lihat dan bisa ketahui justru di saat kita merasa telah melihat semua dan semakin berusaha memahaminya.
Sutradara Pete Travis adalah nama baru buatku, namun cukup kumplit dan efektif merekam suasana melalui tehnik steadycam maupun handheld camera yg bersifat individual. Tehnik ini berperan penting menggiring penonton dalam mengalami tiap potongan puzzle dari tiap saksi yg berbeda, seolah mewakili tiap saksi individual dgn satu arah. Corak skenario yg mengajak penonton untuk terlibat langsung menyelesaikan film ini, pernah dirintis oleh sineas Akira Kurosawa dalam film Rashomon. Penonton harus mengikuti sekaligus menilai empat saksi berikut empat versinya untuk menuntaskan sebuah kasus perkosaan. Jika anda termasuk kritis dan bisa mandiri menikmati sebuah film, gaya ini bisa jadi referensi yg mencerdaskan. Vantage Point merupakan latihan yg akan membentuk sebuah montage, walau gak berarti kisahnya akan selesai di akhir film. Beberapa data dan argumentasi penonton justru memperkaya skenarionya, dan itulah esensi sebuah apresiasi. Baik pelajaran melalui sebuah film, maupun nyata dalam hidup keseharian. Tiap manusia punya panggung tersendiri, berikut sudut pandangnya.
-duke-

3 komentar:

Anonim mengatakan...

jenis film yg makin menarik utk ditonton lebih dari sekali, keren..

endyonisius mengatakan...

Thanks, kisah maupun tehnik filmnya memang memikat

dilafitriza mengatakan...

Gambaran dari sudut pandang yang berbeda dari beragam tokoh di film ini, walau ujungnya tetep Amerika banget sebagai pihak penilai paling dominan dan sok tau

Poskan Komentar