Follow me on Twitter RSS FEED

Orang Biasa

Posted in

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be?
Will I be pretty, will I be rich
Hear what she said to me
Que sera, sera whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera ..
Pernah dengar lagu Que Sera Sera, gacoan di seputar tahun 65an lewat suara Doris Day? Liriknya sederhana dibalut musik ringan, namun popular dan sarat filosofis. Hingga pernah diadaptasi menjadi satu lagunya Titik Puspa, kurang lebih berbunyi, "Apa yang terjadi, terjadilah". Kemudian diteruskan pesan bermakna religius, "Yang dia tahu, Tuhan penyayang umatNya". Mungkin kedua lagunya sama hendak mengatakan, jalankan dan nikmati saja hidup ini. Pepatah Sunda juga menterjemahkannya, "kumaha engke", atau "gimana nanti deh", mirip Carpe Diem. Karena segala hidup berikut persoalan harus terus mengalir bak air sungai dari hulu ke hilir. Niscaya bagai mentari menghidupi bumi sejak mulai beredar dari ufuk timur, walau segelintir orang terus berpolemik tentang mana yang duluan, "Matahari terbit, atau ayam jantan yang berkokok". Orang yang beginian pasti memiliki tujuan atau pandangan di luar konteks umum, maka untuk dimaksud "orang ginian" adalah unik sebaliknya "konteks umum" mewakili jumlah kebanyakan. Apa sih yang selanjutnya membuat seseorang menjadi unik gak biasa, dibanding kebanyakan yang akan bermakna orang biasa?
Menjadi orang biasa, mereka yang percaya bahwa setiap detak kehidupan amat berharga dan menitipkan makna. Adalah kebanyakan kita dalam menjalankan hidup keseharian sembari tetap berusaha menikmati detak rutinitas tersebut. Mulai pagi hari berangkat kerja bersama antrian tetangga dan pekerja lain, hingga sore berbondong-bondong pula memenuhi jalan A. Yani pulang menuju ke tiap rumah. Ritual awal bulan terima gaji, berlanjut sibuk menghitung keperluan rutin rumah tangga setelah dipotong bon arisan kantor atau sisa kredit. Seterusnya untuk menyicil sewa kontrakan dan uang sekolah anak di minggu pertama. Tentu bayar rekening listrik sebelum tanggal 15. Hingga berlanjut ke akhir bulan mengisi formulir sumbangan RT plus jatah amplop undangan pernikahan.

Nilai orang biasa adalah kita yang merdeka, boleh mendadak bertamu ke rumah sahabat walau di jam istirahatnya. Kemudian bercelana pendek ke warung depan membeli rokok, berbasa-basi kecil bila papasan pak RT. Tak lupa saling janjian bertemu lagi minggu paginya di lapangan badminton, begitu rutin dan wajar namun bebas merdeka persis kentut. Orang biasa memang mereka yang tenang hidupnya, selama tetap sehat berikut dikaruniai rezeki. Tidak melanggar peraturan formal maupun hukum adat, serta terutama tak terlibat hutang apalagi tersandung narkoba. Tidak heboh juga tak merasa perlu dihargai sehingga perlu diberitakan di koran kecuali saat meninggal. Siklus orang biasa bak sinar matahari yang rutin terbit setelah malam usai, bukan si ayam jago yang merasa fajar datang karena kokoknya. Sinarnya memberi terang serta hangat tanpa pamrih namun tidak pernah berharap dikenang juga tak perlu ucapan terima kasih.

Memang orang yang tidak biasa alias luar biasa, adalah ketika rutinitasnya mulai berubah. Kebebasan jadi terancam dan tak lagi merasa aman bahkan kebahagiannya berubah plastik, seperti Raja Midas yang menyentuh segalanya menjadi emas. Kutukan itu bisa karena jabatan atau promosi, bisa pula terjerat kekayaan plus kemashurannya. Pagar rumah perlu dibangun lebih tinggi berikut gembok besi mengunci gerbang. Tidur tak lagi nyenyak lantaran setiap "rakyat" yang lewat sembari mengagumi istananya, malah dikira mata-mata perampok. Saban menyetir mobil selalu curiga, takut diserempet atau dilempari bom. Semakin tinggi pohon akan semakin keras angin, perumpamaan bagi posisi puncak yang sudah tentu makin mengerucut sendirian serta rawan akan keterasingan berpotensi phobia. Orang tak biasa dan bertengger sendiri di puncak, otomatis sendirian dan tentulah kesepian. Kepercayaannya menipis dan hanya tergantung pada kotak obat di rumah dilengkapi berbagai suplemen bahkan valium, selain juga viagra dan aprodisak lain selayaknya apotik pribadi.

Masih ngotot jadi puncak petinggi? Lebih heboh lagi konsekwensinya. Aset kebebasan sebagai mana orang biasa tentu harus digadaikan pada jabatan. Hidup semakin ketat dan terjadwal resmi oleh protokoler, diatur ajudan yang sigap menegur jika tabiat asli muncul khawatir melanggar wibawa jabatan. Berarti lupakanlah tabiat lama seperti jajan mi ayam di ujung gang, atau nongkrong buat nonton sepak bola bareng. Para sahabat lamapun berubah sungkan, menghilang maupun dihilangkan. Termasuk hoby badminton dianggap tak pernah ada lagi. Sebab sering kalah sparring lawan pak RT, khawatir dapat menganggu kredibilitas sebagai "bukan orang biasa" lagi. Setiap pagi membaca koran hanya untuk melihat berita dirinya setelah menghadiri jadwal penting bersama tokoh penting di tempat penting, seterusnya. Seorang Jimi Hendrix yang luntang-lantung dan leluasa ngamen saban malam di bar Amerika, hanya butuh empat tahun di Inggris lantas terjerat dengan embel-embel gitaris Rock terbaik yang pernah hidup di planet Bumi lalu memutuskan bunuh diri. Bukan orang biasa dan bunuh diri? Para fanatik Hendrix bahkan mengingkari fakta, bahwa dia tak pernah mati tapi hanya pindah ke Planet Mars.
So, lantas apa daya tarik menjadi orang yang tak biasa? Lantaran begitu banyaknya orang berlomba meraih status tersebut. Malah amat kerasan dan ngotot bertahan pada kedudukannya meskipun bakal lengser sekaligus terancam demam ekslusif, post power syndrome. Semakin tua dan mapan malah jauh terlempar dari dunia nyata, orang yang semakin lupa bahwa ia bisa menyetir sendiri tanpa supir. Toko gunanya untuk dikunjungi, bukan selalu ditelepon. Nonton sepak bola di stadion kudu antri beli karcis, bukan mengutus ajudan atau perlakuan VIP. Serta Mi ayam langganan masih saja nongkrong menunggu pelanggan lama di ujung gang dekat gedung badminton. Termasuk mendaftarkan anak kuliah harus didampingi dan isi formulir sebelum ikut test, bukannya malah cuek terbitkan nota. Hal sepele namun indah tapi semakin terabaikan, karena dunianyapun telah sibuk sekaligus semu berikut tindakannya teramat artifisial.

Dunia orang biasa adalah panggung mayoritas di sepanjang sejarah. Itulah fakta, bahwa makna kehidupan yang sebenarnya justru diisi orang-orang tak dikenal. Dengan wajah, sikap dan mimpi yang sama, taat pada peraturan. Hidup wajar adalah cari aman saja. Bahwasannya Tuhan selalu memperhatikan dan menyayangi segenap umatNya, termasuk si pemain badminton yang kalah namun tak perlu masuk koran. Orang biasa bakalan tenang hidup, sejak lahir sampai meninggal. Bebas merdeka serta kecil resiko cobaannya. Sebagai dekor sejarah, bukan jadi orang jahat tapi tidak pula suci. Bayangkan jika seorang Elvis Presley masih hidup, tak lebih dari seorang kakek yang kini pensiun dari supir truk jika tak pernah nyanyi dan jadi superstar. Jimi Hendrixpun menikmati usia ke separuh abad, tanpa pusing dengan atribut dan kabel ketenaran di seputar kepalanya. Kehidupan ini harus berjalan agar esok dapat meneruskan hidup selanjutnya. Que sera sera, memang begitulah adanya. Toh sesungguhnya manusia tak pernah meminta untuk dilahirkan, kenapa harus pusing menjalani hidup bahkan takut akan kematian? Lantas, apa sih makna dan tugas hidup manusia di dunia ini sejatinya?

*dionisius endy (harian AP POST Aqcaya, 18 Juli 1999)

1 komentar:

Gea mengatakan...

Mata sering “melihat”, tapi tidak “menyaksikan”;
Telinga sering “mendengar”, namun tidak “menyimak”;
Mulut sering “berbicara”, tapi tak kuasa “bertutur”;
Pikiran bisa “mengerti”, namun tiada mampu “memahami”.

Poskan Komentar