Follow me on Twitter RSS FEED

Iya, Tidak .. Atau?

You say yes, I say no
You say stop and I say go, go, go
You say goodbye and I say hello
I don't know why you say goodbye
I say hello, hello, hello
I don't know why you say goodbye
I say hello ..

Manusia memang tak lepas dari pilihan. Baik secara tekstual mewakili ketetapan keinginannya, maupun kontekstual yg bersifat kompromi. Pilihan itu kadang mengerucut menjadi keputusan frontal antara hitam dan putih, jadi ataukah batal, ambil atau lepas, dan akhirnya berupa 'iya' atau 'tidak'. Saat itulah dibutuhkan sikap yg kompromis ataukah tegas, berupa tindakan yg taktis ataukah pragmatis. Kondisi kita kadang membutuhkan sebuah wajah selentur boneka, sebutlah si Unyil yg selalu 'belajar' untuk sanggup menghadapi kebenaran yg nyata. Unyil memiliki kelenturan wajah sekaligus monoton yg lugu walau pucat. Pilihan sanggup membuat bingung campur frustasi, tapi sekaligus berujung kelegaan berikut tawa.
Padahal urusannya memang gak sesederhana itu dan kadang gak selalu tuntas. Betapa tidak, ketika awalnya Unyil mengatakan 'iya' dan semestinya selesai, eh gak taunya hasilnya 'tidak' dan berbuntut panjang. Lantas diralat menjadi 'enggak', lah harusnya malah 'iya' yg tadi. Akhirnya kembali lagi bilang 'iya deh' sembari berusaha meyakinkan, tapi mereka sudah sepakat mendengar 'kagak' sembari mulai mempertanyakan nilai kesungguhannya. Jika perkara ini sampai menyangkut pertaruhan kredibilitas seseorang apalagi keputusan 'iya' telah gagal dihargai sbg sebuah sikap, ada sesal kenapa mesti bilang 'tidak' jika maksud sebenarnya adalah 'iya'. Ternyata perkara 'iya' dan 'tidak' memang gak selalu menjadi keputusan terakhir, malah dapat berlarut kusut.

Pengalaman itupun mendorong keberanian Unyil untuk bilang 'gak' pada suatu kesempatan yg dirasa memang membutuhkan sikap 'tidak'. Tapi ternyata gak terlampau relevan ketika mereka telah menganggap kata 'tidak', gak lagi jadi penting. Gak heran jika si Unyilpun bisa berkeringat gugup. Maka saat ia kembali ditanya memilih 'iya' atau 'tidak', unyil sekarang lebih memilih diam dulu. Unyil yg kini waspada merasa perlu untuk belajar membaca gelagat ala manusiawi. Jurus senyumannya kadang mengembang sesaat demi menutupi gejolak perasaan. Namun sebelum ia menetapkan pilihannya, semua telah sepakat menganggapnya bilang 'iya' lantaran diam terlalu lama dibalik senyuman yg mungkin sulit terbaca 'tidak' itu.

Maka untuk pertama kali dalam pelajaran hidupnya, Unyil jadi runyam dalam perkara 'iya' ato 'tidak' yg amburadul ini. Nalarnya terasa jungkir balik, meski tangannya tetap mengacung di dada. Dan gara2 pernah keceplos bilang 'iya', Unyil pernah jadi tersangka kasus penyelewengan di kantor. Padahal makna 'iya' versi Unyil adalah untuk mendukung atasannya yg meminta bantuannya. Sebaliknya, Unyil pernah nyaris ditampol tukang parkir, karena nyeletuk 'gak' buat perkara yg gak keliwat jelas di halaman mall. Lalu saat diperiksa satpam mall, Unyil bahkan balik dituduh plin-plan sewaktu menjawab 'iya'. Penjelasannya bertele-tele dan jadi cemoohan orang lain, malah konon istrinyapun malu dan berbuntut ngambek pisah ranjang.

Unyil kini sakit semakin terhimpit. Hidup gak lagi ramah buatnya, semuanya terasa mengancam dan gak pasti. Ia mulai membatasi tampil di depan publik, dunia yg selama ini menghidupinya. Juga badminton seolah memusuhinya, lantaran pernah disambit raket lawan karena ia bilang 'gak masuk'. Padahal penonton tau bahwa bola smash si Ganis memang out, tapi demi uang taruhan mereka ikut menyoraki Unyil. Sebuah kenyataan pahit jika hal ini dimaksud sbg pelajaran hidup, dan memilih bersikap plin plan jelaslah bukan pilihan. Unyil masih cukup tegar untuk bertahan, tampil secara wajar namun lebih memilih diam. Meski bukan tanpa resiko dituduh sok wibawa bahkan individualistis, bahkan senyuman gagunya dianggap gak lentur.
Ia hanya coba bersikap diplomasi tanpa niat plintat plintut, tapi memang sulit jika tak sesuai keinginan apalagi pilihannya. Namun kini peduli apa dgn pilihan, jika disekelilingnya lebih bersikap menyudutkan. Unyil tetap dipaksa untuk membuat pernyataan terhadap segala pertanyaan, menghindari berarti akan ada tuduhan baru seperti di cap gak lagi bisa dipercaya, gampangan bahkan melempem. Jidat Unyil semakin membiru, antara melawan dgn terseret arus. Ia semakin paham jika mereka hanya ingin mendengar jawaban yg ingin mereka dengar, bukan pendapatnya. Kadang sebuah pendapat dapat menentukan pilihan yg akan diterima secara kolektif, apapun pilihan tsb.

Dengan kata lain, sebuah pilihan memang akan menentukan sebuah pendapat. Bisa dimulai secara kolektif, jika pendapat itu memang ditujukan untuk umum. Rebut dulu opini yg terdapat dalam kelompok sebagai pendapat, niscaya apapun pilihan Unyil kemudian akan terasa make sense. Unyil kini bisa lebih leluasa menetapkan pilihannya setelah memahami sekelilingnya, pusat dunia ada di tengah mereka bukan pada dirinya. Ia cukup menjawab apa yg mereka ingin dengar, tanpa lagi dibebani perkara 'iya' atau 'tidak' yg bukan miliknya.Meski gak pula dapat ditutupi, bahwa mukanya tetap pucat dgn biru melingkar di jidat. Toh Unyil tetap sanggup tersenyum walau hati beku di tengah para sahabatnya, dan Unyil tetap perlu belajar. Termasuk saat menulis di blog sbg pelampiasan, keseimbangan tanpa pertaruhan akan pilihan absurd antara 'iya atau 'tidak'. Itupun sebelum hatinya turut terinfeksi menjadi badut bahkan berubah zombie.
I say high, you say low
You say why, and I say I don't know
You say goodbye and I say hello
I don't know why you say goodbye
I say hello ..

-duke-

3 komentar:

Anonim mengatakan...

"mereka hanya ingin mendengar jawaban yg ingin mereka dengar, bukan pendapatnya" That is COOL

Anonim mengatakan...

teori membenarkan diri sendiri.

endyonisius mengatakan...

Jadi, iya apa kagak nih ;o)

Poskan Komentar