Follow me on Twitter RSS FEED

GREEN ZONE

Dengan embel2 *As having been inspired by the non-fiction 2006 book
"Imperial Life in the Emerald City" by journalist Rajiv Chandrasekaran*,
the main theme of Green Zone is that the Bush administration knew
that there were no WMD (Weapons of Mass Destruction) in Iraq
well before he went there to remove Saddam and encourage
the emergence of democracy there. So if you wanna understand
the Iraq War and the lies of WMDs, this movie
delivers in simple terms.

The Weapons of Mass Destruction rumour was a clever, calculated ploy. The real experience is highly sanitized, but there is enough there for those not knowing the real deal, perang Irak adalah kebohongan dan tragedi kemanusiaan. According to this, terjadi pemaksaan pembenaran dan Special Forces soldiers loyal to Bush attacking and even murdering other American soldiers who were not finding WMD. Matt Damon's role is that of a Warrant Officer who began to question whether there ever were WMD recently in Iraq, he is hunted down by Special Forces in order to silence him. Instead it uses the real-life events as more of a topical backdrop, rather than a focal point. The end result is essentially an exciting but generic conspiracy thriller, that happens to be set in Iraq.

Terminologi Green Zone anggaplah sbg terjemahan atas wilayah khusus bebas militer di Baghdad, berpusat di sebuah hotel yg juga telah dijadikan shelter bagi para jurnalis internasional. Sehingga boleh disebut sbg kawasan terbatas 'Wilayah Internasional'. Semacam zona khusus misalnya di gedung sekretariat PBB di New York yg diantaranya berstatus kebal diplomatik, seperti penggambaran di film yahud 'The Interpreter'. Salah satu fungsi zona khusus seperti ini adalah langsung mengadopsi hukum internasional, artinya hukum lokal gak berlaku atau dikenal istilah "ekstra-teritorialitas". Konsep ini kelak disempurnakan melalui "the Vienna Convention on the Representation of States in Their Relations with International Organizations of a Universal Character 1975", khususnya utk mengatur wilayah kerja para diplomat (duta besar, dst) yg memiliki fasilitas istimewa antara lain "Sovereign Immunity" (kekebalan kewenangan).
Kembali ke bioskop, dalam kawasan Green Zone inilah Amerika leluasa menggunakan kontrol dan kewenangan secara langsung terhadap rencana pencarian dan pelucutan senjata pemusnah masal WMD di Irak. Alasan ini cukup menjadi pembenaran terhadap invasi ke Timur Tengah pada Maret 2003, didukung pembenaran stigma terorism pasca 11 September 2001 yg dianggap dikendalikan dari Afghanistan hingga kawasan "no man's land" di Baghdad. Skenario sempurna untuk memulai sebuah konspirasi berikut pembenarannya, walau ada segelintir yg mengetahui kebenaran (cepat atau lambat) dan bersikap menolak tapi minoritas selalu harus dibungkam. Terlepas dari kebenaran isu termasuk fakta sejarah, film ini memiliki relevansi umum yg gak mesti berhubungan dgn perang sbg kedok. Film ini bisa dijadikan cermin, bagi mereka yg memiliki nyali atau gak alergi berfikir :
- Green Zone, merupakan legitimasi atas sebuah pembenaran terhadap intervensi yg dimulai dgn menyangkut wilayah. Ketika sebuah kawasan dinyatakan sbg khusus, itulah saatnya "tangan luar" boleh bermain. Kondisi ini memungkinkan untuk terciptanya skenario konspirasi yg akan melibatkan banyak pemain dan kepentingan. Ketika Tuhan bersabda kepada Adam dan Hawa, "Semuanya boleh kalian kuasai, kecuali satu pohon dan buahnya itu!". Pelajaran ini adalah sebuah konsep sederhana mengenai makna dan resiko sebuah teritorial khusus, berikut hak istimewa "Sovereign Immunity" bagi Lucifer sang ular yg kemudian malah terkutuk. Apa yg selanjutnya terjadi, tiga perempat penduduk dunia sudah tahu kisahnya.

- Green Zone, menjadi awal tempat terjadinya dogma dan propaganda. Salah satu konspirasinya adalah pembenaran melalui kekerasan dan dibungkamnya opini lain yg tak sepaham. Persis doktrin paling tua dan terkenal, dari pemahaman anak kandung manusia pertama di dunia ini (jika anda meyakini, anaknya 'Adam' dan 'Hawa'). Adam sesungguhnya bukan manusia pertama dalam proses penciptaan menurut kitab Samawi, melainkan hasil rekayasa pihak lain. Justru Kain yg patut menyandang gelar itu, sbg hasil biologis antara dua manusia awal. Dialah anak sulung segala manusia dan bangsa, dan masih menurut kitab Samawi, manusia pertama ini justru pembunuh Habel, darah daging sekandungan. Peristiwa kriminal paling purba serta diketahui oleh Tuhan yg maha.
- Green Zone adalah kisah modern yg melanjutkan kisah tentang peradaban yg selalu tumbuh berikut perkembangan tehnologi adalah demi tuntutan militer dan peperangan. Dimulai dari temuan 'makna api' yg selanjutnya malah menciptakan banyak konflik berikut terciptanya alat perang. Jaman besi kemudian memutakhirkan ragam perkakas juga senjata, jaman bahan peledak, hingga era kini dgn bermacam gadget berikut pemusnah massal serta pesatnya peran satelit dan telekomunikasi. Tidak akan ada telepon, microwave, vaksin, hingga internet, tanpa lepas dari kebutuhan akan (persiapan) perang.

- Green Zone merupakan ajang pameran mutakhir terhadap perkembangan tehnologi berikut penerapannya. Senjata pemusnah masal adalah isu pintar hasil dari rekayasa tehnologi untuk menjadi alasan memulai perang atas nama kemanusiaan. Tehnologi pulalah yg mengakomodir terjadinya perang, termasuk pertempuran ideologi melalui internet. Tehnologi modern hanyalah alat, sementara mental manusia selalu tertinggal dalam harkat yg 'tetap purba'. Manusia selalu berkreasi serta memanfaatkan kemampuan akalnya, namun hanya berujung sbg pembunuh sesamanya lewat perangkat tercanggih sekaligus saling mematikan.
- Green Zone di dunia modern, merupakan kotak2 doktrinisasi sekaligus wilayah kepentingan khusus yg membuat perkara sovereignty adalah harga mati. Dunia penuh sekat, entah oleh agama, ideologi, bahasa, warna, diversity is bullshit. Hanya itukah makna kehidupan di bumi?

- Green Zone buatku pribadi, semacam pemanasan atau appetizer yg bikin penasaran untuk kelak mencerna film indie terpuji 'Hurt Locker'. Bukan karena tema perangnya, melainkan parodi nyata serta ironika 'peperangan ajang Oscar' berupa duel mantan suami istri.
Everybody always knows,
"History teach us nothing"
But who cares?
-duke-

2 komentar:

aiste mengatakan...

agak oot sedikit that history teaches nothing, and who cares? udah seperti belajar sejarah sejak sekolah dasar. semua yang dihafalin hanya demi angka di rapor, dan tidak digunakan sama sekali dalam hidup bekerja setelah sekolah.

endyonisius mengatakan...

Sejarah dibuat oleh kepentingan, terutama kekuasaan. Dan kekuasaan bukan hanya soal politik. Sejarah juga dapat bagian dari komoditas.

Poskan Komentar