Follow me on Twitter RSS FEED

"War Is A Drug" (Hurt Locker)

Posted in

When the movie starts with the tagline "War Is A Drug", seems it's true when the American soldiers takes the concept of war that way. The movie portrays the life of an American soldier inactive battle field and the way it affects his life and his thinking. Lantas apa yg menjadikan film ini pantas dibicarakan lebih? Kontroversi Oscar berikut kejutan saat ditendangnya raksasa biru Avatar sbg pertempuran simbolis mantan pasangan suami istri? Atau inikah film berbiaya murah ala indie paling realistis tentang perang dan disanjung kritikus sekaligus mendapat penghargaan "very dumb action movie" di tahun yg sama? All those things are true, but because of one another reason. Hurt Locker is an effective Iraq War movie and it focuses on the actions of its characters rather than the big speeches they make about the moral or political worthiness of the war. And it comes off as a smart action movie because the characters, the dangers, and the stakes all feel very real thanks to the Iraq setting.

'Hurt Locker' adalah istilah keseharian yg kira2 bermakna 'tempat pesakitan', atau 'lokasi berpotensi cidera menyakitkan', atau arti khusus dlm konteks perang yakni 'lokasi yg berpotensi meledak'. Rujukan ini menjadi lebih popular sekaligus spesifik melalui okupasi Irak ato juga disebut Perang Teluk III periode 2003, dan Hurt Locker tampil relevan lewat kiprah tim khusus penjinak bom (Explosive Ordnance Disposal). Maka dalam terjemahan terkini terkait keberhasilan film The Hurt Locker yg merajai ajang Oscar 2009 sekaligus prestasi sutradara perempuan pertama peraih penghargaan, adalah berkutat seputar pasukan elit EOD tsb. "Kebetulan" mengambil latar belakang di Baghdad, begitu saja.
Apa yg membuat skenario sederhana ini menarik, sekaligus ada benang merah dgn konteks serupa melalui film 'Green Zone'. Meskipun kedua film ini merupakan fiksi, namun disadur dari karya jurnalistik antara lain artikel 'The Man in the Bomb Suit' untuk The Hurt Locker. Sementara tagline 'War Is A Drug', rasanya boleh debatable. Saat sang tokoh utama si penjinak bom dgn reputasi khusus itu akhirnya kembali ke rumah bertemu keluarga, ia merasa hidupnya hampa. Selanjutnya gampang diterka, si tokoh lebih membutuhkan sesuatu yg sanggup memacu adrenalin sebagaimana ia 'hidup' dan bermakna dgn menundukkan setiap jenis bom, bertualang memburu musuh, perang sebenarnya. Tentu ini bukan perkara chauvinis semata, melainkan ada 'kecanduan'.
You have to be brave,
You have to be crazy,
You have to be brave ..
And you have to be the best!
Eksistensi tiap orang emang berbeda dan khas. Menjadi orang penting sbg aktor utama di medan perang, adalah salah satu tujuan dan panggung hidupnya. Menjadi orang biasa yg berarti siap sbg figuran adalah salah satu pilihan, tapi biasanya bukan pilihan utama. Tentu saja ia memiliki keyakinan yg cukup untuk menjalani tiap detail hidupnya, seolah bersiap menjalani sekuel adegan ke berikutnya:
*There's enough bang in there to blow us all to Yesus.
So, when I'm gonna die, I want to die comfortable .. soon!*

Begitu enteng namun nyata, keyakinan atas pilihan berikut segala tindakannya. Sekaligus ringan sebagaimana santainya ia ketika ditangkap oleh patroli malam:

(-) : Prajurit, ngapain kamu ada di luar tangsi malam begini?
(+): Iseng ajah, just visiting a whorehouse.
(-) : Oh ok, masuk! Psstt, will you tell me where it is exactly?

Ketika seseorang berhubungan dgn 'kecanduan', semua tujuan emang jadi tampak sama. Yang membedakan hanyalah proses dan peristiwanya, tentu sasarannya ada pada "sensasi". Simbol ini diwakili melalui tokoh utama yg selalu merokok tanpa henti, ia hanya bisa berhenti saat sedang menikmati sensasi menundukkan bom. Sekali lagi, kebetulan latar belakangnya adalah perang, sehingga harus menyesuaikan. Maka ketika latar belakangnya berpindah ke rumah yg monoton untuk dibandingkan dgn medan tempur nan riuh, taraf sensasinyapun berubah. Orang seperti ini tipikal yg selalu membutuhkan Hurt Locker.
Jadi ketika The Hurt Locker lebih cocok disebut sbg film drama, itu sah saja. Hanya kebetulan mengambil latar belakang perang, dan berlokasi di Baghdad. Tapi rasanya bukan jadi kebetulan, jika tragedi perang Irak lantas dibelokkan menjadi sebuah drama. Dan faktor inilah yg rasanya dibutuhkan Amerika, termasuk panitia Academy Oscar yg seolah mendapat bahan. Perang butuh propaganda, termasuk untuk menutupi jejaknya. It makes no political statement about the right or wrong of the war. With the way the war is shown on TV news we know about roadside bombs and suicide bombers. So what can this kinda movies tell us about what is going on then especially in Irak?
Probably the most impressed at the way, The Hurt Locker takes a different stance than
the *War is Hell* morale. And we've been seeing over and over, at one blow makes
The Hurt Locker -might be- deserves to win over the Avatar movie.
-duke-

2 komentar:

aiste mengatakan...

it's an interesting view to show that i have a hurt locker relationship as well as home is not that interesting to be home compared to being outside and having another life. pity but true.

endyonisius mengatakan...

Thanks for sharing

Poskan Komentar