Follow me on Twitter RSS FEED

The Gathering [2002]

Posted in

With the tagline, "Evil Souls Rule", it dares us to ask a few interesting
questions about
freewill against predestination, about what is obscene and
what is punishment, is the truth
always better than a lie, do bystanders
shoulder any of the blame for violence that happens
in front of us.
It really does bring up interesting issues to think about,
at least it did .. with me.

Kadang dalam menikmati film, bisa dilihat untuk dipahami dalam berbagai cara. Sebutlah melalui penggolongan selera yg juga disebut genre, pilihan artis atau sutradaranya, serta minat pribadi si penonton. Sehingga dalam satu paket akhir keseluruhan, baru muncul sekadar apresiasi yg bisa amat subjektif dan masih tergantung si penikmatnya. Misalnya menikmati film 'Nacho Libre', akan sulit jika ingin dibandingkan 'apple to apple' dgn tipe sejenis karya Eddie Murphy, apalagi tipe parodinya Wayan Brothers. Nacho Libre memiliki humor absurd dgn pendalaman satire, sebanding film 'Napoleon Dynamite'. Kedua 'komedi aneh' yg memiliki karakter khas berikut penggemar tersendiri dalam kategori 'cult movies', kebetulan karya sutradara yg sama yakni suami istri 'Jared and Elizabeth Hess' dgn semangat bertutur ala Indie Label atau independent.

Begitupun saat mencerna film kategori Oscar 2007 (sempet kaget karena bisa tayang di bioskop Indonesia), No Country For Old Men. Karena perlu bekal cukup untuk gak kaget dan penasaran di bioskop lantaran 'Kok cuma segitu doang? Sama seperti di atas, jika sudah pernah nonton film 'Fargo', seolah menjadi sekuelnya. Bukan pula kebetulan jika sutradaranya sama, kakak beradik jenius yg dikenal sbg The Coen Brothers. Fargo memiliki tokoh sentral bernama 'Grimsrud' (Peter Stormare) sbg pembunuh bayaran asal Swedia. Maka dapatlah ia dianggap sbg awal eksistensi tokoh antagonis 'Chigurh' (Javier Bardem) pada skenario noir No Country For Old Men. Coen Bros sering menggunakan simbol tipikal begini dalam membangun karakter filmnya. George Clooney malah muncul tiga kali dalam penampilan yg berbeda namun konsisten sbg Kabayan dgn gelar The Trilogy of Stupidity. Di film 'Intolerable Cruelty' sbg pengacara pandir dgn ciri terobsesi dgn penampilan giginya. Pada 'O Brother, Where Art Thou?' menjadi bandit pelarian yg sibuk dgn rambutnya, dan 'Burn After Reading' lebih konyol yakni mati ditembak di lemari. Detail memang mengasyikan. Lalu apa relevansinya dgn film The Gathering serta dimana faktor menariknya?
Sinopsis:
Sebuah mobil melaju kencang di jalan sepi pedesaan terpencil Ashby di Inggris. Sang pengendara terganggu konsentrasinya akibat ulah anaknya yg duduk di bangku belakang, lalu mendadak menabrak seorang wanita. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata ia gak mengalami luka berarti. Kecuali mengakibatkannya mengalami amnesia bahkan lupa siapa dirinya walau bukan karena gegar otak. Sebagai rasa bersalah dan simpati, sang pengendara mobil itupun membawa si korban ke rumahnya selama pemulihan. Selanjutnya si korban dipanggil Cassie, ia bisa akrab dgn anggota keluarga lain maupun masyarakat di sekitarnya. Cassie bertemu seorang pria yg mengaku pernah bertemu dengannya sebelumnya, anehnya ia bisa merasa bahwa telah memang kenal dgn pria itu. Antara ingatan samar, bahkan Cassie merasa sedang diikuti dan diawasi.

Suami dari sang pengendara mobil yg menampung Cassie adalah seorang pakar barang antik (arkeolog?), sedang meneliti sebuah penemuan misterius pada bangunan gereja tua yg telah tertimbun di bawah tanah. Diperkirakan bangunan itu telah berdiri sejak awal abad masehi, di tengahnya terdapat patung salib berukuran manusia dikelilingi relief mural berupa beberapa wajah yg berkesan sedang menonton salib. Ketika Cassie pernah melihat beberapa foto relief itu yg seolah menggambarkan aktifitas sebuah kelompok (gathering), Cassie yakin ia malah mengenal para wajah pada relief tersebut. Dan ingatan itu bukan pertanda baik, akan tiba sebuah kutukan besar yg pernah ada dan terus berulang selama berabad-abad. Kini bencana akan terulang kembali, kali ini menghampiri seluruh penduduk di desa tersebut.
Wow Factor:
Tidak ada hal istimewa secara akting dan cerita, termasuk penampilan Christina Ricci yg pernah heboh sbg 'anak kecil bertubuh dewasa'. Karakternya gak menuntut akting prima dan berkesan 'bisa diperankan oleh artis siapa saja'. Ada potensi twisting plot seperti film The Others (Nicole Kidman) namun terlalu bertele-tele dan mudah diikuti. Mungkin memang gak bermaksud mendaki menjadi ending kejutan, maka durasi 90 menit terasa gagal meraih penasaran. Namun tetap bisa menarik, setidaknya dari ide cerita dan aspek misteri yg relatif subjektif. Kisah dgn latar belakang penyaliban Yesus, selalu merangsang minat. Baik secara religius-theologi, sejarah, arkeologi, hingga mitos berikut para tokohnya.
Film 'Fallen' (Denzel Washington, 1998) pernah mengangkat kisah malaikat Azazel yg merasuk pada salah satu prajurit Romawi yg saat itu bertugas menusuk lambung Yesus dgn tombaknya. Kehadiran Azazel untuk memberi saksi kematian Yesus, namun jiwanya terkutuk serta terperangkap sepanjang masa pada tiap manusia sbg medianya. Sebuah tema yg berkaitan dgn film the Gathering, adalah mitos mengenai sekumpulan orang setempat yg baik secara sengaja maupun kebetulan berada pada saat penyaliban Yesus. Mereka hanya menonton, baik secara ingin tahu yg manusiawi maupun kebetulan lewat. Namun kepada mereka semua dijatuhi kutukan atas tuduhan tdk mengambil tindakan apapun untuk menolong Yesus selain 'hanya menonton pasif'. Mereka tidak saling mengenal namun menjadi kumpulan bersama sepanjang jaman yg dikutuk harus menyaksikan tiap bencana besar di dunia. Dengan kata lain, munculnya sekelompok orang ini di suatu tempat akan menjadi pertanda bencana namun selalu hanya sbg penonton tanpa mampu berbuat apapun.
Keberadaan kelompok ini pernah dicatat oleh para imam Sanhedrin (pejabat agama Yahudi), juga tokoh Joseph of Arimathea. Film ini sedikit menyinggung peran Joseph yg dikaitkan dgn sejarah perayaan lokal (folklore, atau urban story) yg dikenal 'the Glastonbury Festival'. Semacam pesta seni rakyat berikut atraksi yg konon diilhami kebudayaan kaum pengelana (hippies) yg memilih sebuah tempat pertemuan (Glastonbury) sbg pusat berkumpul di tiap tahun. Sementara di Gastonbury memang pernah ditemukan sebuah gereja tua, diyakini dibangun oleh Joseph of Arimathea berikut relief mural. Menurut Injil, Joseph inilah yg meminjamkan makamnya buat pembaringan terakhir Yesus.
-duke-

1 komentar:

SID mengatakan...

Kematian terkadang memang membahagiakan

Posting Komentar