Follow me on Twitter RSS FEED

Characteristics of the Employee

Konon menurut sebuah sumber, ada empat tipe pada "bawahan yg bermasalah". Siapa yg dimaksud 'bawahan', gak begitu penting karena setiap manusia pada dasarnya adalah bawahan. Di kantor boleh saja dipanggil bos atau 'be your own bos', tapi faktanya tetap gak jadi bos lagi secara lelaki saat tiba di rumah. Sebaliknya, sebagaimana di atasnya istri tetap saja girang menjadi bawahan terutama pada posisi misionaris. Pun gak terlalu penting apa yg dimaksud 'bermasalah', siapa sih yg gak punya masalah. Dan sebelum tulisan ini malah bermasalah, langsung menuju ke tekape. Relevansinya dapat digunakan untuk menakar potensi dan kelemahan diri sendiri.

1. Alienated Follower (Terasing, Solitaire)
Cirinya, bekerja menurut 'cara gue'. Prinsip 'gaya gue memang beda' sertarelatif bukan bagian dari team. Biasanya memang punya cara berpikir sendiri dan capable, terutama pekerjaan bersifat task force dan mandiri. Jeleknya sering bersikap negatif terhadap cara dari orang lain atau masa bodoh termasuk kepada atasan. Dia bisa memilih gaming Age Of Empire ketika sekantor sedang panik karena pekerjaan, cenderung gak perduli dengan status dan kondite.

Penyebabnya, 'broken trust' atau pernah mengalami trauma batin. Entah dalam kehidupan pribadi maupun kondisi di kantor, serta harapannya sering gak tercapai (Unmet Emotional Needs). Selain kadar intelektualnya, tabungan emosi dan rasa emphatinya sudah punah.

Cara mengatasi, pendekatan persuasif sambil mengarahkan, bukan menghukum. Mungkin dgn kursus atau sekolah lagi, kelak membawa nuansa segar buatnya saat kembali ke kantor dan mulai menerima pekerjaan secara team. Setidaknya dia bisa tampil mengaplikasikan ilmu barunya sekaligus 'menyembuhkan' emosinya sbg aset.
2. Conformist Follower ('Yes' Man)
Cirinya, enteng dgn "Siap, boss". Meskipun ungkapan ini sudah semakin umum, tapi bisa menjadi kebiasaan sbg sikap awal Asal Bapak Senang. Gak jelek sih, tapi kebanyakan bikin kesal terutama bagi karyawan lain. Suasana kerja akan cenderung gak kondusif, bakal krisis tanggung jawab pada sebuah pekerjaan bersama.

Penyebab, 'invalidating' atau akibat pendapatnya selama ini selalu disalahkan serta diabaikan. Pengalamannya bisa didapat dari orang tua atau senior yg otoriter, atau pernah punya boss diktator. Masalah akan timbul ketika giliran dia jadi bos bahkan orang tua, gak punya inisiatif bahkan gak berani bersikap sebagaimana pemimpin.

Cara mengatasi, yakinkan dia boleh mengeluarkan pendapatnya duluan atau ngomong beda. Akar masalah ada pada confidence. Bisa dipancing melalui topik atau hobby yg dia kuasai, sebelum dia mengkeret lagi dan keburu bilang, "Terserah deh boss".

3. Pragmatist Follower (Cari Aman)
Cirinya, 'independent' atau bekerja untuk kepentingan bagi mayoritas. Bakat berpolitik-praktisnya masih bisa dimanfaatkan selama ada hitungan untuk dirinya, tapi soal loyalitas dan kredibilitas gak bisa dipegang. Pekerjaan relatif bisa diselesaikan (beda dgn 'dikuasai'), dgn takaran sesuai cara aman sekaligus bersiap cari peluang lainnya.

Penyebab, umumnya karena pengaruh lingkungan terutama kegemarannya berorganisasi. Segala pengalaman cenderung membuatnya gesit dan ahli memanipulasi, termasuk berperan jadi bos ketika bos gak ada. Mungkin dia pernah mengalami trauma yg membuatnya harus pandai membaca situasi sekaligus mengambil hati agar aman.

Cara mengatasi, diplomasi, jika perlu ala diplomat dgn tehnik tarik ulur. Apa itu? Sebuah diplomasi kadang mencapai hasil ketika salah satu pihak yg awalnya merasa dirugikan namun akhirnya dapat diyakinkan gak rugi atas nama 'win win solution'. Dengan adanya kesempatan berbicara, itu sudah merupakan keuntungan tersendiri bagi sang karakter diplomat.
4. Passive Follower (Kepala Batu)
Cirinya, 'Lazy, Unmotivated, Stupid, Incompetent' sbg akronim dari LUSI, boleh juga di reposisi menjadi USIL, atau SIAL/ALIS (Stupid, Incompetent, Apatis, Lazy). Ini rada kronis dalam tinjauan kinerja kerja keseluruhan, tapi celakanya mayoritas kantor justru dipenuhi karyawan ginian. Entah karena 'kecelakaan' saat recruitmen, atau jalur 'belakang' (KKN).

Penyebabnya, selain dicurigai sifat bawaan yg bermasalah, adalah karena faktor eksternal misalnya 'bekerja sbg pemberontakan'. Apapun itu, yg jelas kehadirannya justru berakibat menambah masalah baru. Maka sekali lagi, 'bongkar' lewat dialog yg dapat memancing minat secara tertentu.

Cara mengatasi, 'evaluation' dan dia perlu tahu bagaimana pandangan orang sekantor terhadap dia (try to express). Dari empat faktor masalah LUSI, pasti ada satu aspek yg dapat digunakan untuk di 'made it up'. Termasuk niat pemberontakannya masih bisa diarahkan terutama berkaitan soal minat. Khabar baik bagi pengikut LUSI, kadar loyalitasnya (buta tapi nurut) terkadang menjadi aset.
To Sum Up:
Kiat yg bisa relevan untuk mengatasi semua masalah ini adalah komunikasi, serta penerapan strategi "Kenali dirimu dan musuhmu". Ketulusan (sincere) menjadi elemen penting sebelum ada saling mempengaruhi, terutama saat berhadapan dgn tipe lain yg belum disebutkan seperti para Opportunist yg terkadang bisa ekstim bak terorist mencari follower as trouble makers.

Serta untuk menghindari terjadinya saling Pecut apalagi sampai adu saling Pecat, perlu saling mempertimbangkan bahwa sebuah sekrup kecil merupakan komponen penting pada mobil. Sekaligus ada baiknya menerapkan butir positif dari "Characteristics of the Ideal Employee" :
1. Dependability
2. Honesty and Integrity
3. Positive and Proactive Attitude
4. Willing to Work
5. Uses Down Time Productively

3 komentar:

aiste mengatakan...

Ada berbagai cara meninjau karakteristik. Apapun itu, yang paling sulit adalah menghadapi orang dengan campuran semuanya. Dalam konteks tinjauan di atas, ke empatnya dengan porsi tertentu. Misalnya orang tipe 1, dari yang cuek namun setelah belajar pulang dan dapet ilmu, secara tidak sadar malah menganggap diri paling pinter dan musti disegani dari kombinasi tipe 4. Kemudian dalam jalur politis karir ketambahan pula cari aman dengan posisi yes man. Maka soliter aslinya yang tidak peduli itu semakin tercemar. Apapun campurannya, yang paling gak nyaman untuk teaming adalah yang soliter, merasa paling pinter dan sensitif tapi sebodo saking keras kepala. Yang asik emang gambar pertama yang banyak beredar belakangan ini. Mo dilihat dari sudut mana aja, gak beda, sama baunya.

endyonisius mengatakan...

Seseorang dgn karakteristik berikut kemampuan mencapai mixed up, berarti saatnya mencapai higher level. Memang membingungkan bagi yg selalu memperlakukan bahkan menganggapnya selalu staf.

aiste mengatakan...

yang ingin saya katakan bahwa yang mixed up dengan balance mempunyai pribadi yang lebih kompleks dibandingkan dengan yang mixed up namun mempunyai salah satu karakteristik yang lebih menonjol, karena pada dasarnya semua orang mempunyai semua karakteristik itu. dan orang yang mixed up tidak berarti dia siap mencapai higher level. pikiran seperti itulah yang menyatakan sebenarnya dia tidak cukup matang untuk masuk higher level. higher level yang dijabat oleh orang yang mixed up dan tidak matang tidak akan mencapai team yang baik. gimana dia mau jadi pimpinan yang baik jika dia berpandangan untuk mencapai higher level perlu orang yang mixed up. artinya semua stafnya tidak mixed up, atau jika ada yang mixed up, bersaingan dengan bos yang sudah mixed up dan higher level akan terjadi friksi. dengan demikian, orang mixed up yang menganggap sudah waktunya masuk higher level dengan kondisi tidak matang hanya akan jadi pimpinan yang egois. there is no "I" in "teamwork". tidak ada huruf "i" pada kata "teamwork", tidak ada kata "saya" dalam sebuah "kerjasama".

Poskan Komentar