Follow me on Twitter RSS FEED

The Others [2001]

Posted in

Sesuatu yg bertujuan baik, umumnya akan berdampak baik, apalagi jika diberitakan secara baik. Terlepas kadar baik bagi tiap individu bisa berbeda, namun nilai kebaikan semestinya universal termasuk menikmati film horor secara baik-baik. Sebegitu sulitkah untuk memulai sebuah review horor dgn baik, apalagi berikut konten twist yg berpotensi spoiler? Baiklah, sesaat dialihkan dgn topik sexy mengenai Nicole Kidman. Salah satu artis yg gigih ber-metamorfosa sejak perkenalan awalku lewat Days of Thunder(1990), Far & Away (1992) nan menggelora, serial panas B.F aka Batman Forever, hingga favoritku To Die For dan Eyes Wide Shut. Aset Nicole menurutku adalah bakat bunglon, meriah secara artifisial lewat Moulin Rouge, berubah dingin pada Birthday Girl. Bagaimana untuk genre horor tepatnya psychological thriller dalam situasi yg jauh dari status "gore" apalagi sensasi murahan ala pocong? Ada dua latar yg kemudian mempertemukanku dgn film The Others, pertama promosi rekan Dion via topik One of Scariest Movie 2001 di milis Radioliner. Berikutnya saat bertemu rekan di rental EZY yg kebetulan sedang mengembalikan VCD The Others plus komentar, "Film rada aneh tapi menarik, tentang keluarga tertutup dan berhubungan dgn dimensi berbeda". Akibatnya aku menyewa film tsb plus si Dave, nama rekan asik tadi, langsung kuundang ikut milis Radioliner. Hepi ending kan? Walau rada aneh untuk memulai review berikut ini.
Inggris 1945, pasca Perang Dunia II. Premis yg menjanjikan latar misteri pada sebuah puri Victorian di pinggiran Jersey, megah tapi terkucil. Grace (Nicole) seorang Katolik taat dan ibu dua anak yg menderita phobia anti cahaya, semacam photo-sensitivity lewat keterangan pada sampul film. Mereka setia menanti kedatangan kepala keluarga yg bertempur melawan Jerman, lewat rutinitas termasuk peraturan aneh. Yakni setiap gorden dan jendela harus tertutup rapat, gak boleh ada cahaya matahari termasuk pintu selalu terkunci. Maka selain suram dan hening bahkan piano hanya pajangan, sang ibu di sepanjang film selalu sibuk membuka dan kunci pintu tiap ruang yg baru dilalui. Ritual begini telah sanggup membangun dampak psikologis lewat situasi cerdas dan misterius, ditopang kesenyapan ketimbang sound effect nan hingar bingar. Ini film senyap, serba tergesa-gesa sekaligus rutinitas beku nan membosankan, semakin menggelisahkan. Berbeda horor semacam The Omen yg lebih bertutur serta mengandalkan nalar penonton untuk menemukan seram masing2, The Others sanggup menjerat penonton hingga lelah dalam nalar yg sengaja dirajut hingga meledak hanya pada 5 menit akhir. Itulah formula twist-ending yg dioptimalkan Alejandro Amenabar, sutradara Spanyol spesialis twist yg kukenal lewat film Abre Los Ojos (Open Your Eyes) dan dibuat ulang dalam versi Inggris berjudul Vanilla Sky. The Others merupakan film pertama Amenabar dalam format berbahasa Inggris, termasuk kemunculannya sbg cameo walau hanya berupa foto mayat berkumis dari kelompok tiga orang.

Ada beberapa detil yg sengaja mendikte sekaligus mengalihkan konsentrasi penonton. Misalnya perlakuan ekstra keras Grace terhadap kedua anaknya antara lain hukuman berupa menghafal ayat Injil akibat berbohong atau bandel, padahal mereka "terpasung" di dalam ruangan terutama hambatan penyakitnya. Latar belakang religi dihadirkan selain untuk memperkuat kondisi masyarakat urban saat itu, juga membenturkan perkara keimanan seperti genre The Omen hingga The Exorcist. Trend ini gak masalah buatku, sesungguhnya jika ingin dicermati jadi panjang, umumnya naskah horor klasik justru hadir dalam latar belakang agama yg kental bahkan fanatik. Bukan kepada setting pertempuran antara hitam dan putih, kebaikan versus kejahatan, melainkan reposisi manusia yg memang penuh paradox sekaligus ambigu hingga dikehidupan nyata. Bukankah sudah jamak bagi mereka yg rajin menghafal ayat serta sibuk dgn urusan agama, justru paling rentan dgn urusan menggugat Tuhan jika kehidupan makin tak nyaman buatnya ketimbang introspeksi? Manusia sesungguhnya mahluk Tuhan yg sempurna, ataukah justru lemah dihadapanNya, itu perkara individual. Maka kehadiran dan peran The Others lebih merupakan pembenaran sepihak yg umumnya disebut "manusiawi" padahal secara manusia pulalah terpasung menjadi blur (bukan blunder) untuk mengandalkan kekuatannya sendiri. Atas nama Tuhan katanya, padahal sedang memerintah Tuhannya. Begitulah saat Grace lantas terjebak dalam dunianya sendiri dan tergopoh-gopoh menjemput Pastor dgn menembus kabut tebal, tanpa diduga malah bertemu suaminya yg lama ditunggunya. Simbol sederhana terhadap pengalihan yg justru selalu menipu keinginan terdalam manusia.
Seperti pesan di awal, sesuatu yg bertujuan baik umumnya akan berdampak baik, apalagi jika diberitakan secara baik. Terlepas kadar baik bagi tiap individu bisa berbeda, namun nilai kebaikan semestinya universal termasuk mengunyah tulisan ini secara baik-baik. The Others lebih merupakan media dgn embel2 film horor, terserah apakah penonton cukup mengunyahnya sbg hiburan yg telah dibayar seperti tipikal borjuis, ataukah bersedia diteruskan sbg pesan berupa kebaikan tertentu. Gak beda saat selesai menonton Silence of the Lamb atau Sixth Senses yg berkesan lebih gampang dikomentari, mungkin hanya terletak pada dampak kegelisahan yg ditimbulkan secara berbeda saja. Ketika horor telah diterjemahkan secara literate berupa hantu, sebetulnya "hantu yg mana" atau horor macam apa yg diinginkan? The Others nyatanya sanggup mewakili horor versiku untuk berpesan mengenai hakiki manusia yg terpasung penuh keterbatasan namun bukan alasan untuk membatasi kemampuan manusia sbg anugerah tertinggi. The Others juga baik untuk refleksi saat manusia makin cenderung meng-hantu-kan sesama manusia lainnya, termasuk memanfaatkan agama yg gak mungkin dibahas tapi digunakan sbg aset pembahasannya. Dan sebelum tulisan ini berkembang menjadi potensi gak baik termasuk tergoda menjadi spoiler, ada baiknya ditutup dgn meminjam tagline: Sooner or later, they (the truth) will find you!
-duke-

3 komentar:

Anonim mengatakan...

pernah nonton di tv dikirain film perang

endyonisius mengatakan...

Itulah yg kumaksud dgn "Premis yg menjanjikan .."

Anonim mengatakan...

Film hantu ya??

Poskan Komentar