Follow me on Twitter RSS FEED

Musik Dan Musikalitas

Posted in

this is just a little samba
built upon a single note
other notes are bound to follow
but the root is still that note
Apakah musik suatu perkara eksak? Or originality sumting human? Bagaimana saat ia berhubungan dengan perasaan? Bagi sebagian, musik terkait dgn kesan dan selera yg bisa cenderung subjektif. Sehingga muncul perasaan tenang, semangat, sedih, bahkan terganggu saat mendengar musik. Aspek yg terkait dgn soal rasa dan kesan ini yg selanjutnya disebut Afektif. Sementara mereka yg lebih berminat terhadap proses terjadinya nada hingga lagu, skala apresiasi dan interpretasi karya, bahkan melakukan semacam proses "analisa" untuk "membedah" sebuah komposisi, bisa disebut pendekatan tehnis yg lebih terukur dan disebut Kesan Parametris. Tinjauan ini setidaknya dapat meliputi beberapa aspek tehnis seperti frekwensi (tinggi rendah nada), durasi (ritme, tempo), dinamika dan warna bunyi, hingga artikulasi dan pernafasan terutama untuk konteks vokal.
Maka jelaslah, musik pada dasarnya ilmu eksakta, terutama ketika berbicara perihal musik secara tehnis maupun terlepas dari konteks musikologi. Salah satu contoh, pelajaran (teori) musik adalah berdasarkan dalil hitungan teramat eksak melalui notasi. Proses pada aransemen musik merupakan perhitungan terhadap nilai nada (not), ketukan dan skala birama, dinamika dan pergerakan, dst. Melalui satu komposisi lagu sederhana, adalah kumpulan berupa racikan dari chord progression dalam mengikuti tata atur secara logis berikut susunan not tertentu yg secara sengaja dibentuk. Dalam proses transposisinya juga melibatkan hitungan yg begitu eksak dan detil, hingga kelak tersusun kombinasi antara elemen bunyinya menjadi keselarasan. Apalagi dalam perkembangan musik modern, seumpama Jazz yg "menghalalkan" unsur kebebasan (improvisasi), sering terdapat beberapa bar (section) yg cukup diberi simbol khusus untuk "membebaskan" sebuah "kuplet" (session) tanpa ikatan notasi. Artinya, sang pemusik (instrumentalist) bebas mengisinya dgn improvisasi pribadi. Musik memang begitu demokrat, bebas, sekaligus berdaulat.
now this new note is the consequence
of the one we've just been through
as i'm bound to be the unavoidable
the consequence .. of you
Dari sudut pandang lain, pembuatan berbagai instrument musik modern, jelas merupakan aplikasi eksakta karena menggunakan ilmu fisika untuk memproduksi kualitas dan tipe suara demi bunyi tertentu. Contoh pada panjang dan ketegangan senar harpa harus dihitung secara tepat lewat proses ilmiah untuk menghasilkan formasi 'alunan nada untuk para dewata' ini. Juga kisah Brian May (gitaris Queen) yg memulai dgn menebang sebuah pohon mahogany tua hanya untuk mendapatkan kualitas suara berikut berat tertentu pada gitar legendarisnya, mempreteli sebuah motor antik sbg elektrik, kelak karya khasnya dijuluki The Reds Special dan sbg salah satu ciri sound Queen. Apalagi Brian May memang seorang musisi perfecksionis sekaligus penyandang atribut sarjana fisika secara akademis.

Menyanyi juga merupakan perkara yg eksak, bagi yg mempelajari voice secara serius. Penyanyi yg baik perlu memahami bahwa suara yg diproduksi berasal dari resonansi di rongga badan yakni head, nasal, chest cavities dan tenggorokan. Pemahaman ini dapat digunakan untuk mempelajari sekaligus mengeksplorasi tehnik vocal menggunakan diaphragm maupun sbg penggunaan falsetto dan whistle voice, tanpa membuat cidera tenggorokan atau mengakibatkan nafas ngos2an. Serta dikenal tehnik pemanasan yg disebut vocalizing, kesemuanya adalah ilmu yg nyata sistematis dan dapat dipelajari lewat metode. Kesemuanya merupakan proses dan dinamika standard yg dapat terus diperbaharui hingga ditularkan, hingga mencapai parameter dan jenjang tertentu atas nama keindahan maupun tingkat kesulitannya. Objektivitas musik memang dapat diukur walaupun hanya berdendang satu nada atau satu instrument, justru disitulah kadar kesempurnaan nan paripurna.
there's so many people who can
talk and talk and talk and just
say nothing, or nearly nothing
i have used up all the scale i know and
at the end i've come to nothing
or nearly nothing ..

Jika telah ada jurusan logika matematika maupun non eksakta seperti sejarah pada strata sarjana, sepatutnya adapula jurusan musik di universitas. Dalam tuntutan jaman, perkara musik sudah merambah kepada hal lain seperti pengembangan tehnologi, perangkat bunyi hingga media dan ranah lainnya seperti kronologis diskografi, bisnis, media dan pengembanganya. Misalnya pengembangan jenis software yg secara matematis dapat menganalisa sound spectrum pada sebuah komposisi. Sehingga bisa disebutkan bahwa beberapa contoh lagu Pink Floyd memiliki sonar frekwensi setara lolongan anjing sedang depresi, atau beberapa lagu Norah Jones rupanya identical dgn komposisi classical such as Beethoven. Atau fenomena yg pernah jadi trend baik secara musikal maupun bisnis adalah korelasi beberapa komposisi karya Mozart dgn perkembangan signifikan bagi otak bayi.

Saya pribadi bisa menyenangi beberapa karya Pink Floyd, yg berarti -seharusnya- telah dapat mengapresiasi lolongan anjing. Juga amat menikmati hasil kerja Norah Jones secara lagu yg disenandungkan maupun parasnya ehehee .. Dengan meninjau analogi di atas, apakah lantas karya seorang Beethoven bisa berarti punya kemiripan spectrum melalui contoh lolongan anjing depresi itu? Memang perlu tinjauan popular berikut pertimbangan yg lebih sistematis dan komprehensif. Serta pada akhirnya boleh memerlukan sebuah metodologi dalam kerangka berfikir ilmiah maupun secara filosofis yg antara lain kini bisa ditemukan dalam aspek keilmuan tertentu bernama ethnomusikolog.
so i come back to my first note
as i must come back to you
i will pour into that one note
all the love i feel for you ..
Jika pada dasarnya musik itu adalah eksak, serta manusia adalah tipikal mahluk hewani nan emosional, maka pada tahapan manusiawi lebih tinggi akan menuntut nilai musikal sbg jembatan apresiasi yg bernilai abstrak. Karena berbeda dgn anjing misalnya, manusia walaupun sesama hewan mamalia, pembeda melalui musik sbg salah satu aspek seni telah merupakan sarana yg menghubungi struktur fisik, emosi, dan memori. Pada konteks inilah manusia boleh merasa sbg mahluk teristimewa di tatanan jagad raya bahkan sering diungkapkan lewat gambaran film fiksi seperti "betapa herannya para Alien saat mempelajari manusia yg dikisahkan begitu kompleks termasuk misteri berupa unsur emosional".

Maka manusia yg mengaku "nyeni", bisa dikategorikan telah memiliki kemampuan dalam mengolah dan memenej (manage) ekspresinya. Baik secara aktif (pelaku seni) maupun pasif (penikmat), serta kemampuan yg disebut olah emosi melalui interpretasi. Entah terhadap lirik lagu maupun nadanya saja (musik instrumental), yg didukung penampilan sipemusik atau hanya diresapi merem. Maupun nada yg kompleks berikut movement berikut lirik, ataukah hanya bersenandung satu nada dan kesemuanya adalah sama : MUSIK. Jika sudah mencapai taraf beginian, konon kumplitlah faktor yg telah melengkapi manusia sbg mahluk paling sempurna sekaligus hewan beradab : MUSIKALITAS.
any one who wants the whole show
do - re - mi - fa - sol - la - ti - do
he will find himself with no show
better play the note you know ..

-duke-

5 komentar:

Anonim mengatakan...

Musik memang sebuah ritual tersendiri bahkan religius nan hakiki, makasih buat tulisan ini.

kimha mengatakan...

gimana dgn tinjauan pada musik dan musisi tradisional kita? apa baru dibahas jika telah diakui oleh negara tetangga saja ??

Anonim mengatakan...

maksudna musik selain terkait afektif dan kesan parametris, juga terkait apresiasi pada penyenandungnya terutama jika penyenandungnya membawa unsur subjektif yang membawa kenikmatan?

Ign.Susanto mengatakan...

Pencerahan yang bisa menegaskan tentang pemahaman bahwa musik bukan hanya untuk hoby bahkan pengisi kegiatan saat luang belaka. Maka musik adalah cerminan peradaban serta hakiki ciri kemanusiaan itu sendiri.

weny mengatakan...

yang disebut nilai-nilai musikal itu seperti apa???? mohon penjelasannya.....mksh sbelumnya....

Poskan Komentar