Follow me on Twitter RSS FEED

Li Na (Australian Open)

Posted in

Udah lama gak ngobrolin tenis nih, apalagi setelah gw pindah lapangan dan ganti raket ke badminton untuk 10 taonan akhir. Maka sbg pembuka topik adalah 4 turnamen tenis akbar dunia yg disebut Grand Slam, salah satunya yg masih berlangsung di babak terakhir. Grand Slam adalah pesta bergengsi meliputi reputasi tertinggi dalam hal ranking para pesertanya, jumlah hadiah, karakteristik khas lapangannya, unsur penonton dan liputannya, serta yg menjadikan amat khas adalah tradisi sesuai waktu turnamen yg seolah mewakili 4 musim berbeda. Secara urutan penyelenggaraan, ajang Grand Slam dimulai tiap awal tahun bertempat di lapangan keras kompleks Melbourne Park. Dengan Rod Laver Arena sbg ikon sekaligus diterpa musim panas setempat, digelari sbg turnamen Australia Terbuka dgn tema gak resmi "The Heat is On". Lalu tiga ajang berikutnya adalah di Roland Garros-Prancis, Wimbledon-Inggris, hingga ditutup di Flushing Meadows-Amerika sekaligus seri penutup di ujung taon.
Dari sekilas intro di atas, sudah dapat terbacalah pamor ajang tenis Australia Terbuka serta terbayang status para pesertanya. Berdasarkan tema The Heat is On, dapat diperkirakan ajang ini selalu jadi tantangan para petenis yg terutama datang dari negara dingin. Sekaligus dapat merupakan keuntungan bagi petenis yg berasal dari iklim tropis seperti Asia dan Amerika latin. Maka sering terdapat kejutan bagi pemain unggulan yg sudah harus angkat koper lebih dini, juga peluang emas bagi pemain yg non unggulan utk berprestasi maksimal. Contoh kejutan tahun ini di Rod Laver Sadium adalah tumbangnya Rafael Nadal dan Roger Federer, duo yg selama ini mendominasi tenis putra. Bayangkan, dari 23 gelaran Grand Slam beberapa tahun terakhir, keduanya sanggup menyapu bersih 21 gelar. Catatan yg sekaligus dapat kekhawatiran saat memunculkan duopoli dan tersendatnya pemerataan, hingga Nadal terhempas di tangan David Ferrer dan Djokovic menghentikan Federer. Keduanya di babak semifinal, sekaligus Djokovic mulus merenggut juara untuk keduakali setelah 2008 mengalahkan Andy Murray di final. Dinamika dalam kondisi inipun sebetulnya merupakan kesempatan baik bagi petenis Asia bahkan dari Indonesia berjaya di Australia.

Situasi yg akan mengantar topik ini mengerucut kepada dua petenis China yg sukses tembus hingga ke babak semifinal tahun 2010 lalu. Namanya Li Na sbg petenis terbaik China dan Asia tahun 2009 sehingga masuk 15 besar peringkat dunia, serta Zheng Jie (26 thn) yg juga sbg pasangan ganda Li Na. Duet China ini mulai bersinar sejak mereka merebut emas ganda putri Olympiade 2004, lalu menanjak pada prestasi juara ganda putri Grand Slam Australian Open serta di Wimbledon 2006. Li Na menapak Australia Terbuka 2010 sbg unggulan tunggal 16 dan sanggup melaju hingga masuk semifinal, dibarengi Zheng Jie sekaligus sejarah bagi petenis Asia yg meraih posisi tertinggi di Grand Slam secara bersamaan. Keduanyapun mewakili negara yg bahkan di seperempat abad lalu pernah melarang olah raga tenis dgn tuduhan terlalu borjuis dan gak mendidik generasi muda. Sebagai perbandingan, petenis terbaik Indonesia yakni Yayuk Basuki pernah menduduki ranking terbaik 19 peringkat dunia di usia 27 taon, alias 13 taon yg lalu di sekitar era reformasi lokal. Walau statusnya telah resmi pensiun di tahun 2004, Yayuk sempat comeback di Australia Terbuka tahun lalu berpasangan dgn Kimiko Date namun gak sukses. Kini kembali ke Australia Terbuka, Li Na datang dgn status terbaiknya yakni peringkat nomor 7 dunia serta unggulan ke 9. Sementara rekannya tahun lalu Zheng Jie urung tampil akibat cidera di awal tahun. Maka Li Na dgn status lebih tinggi ketimbang musim lalu, menatap Grand Slam pembuka 2010 lebih mantap dan memang terjadilah.
Li Na sukses memperbaiki catatan musim lalu, menjejak final di Rod Laver Arena setelah mengkandaskan unggulan teratas Caroline Wozniacki dalam tempo marathon 2,5 jam. Sekaligus mencatatkan nama petenis China pertama juga Asia yg sanggup selangkah lagi menjuarai Grand Slam. Ia ditunggu unggulan ketiga dari Belgia, Kim Clijsters yg barusan dikalahkannya cukup dua set di turnament Sydney awal 2011 yg sering pula dianggap sbg ajang pemanasan menuju Melbourne. Mereka telah bertemu sebanyak enam kali dgn catatan dua kemenangan buat Li Na. Maka final Grand Slam tanah keras sbg pembuka 2011 ini merupakan pertemuan mereka ke tujuh, Li Na menyerah secara ketat 6–3, 3–6, 3–6 di final. Padahal jika ia memenangkan Grand Slam pertamanya sbg rekor, juga hadiah ultah kelima usia perkawinan dgn Jiang Shan, suami yg juga pelatihnya di 29 Januari. Tapi yg kocak adalah saat semifinal setelah Li Na mengalahkan Wozniacki, ia diwawancara presenter TV Channel 7 Sport yg kutonton via StarSport. Petenis blak-blakan yg awal karirnya adalah pemain badminton inipun dgn tangkas menjawab beberapa hal pribadi. Siapa tau bisa digunakan sbg kiat atlit Indonesia, bahkan bisa membujuk ibunya untuk pindah ke Indonesia agar Li Na bersedia di-naturalisasi-ken jadi WNI ;o)
Channel 7: Li Na, congratulations. I'm sure you know, you've made tennis history as first Chinese player to ever make a final of a grand slam in the singles.
Li Na: I'm so happy I can be the first Chinese player to come to the final, you know .. I always do the first one.

Channel 7: So tell us about the match, you seemed to be a little nervous, restricted for a time out there?
Li Na: Yeah of course every semifinal a little bit nervous. And I didn't have a good evening last night, my husband slept like .. (snores) like this and you know .. I was waking up every hour.

Channel 7: So you saved the match point, you pulled through the second set. What got you through the third even though you didn't have a lot of sleep last night?
Li Na: Ehhhm, prize money .. you know it.

Channel 7: Today is also a special day, though, because it's your fifth wedding anniversary as well.
Li Na (Confused): I thought it was two days later .. It's today?

Channel 7: On our media notes it's today, the 27th, yeah?
Li Na, to her husband: Is it today? I thought it was the 29th.

Channel 7: Okay, well last question. Your mom has apparently never watched you play tennis because she gets too nervous. Do you think she might come over for the final on Saturday?
Li Na: Nooo .. I think she prefers to stay in the home. I mean I will ask her many times, "Please come with me". But she just said, "Naahh, I have my life, I don't want to come with you".
-duke-

3 komentar:

widya_clara mengatakan...

Kemana si Angelika Wijaya ?!?? pensiunkah ...

F.X mengatakan...

BRAVO,..

s_taha mengatakan...

sementara dunia atlit dan olah raga di negara kita semakin berantakan dan babak belur saja

Poskan Komentar