Follow me on Twitter RSS FEED

Saga 300

As told by Herodotus, the legend of Thermopylae has it
that the Spartans consulted the Oracle at Delphi which
is said to have made the following prophecy :
"O ye men who dwell in the streets of broad Lacedaemon!
Either your glorious town shall be sacked by the children of
Perseus, or in exchange, must all through the whole Laconian
country Mourn for the loss of a king, descendant of great Heracles"
Inilah kisah para machoisme nan kental bergelimang darah, tentang pertempuran maut antara pasukan Sparta vs Persian. It took place simultaneously over the course of three days in August or September 480 BC, with the naval battle at Artemisium, at the pass of Thermopylae ('The Hot Gates'). Thermopylae is arguably the most famous battle in ancient history. It is the Greeks who are lauded for their performance in battle that repeatedly referenced in recent and contemporary culture. Bahkan kata 'Spartan' telah masuk sbg kosa kata bahasa Indonesia, untuk menggambarkan semangat yg kuat serta simultan berkesinambungan. Misalnya, "Chris John berlatih secara spartan dalam persiapan mempertahankan sabuk gelar juara dunia tinjunya".
The battle of Thermopylae versi modern telah hadir kembali, dari adaptasi komik Frank Miller. Seniman grafis yg pernah membuat layar bioskop mandi darah dalam versi monochrom agar tersamar di film jenius 'Sin City', kini terulang hadir amat vulgar penuh warna. Frank menyusun ide saga '300' dari film yg memberi kesan khusus baginya saat masih kecil, 'The 300 Spartans'. Selain kenangan pada kisah heroik ala komikal bagi anak seusianya saat itu, Frank tertarik pada formasi tempur berikut perlengkapan perang dan ragam tokohnya yg kelak mempengaruhi minat grafisnya secara detail. Iapun memberikan penekanan khusus pada tokoh utama sang legendaris Spartan sbg pahlawan, sekaligus tokoh sentral sbg penutur pada komik grafis '300' melalui figur Leonidas the Heart of Lion.

'No prisoner, no mercy', semboyan perang yg menggetarkan sekaligus mengobarkan semangat hingga titik darah penghabisan, membunuh ato dibunuh. Bagaimana tidak, 300 prajurit harus menghadapi jutaan pasukan yg datang bergelombang tak pernah putus menyerbu. Termasuk menaklukan aneka jenis mahluk dan binatang raksasa, belum lagi barisan sihir berikut muslihatnya yg sudah terkenal sbg penakluk. Semua demi ambisi Xerxes yg bertekad menyatukan setiap permukaan bumi di bawah telapaknya serta menjadi dewa yg tunggal. Namanya menggetarkan banyak bangsa dan pasukannya memusnahkan banyak pria yg membangkang, kecuali satu wilayah kecil. Sebuah pertempuran harus terjadi, dan bukan cuma perkara mengayunkan senjata. Melainkan adu ideologi dan strategi, doktrin dan nyali, prinsip serta keyakinan, loyalitas dan harga diri .. kenanglah kami!
Film langsung dibuka dgn cipratan darah, bagaimana proses awal seorang bayi Sparta harus menjadi seorang lelaki, calon prajurit sejati. Lewat personifikasi Leonidas kecil, sang raja Sparta terakhir untuk memimpin 'Pertempuran Thermopylae' beratus taon sebelum Masehi. Inilah urusan sesama lelaki yg diklaim sbg perang frontal terbesar sepanjang masa. 300 prajurit Sparta yg hanya dibantu sekitar 700 sekutu kaum Arcadian yg terdiri dari tukang besi, pemahat, gembala, dll. Angka banyak gak selalu menjamin, lebih dari separoh 700 langsung melarikan diri saat pertempuran baru sehari. Sementara Persia yg telah menaklukan 100 kerajaan Asia sejak era maharaja Darius yg dilanjutkan Xerxes, membawa komposisi pasukan penuh termasuk lelaki tawanan sbg armada pembuka jalan (500ribu personil), infantri (1.500.000an), cavalery atau berkuda (100.000), serta gabungan pasukan Arab, Libia, dukun sekitar 20.000an.
We Spartans, keturunan Herkules. Never to retreat, never to surrender.
Gugur dalam perang adalah the greatest glory.
We Spartans, the finest soldiers the world has ever known.
Prepare for glory!
Meski disebut dari komik fiksi, namun semua kejadian, tempat, tokoh dan fakta sejarah mengatakan peristiwa itu adalah nyata. Setidaknya film ini sanggup membuat gusar beberapa kalangan, antara lain dari kalangan pejabat Iran yg menganggapnya sbg penghinaan terhadap budaya Persia. Termasuk tuduhan telah membelokkan fakta sejarah perang Thermopylae, serta indikasi 'perang urat syaraf' yg dilancarkan Amerika dan sekutunya melalui produk Hollywood. Para pemilik kapital di balik jubah Yahudi dianggap berperan dalam mengintimidasi kultur timur tengah sbg lawan yg 'demen kekerasan dan mistik, sulit duduk bersama secara beradab sebagaimana lazimnya umat manusia'.

Namun gak seluruh peran '300' didominasi kaum batangan meski penuh kekerasan ala lelaki. Juga ditampilkan peran sentral yg bukan sekadar figuran sbg gula-gula. Ia adalah ratu Gorgon, pendamping sejati sang Leonidas secara lahir dan bathin. Perempuan yg hadir bukan hanya pendamping, tapi memiliki suara yg setara. Perempuan yg sanggup membuat seorang lelaki memilih tanpa ragu untuk menendang mati si utusan raja yg paling ditakuti. Perempuan yg sanggup mencium kebusukan intrik di dewan senat tertutup. Perempuan mewakili kaum ibu yg telah melahirkan tiap lelaki tangguh sekaligus sanggup menundukkan dewa Oracle kemudian mempersatukan satu Yunani.
Maka perempuan itupun tau benar, si lelakinya tak akan vulgar mengucapkan cinta, tak akan pernah mengucapkan selamat tinggal. Perempuan itu bisa tau, karena dialah yg mengajarkan tabu itu pada anaknya. Setiap kata dapat bermakna ganda, tindakanlah yg harus dibuktikan. Maka cukup dgn memberi kalung jimat kepada lelakinya, lalu kembalikanlah kalung itu dgn atau tanpa pemegangnya setelah perang. Perbuatan yg melebihi kata termasuk pada saat perpisahan, juga saat pertempuran. Give them nothing, but take from them everything.

Darah yg berceceran bertubi-tubi, kepala ditebas, dinding tumpukkan mayat sbg penutup celah 'Hot Gates' (tebing sempit di pinggir utara laut Yunani, bagian dari taktik Sparta untuk menahan serangan sbg gerbang neraka), adalah elemen penting pada '300'. Namun menjadi tak sia-sia bahkan indah secara visual dan sinematografis di tangan debutan sutradara Zack Snyder (film 'Dawn of the Dead'), berikut rendering khusus agar mendekati ekspresi dan dramatis sesuai komik. Walau secara cerita rasanya setingkat dgn jenis film The 13th Warrior (Antonio Banderas, prajurit ke 13 sbg muslim di tengah 12 Vikings), namun secara kesan terutama plot masih dibawah 'Sin City' untuk perbandingan dari sesama faktor Frank Miller. Serta samar agak terasa 'deja vu' berupa miripnya kesamaan adegan peristiwa eksekusi Leonidas, dgn salah satu ending film tokoh pahlawan dari Tiongkok kuno. Kematian yg tragis dan simbolik, ada yg tau, film apa yg kumaksud?
Persians: "Spartans, lay down your weapons!"
Leonidas: "Persians .. come and get them.
Tonight, we dine in hell!!"
-duke-

1 komentar:

PIYU mengatakan...

To conquer is a word used by a winner

Poskan Komentar