Follow me on Twitter RSS FEED

The Making Of '300'

Posted in

Dari salah satu chanel TV, pernah ada satu tayangan menarik. Tentang kisah pembuatan film berikut potongan klipnya, 'The Making of 300'. Melalui penjelasan 'the Making' itu (biasanya sbg feature tambahan pada keping kedua DVD film originalnya), beberapa hal menjadi lebih jelas. Info seperti ini biasanya berguna bagi mereka yg keburu naksir dgn film tertentu secara utuh.
Karakter dan strategi tempur ala Spartan:
Memang tampil dgn koreografi yg yahud di film, berikut dramatisir seperlunya agar optimal. Tinjauan pada strategi tempur yg amat efektif untuk pertarungan jarak pendek ('mano a mano', alias duel satu lawan satu, face to face). Maka dapat kubayangkan formasi rapat Sparta didukung perisai menutupi seluruh depannya adalah serupa ketangguhan tank Jerman di Perang Dunia 1. Begitu solid dan unity, juga 'badak' tak tertembus untuk memukul lawan, serta fleksibel untuk 'menyerang' tanpa keluar dari formasi. Fleksibilitas ini memungkinkan pembagian konsentrasi pada barisan depan sbg 'pembuka jalan' atau pemecah formasi lawan, didukung pasukan di belakangnya sbg eksekutor ato penjagal mematikan tiap lawan yg berantakan itu. Jika dianalogikan dalam sepak bola, Barcelona pernah melakukan hal sama dan patut dikenang. Yakni skenario bola mati di muka gawang lawan, Xavi mengambilnya, Pique mengganggu defender bahkan kiper lawan, lalu Puyol dari tempat jauh tak terkawal sbg eksekutor. Setidaknya dua peristiwa besar telah mencatatnya, pada El Clasico 2009 dan semi final Piala Dunia 2010.

Filosofi ala Sparta versi Frank Miller:
Frank amat terkesan saat pertamakali melihat filmnya di usia 5 taon, sekaligus merubah konsepnya mengenai 'pahlawan'. Kisah Leonidas yg dramatis sekaligus menggugahnya, bahwa 'kenapa justru si orang baik harus berujung pada kematian serta tragis?'. Perenungan ini sekaligus membedakan konsep pahlawan menurut Stan Lee misalnya, sbg bapak komik super hero semacam Spiderman, Fantastic Four, yg sama menekankan unsur kemanusiaan namun menyelesaikan masalah dgn hal di luar kemampuan manusia. Makna sosok hero menjadi bias sekaligus harus identik dgn kemenangan yg subjektif. Bila kematian menjadi simbol kekalahan dan sang pemenang harus hidup, seharusnya dilepaskan dari atribut pahlawan. Karena manusia mana sih yg immortal alias gak bisa mati? Untuk menjembatani makna 'hitam dan putih' itu, Frank memberi aksen warna pada '300' sekaligus membedakannya dgn aspek noir pada empat karakter monochrom di film 'Sin City'.
Pilihan para aktor yg 'Tidak Berwatak':
Gerard Butler sbg Leonidas, cukup apik dan ekspresif dalam film 'Phantom of the Opera' juga dikenal sbg aktor Inggris berlatar drama. Namun tuntutan penampilannya untuk film '300', dia gak perlu mendalami karakter yg kompleks untuk stereotip di film laga. Jadi yg perlu dia benahi adalah 'body working' terutama mengoptimalkan six pack-nya apalagi sepanjang film kudu telanjang dada. Eksplorasi aktingnya lebih berupa koreografer tempur serta membiasakan diri untuk berakting tanpa background selain blue screen. Jika ingin diperbandingkan antara film '300' dgn laga sejenis film 'Gladiator' dimana Russel Crowe mendapat Oscar sbg Romulus, konteksnya agak berbeda. Skenario '300' lebih membutuhkan peran secara kolektif, khususnya menjelaskan makna angka '300' (Spartan) yg harus berhadapan dgn Persians dalam skala huge numbers. Jadi kalau akting Butler dicibir kaku, mungkin akibat ototnya yg kudu kaku mengeras.
Selain pertimbangan visual yg dominan dalam adaptasi grafis versi komik yg disiplin, film '300' memang bersandar penuh pada finishing blue screen. Selain para aktor dan ratusan figuran harus ekstra keras dalam berimajinasi yg akan diproses melalui komputer, mereka perlu menghafal posisi 'maya' agar pas nantinya. Gerard mengakui, "Bukan hanya sulit ketika harus membayangkan musuh fiktif yg akan dihadapi karena proses cropping lewat komputer, tapi juga orientasi lokasi yg aslinya tertutup layar biru belaka. Sehingga ia harus bisa 'berakting' terutama secara kolektif sementara otaknya dipenuhi landscape yg gak terlihat. Ditambah kendala wardrobe khususnya atribut perang, meski uniform utamanya sepanjang film ya cuma badan telanjangnya saja. Hasilnya adalah sebuah sinematografi yg boleh dianggap terobosan, serta secara personal telah kumasukkan dalam rak koleksi cult movies. (duke)

2 komentar:

Victor Sihombing mengatakan...

Adakah kemungkinan kisah ini diadaptasi dari kisah terpenggal Jaman Majapahit ... Perbedaannya pada saat itu pasukan Kubilai Khan yang cuma 200 prajurit, telah ditumpas oleh Raden Wijaya ??

a mengatakan...

itu film emang film terbaik menurut saya......
amzing........
salam kenal

Poskan Komentar