Follow me on Twitter RSS FEED

Indikator Bahagia

Posted in

Kemarin di Bali, aku sempet ketemu beberapa kolega dari Sydney yg juga mengikuti acara International Symposium On Geographical Names. Setelah ngobrol ngalor ngidul termasuk soal toponim dan perbatasan maritim yg merembet kepada perkembangan zona pesisir, akhirnya berujung kepada konteks pembangunan lokal.

Salah satu temenku si bule mengutarakan, Indonesia yg memang kaya akan sumber daya adalah bukan omong kosong. Terutama SDM sbg aset dasar yg berharga untuk membangun dan maju, berikut ketahanannya. Selain masyarakat yg terkenal ramah dan masih bersedia gotong royong, adalah selalu tersenyum. Faktor ini semestinya dioptimalkan dan tanpa rekayasa, sehingga menjadi sebuah parameter tersendiri yg boleh disebut "Indikator Bahagia". Esensi kualitatif ini ternyata dapat merupakan modal utama, bukankah segala harapan dan pencapaian konsep pembangunan akan berujung ke situ?
Ada betulnya juga sih, selama ini konteks parameter pembangunan cenderung mengacu pada angka dan penanganan kuantitatif dalam statistik 'Indeks Pembangunan Manusia' (HDI), 'Produk Domestik Regional Bruto' (GDRP), hingga 'Produk Pendapatan Nasional' (GNP). Juga meminjam tulisan milik Reza (rekan di milis Proletar) tentang contoh kemajuan masyarakat di China, mereka tampak makmur dan kaya secara angka GNP tinggi. Namun pada keseharian kehidupannya, ternyata semakin banyak saja manusia yg susah untuk tersenyum walau demi basa-basi. Mungkin meski berpenghasilan dan banyak uang, namun mereka 'dipaksa' untuk tinggal di flat (vertikal) yg ditetapkan pemerintah terutama pasca penggusuran massal demi projek ambisius untuk Olimpiade tempo hari.

Apakah sebetulnya indikator bahagia, yg seharusnya gak mesti berkaitan dgn skala pencapaian materialist? Bukankah ide 'the pursuit of happiness' telah merupakan tujuan hakiki manusia umumnya serta menjadi tolok ukur berupa mayoritas misi dan visi pembangunan? Almarhum MAW Brouwer pernah mengekspresikan kesannya yg mendalam, "Tuhan menciptakan tanah dan penduduk Parahyangan sembari tersenyum". Ungkapan tanpa memberi skala angka tertentu kepada indahnya sebuah anugerah, karena angka seringkali bisa menipu. Walau hingga kini Bandung memang tetap ramah dan terus maju, tapi justru semakin sulit pula menemukan mojang yg dulunya gampang tersenyum tulus. Apalagi saat terjebak macet yg kini menjadi ciri khas baru Parahyangan, senyum yg macet .. indikator bahagianyapun ikut tergencet.
Begitupun dgn Bali yg dalam beberapa hari ini berusaha kunikmati seperti tahun 80an. Potensinya tetap prima sbg major destination terutama bagi turis internasional. Kemajuannya signifikan yg secara fisik digenjot sejalan tuntutan perkembangan, juga termasuk crowded parah di Kute - Legian. Bali selalu indah dan berkesan, tapi kali ini kok rasanya hanya ramah dan 'tulus' bagi turis bule meskipun yg paling kucel. Kemarin sore aku barusan 'diusir' dari pantai milik kompleks Hotel Westin tempat seminar, hanya karena gak nginep di situ. 'Gross National Happiness', rasanya memang utopis .. apalagi jika pantai sudah dikapling oleh duit, kan ujungnya berakhir dgn angka juga ehehee ..
-duke-

2 komentar:

aiste mengatakan...

bahagia mustinya tidak jauh dari pencapaian atas ekspektasi. ketika bahagia itu terpaksa dinegosiasikan, maka akan muncul seperti gambar di atas, senyum dalam kesedihan. lantas senyum itu bukan lagi produksi dari sebuah hati yang bahagia, senyum itu hanya menjadi komoditas agar terlihat bahagia. sama seperti senyum-senyum bertebaran yang kita lihat pada pegawai-pegawai jasa yang kerap tersenyum agar indeks perusahaan terkatrol, senyum 'palsu' tapi membahagiakan orang lain. jadi bahagia itu untuk diri sendiri ataukah kita lantas jadi ikut bahagia karena telah membahagiakan orang lain walau dalam hati sangat merintih?

endyonisius mengatakan...

Maka itulah, parameter kualitatif seharusnya gak bisa dijadikan indikator dan pegangan objektives. Sehingga ketika senyum menjadi komoditas, lebih sbg suplemen serta berlaku personal. Istilahnya, bagian dari 'services'. Padahal perkara 'senyum' adalah hakiki, dan setiap manusia memilikinya berikut anugerah berupa otot di sekitar bibirnya agar dapat digunakan. Dan tanpa perlu ukuran. Thanks for sharing anyway.

Poskan Komentar