Follow me on Twitter RSS FEED

A Bad News .. Or A Good News

Posted in

Pernah dengar ilustrasi tentang dampak komunikasi melalui pesan berantai secara lisan dari pemimpin kepada bawahannya secara berjenjang? Sebutlah seorang Kepala Dinas memberikan instruksi lisan kepada pejabat Sekretaris Dinas untuk selanjutnya disebar di lingkungan kantor : "Besok agendakan penyerahan bantuan bagi masyarakat budidaya sebagai pemenang evaluasi tingkat pusat pada tahun ini, di aula kantor jam 9 pagi. Karena bersifat ramah tamah dan tidak terjadi setiap hari, maka seluruh karyawan hadir berpakaian batik. Saya akan memberikan pengarahan khusus berupa demo teknis pembiakan bibit, siapkan materi dan presentasinya oleh Kepala Bidang Budidaya".

Dari Sekretaris Dinas kepada ketiga pejabat Kepala Bidang :
"Sesuai Instruksi Kadis, besok pagi diharapkan berkumpul berikut seluruh staf dgn berpakaian batik di aula kantor jam 9 pagi untuk ramah tamah dgn masyarakat pemenang evaluasi tahun ini. Karena peristiwanya tidak terjadi setiap hari, Kadis sekalian memberi demo pembiakan bibit yang presentasinya akan disiapkan oleh Kepala Bidang Budidaya".
Dari Kepala Bidang Budidaya kepada tiap Kepala Seksinya :
"Besok kamu ajak semua staf agar hadir di aula kantor jam 9 pagi. Siapkan bahan presentasi pembiakan bibit termasuk demo Kadis yg tidak terjadi setiap hari kepada masyarakat budidaya".
Dari dua Kepala Bidang lainnya kepada tiap Kepala Seksinya :
"Besok pagi kalian kumpul jam 9 di aula bersama staf, pake baju batik. Kadis akan mengevaluasi kegiatan budidaya tahun ini".
Versi Kepala Seksi Budidaya kepada para stafnya :
"Besok kalian hadir di aula kantor sebelum jam 9 pagi, ini gak terjadi setiap hari. Biar saya yg siapkan demo buat Kadis".
Versi para Kepala Seksi lainnya kepada para stafnya :
"Besok kumpul sebelum jam 9 pagi di aula pake batik. Kemungkinan Kadis akan mengevaluasi bidang Budidaya pada tahun ini juga".
Akhirnya para staf lintas Bidang pada saling bergosip :
+: "Besok jam 9 pagi di aula ada akan demo dari Bidang Budidaya kepada Kadis, sayangnya kok gak terjadi setiap hari sih?"
-: "Pantesan Kadis ngumpulin kita besok, beliau marah lantaran didemo dan akan mengevaluasi Bidang Budidaya tahun ini juga!"


Peran media penyampaian berita dapat berdampak khusus terhadap nilai khabar yg ingin disampaikan termasuk resiko berubah makna. Metode lisan memiliki rentan perubahan yg lebih tinggi sehingga membutuhkan sarana lain yg lebih valid misalnya secara tertulis, atau bukti rekam antara lain foto, suara, atau gabungan berupa video. Sehingga nilai khabar yg umumnya dapat dikategorikan sbg berita baik (good news) atau sebaliknya, menjadi lebih terjaga. Sebagai pembawa pesan (messenger) atau penyampai berita secara lisan masih popular digunakan karena faktor praktis dan cepat, misalnya media komunikasi radio dgn pemanfaatan keunggulannya.

Namun apapun media berikut metode dan tehnologinya, faktor utama adalah pada brainware alias user atau peran manusianya. Baik sbg pewarta (feeder) maupun khalayak penerimanya (listener, reader, viewer, dst), serta sebaiknya memiliki pemahaman yg relatif sama dalam menilai sebuah jenis berita yg telah memenuhi beberapa unsur :
1. Penting (significance), yg dapat mempengaruhi orang banyak;
2. Besar (magnitude), bisa diterjemahkan secara skala dan masif;
3. Waktu (timeless), telah diposisikan menurut kebutuhan rentang waktu antara lain lewat ragam berita segera (straight news), investigasi, features, opini yg berdurasi lebih panjang, dst;
4. Dekat (proximity), bisa secara geografis maupun emosional;
5. Populer, heboh (prominence), menyangkut minat khalayaknya;
6. Manusiawi (human interest), ragam khusus yg memberi peluang secara lebih leluasa untuk melibatkan hal subjektif khalayak.

Jika melihat unsur pemahaman berita yg ternyata bisa leluasa untuk melibatkan faktor manusiawi secara subjektif, jelaslah akan menjadi tipis perbedaan antara a good news dgn bad news. Karena jenis berita bukanlah karya tulis atau sejenis skripsi ilmiah walau memiliki standard teknis berupa dalil 5.W + 1.H, maka berita memang memiliki nilai persepsi dan interpretasi yg tinggi bahkan dapat dianjurkan dalam rangka "prominence". Sehingga ketika instruksi lisan dari Kepala Dinas bisa berubah makna dan sasaran hanya dalam hitungan terbatas para pewartanya dan gak lebih dari satu jam, telah memiliki ragam persepsi sbg a good news maupun bad news berikut pengembangan interpretasi menurut kiat "a bad news is a good news" ataupun sebaliknya.
Perkara "a bad news is a good news" seperti telah menimpa seorang fotografer jurnalis Kevin Carter kelahiran Afrika Selatan, yg sejak kecil telah akrab dgn ragam kesewenangan apartheid di lingkungannya. Saat lulus SMA ia pernah membela pelayan berkulit hitam yg dianiaya tentara, akibatnya Kevin babak belur dihajar popor senapan. Pernah melarikan diri dari Wamil dan bergabung pada sebuah layanan logistik bagi militer, menyaksikan pengeboman di Church Street yg memberinya pemikiran tentang aspek dokumentasi. Kevin bekerja untuk media Star Johannesburg, karya pertamanya membuat gusar para masyarakat karena memotret eksekusi publik menggantung perempuan berkulit hitam yg dituduh berjinah. Kemudian ia dikirim ke Sudan meliput ekspedisi bantuan oleh PBB kepada korban kelaparan akibart perang saudara.

Kevin dan wartawan lainnya hanya diberi waktu kurang dari 30 menit sebelum pesawat mengangkasa kembali, mereka berlari mencari bahan foto. PBB mendistribusikan jagung dan bungkusan makanan sementara perempuan desa keluar dari tiap pondok memenuhi pesawat. Silva masih mencari lokasi gerilyawan, Kevin tersesat di sekitar pendaratan pesawat dan terkejut melihat kondisi mengenaskan. Saat para orang tua sibuk berebut makanan, anak2 kurus dan lemah kelaparan hanya bisa beringsut di sekitar gubuk serta burung Nasar berkeliaran di lokasi sampah sekitar pondok kumuh. Kevin mengambil foto termasuk perhatiannya pada seorang anak tertatih merangkak menuju pesawat. Ia baru menyadari kehadiran seekor burung Nasar setelah selesai memotret, kaget lalu mengusirnya sebelum tersandar di bawah pohon untuk menangis sembari merokok.

Ketika karya fotonya muncul di New York Times 1993, beragam tanggapan muncul mulai dgn menanyakan khabar dan nasib anak di foto itu. Namun mayoritas cenderung menghujat Kevin berupa gugatan yg nyaris senada, "Kenapa anda hanya bisa memotret saja, kenapa gak malah menolongnya?". Bahkan The St Petersburg Times dari Florida berkomentar pedas pada foto yg diberi judul Wanting A Meal atau Starving Child Vulture, "Orang ini terlalu sibuk menyesuaikan lensa untuk mengambil gambar yg benar tentang penderitaan, persis predator serupa burung bangkai lainnya yg berada di tempat kejadian". Walau foto Wanting A Meal mendapatkan apresiasi berupa penghargaan Pulitzer untuk kategori Fitur Terbaik 1994, Kevin terlanjur depresi akibat akumulasi pengalaman buruknya terutama trauma pasca kembali dari Sudan yg ditambah rasa bersalah serta hujatan. Tiga bulan setelah menerima pengakuan tertinggi bidang jurnalistik, Kevin diketemukan meninggal akibat bunuh diri di dalam mobilnya yg diparkir dekat sungai pada usia 33 tahun. Apakah sebuah khabar yg bagus ataukah berita buruk?

Kenapa tidak ada yg memotretnya, terutama gak ada yg menolongnya? Kevin selalu merekam segala yg dia amati, dijalaninya hingga dipahami termasuk resiko untuk ditanggung sendiri berikut hujatan walau akhirnya menyerah. Ia telah mewartakan berita buruk menjadi khabar bagus terutama bagi Sudan. Karena dunia langsung memberikan perhatian lebih akibat publikasi fotonya, tapi berita bagus itupun gak lagi kuasa menyelamatkan hingga ia memberikan khabar buruk .. klik .. kliiiikk
-duke-

3 komentar:

Anonim mengatakan...

thx tulisanya

Anonim mengatakan...

seseorang akan diingat atau dikenang ketika sudah tidak ada, fenomena umum yang sering tidak dipahami atau sebut saja, luput diingat saat orang itu masih ada, bisa dilihat dan dirasakan kehadirannya.

Anonim mengatakan...

mirip kayak film here afternya matt damon. thanx, ini brilyan!

dion malau

Poskan Komentar