Follow me on Twitter RSS FEED

Tata Ruang Ala Burlesque

Posted in

Show a little more, show a little less
Add a little spark, welcome to Burlesque
Everything you dream of, but never
can possess, nothing what it seems
Welcome to Burlesque ..
Selamat datang di dunia artifisial nan gempita, menutupi aroma remang pentas yg pengap didekap intrik dan saling sikut. Inilah sepetak pertunjukkan dgn lampu sorot mengarah kepada citra yg diinginkan para pengunjung, mereka membayar untuk melarikan diri dari sumpeknya kehidupan nyata. Burlesque merupakan salah satu pelepas dahaga paripurna dan teramat menggetarkan sesuai sejarahnya sendiri. Berawal dari Burla yakni istilah Spanyol yg bermakna Jest (senda gurau, pertunjukkan badut, ingat epic Script For a Jester's Tear milik band Marillion), lalu menjadi parody di Italia berupa Burlesca. Kemudian budaya Prancis menegaskannya sbg pertunjukkan ala satire lewat tarian dan musikal dalam menutupi kepahitan hidup, sementara di Inggris pada abad 19 lebih menggunakannya sbg karikatur kehidupan entah menyentil politik maupun hukum lewat istilah Travesty. Perpaduan yg telah memperkaya dunia pertunjukkan serius sbg kemasan yg detail dan penuh disiplin, terutama ciri yg menampilkan keindahan pentas lewat sosok khas para wanitanya.
Faktor wanita pula yg kemudian membawa Burlesque menyeberang ke daratan Amerika awal abad 20, namun identik lewat eksploitasi fisik. Kemungkinan ada peran dari para mafia underground yg identik dgn gangster dan alcohol di era Al Capone terutama perdagangan wanita. Perkembangan Burlesque memuncak sekaligus membuat varian baru seperti pertunjukkan cabaret atau penari chan-chan, serta yg lebih vulgar yakni striptease. Maka ketika dunia ini telah ditayangkan melalui pita seluloid pada layar lebar, merupakan kompromi antara nafas Burlesque klasik dgn selera kontemporer bercampur racikan scenario ala Cinderela modern. Disitu masih dominan tari dan nyanyi dalam tehnologi lip-sync, tata sorot gemerlap maupun limelight yg menegaskan lekuk tubuh berbalur kostum bukan untuk dikenakan ke kantor. Tema pertunjukkan gak lagi penting melainkan bergeser ke setting dunia nyata yg bergumul sengit di belakang pentas lewat karakter pemerannya. Sebagai pokok kisah adalah sang pemilik Burlesque Lounge yg resah mempertahankan panggungnya di belantara kerakusan dunia properties modern, topic yg selalu relevan dari sejenis The Young Ones (Cliff Richard) hingga sekuel Sister Act (Whoopi Goldberg). Sementara Cinderela sang juru selamat modern namun tetap memilih pakem klasik yg datang dari udik ala Satria Bergitar, akan membereskan segala persoalan sembari terus bernyanyi.
Tulisan ini bukanlah bermaksud nyinyir untuk mengomentari perkara lipstick dan lip-sync, juga gak ikutan membandingkan Burlesque dgn Grease yg telah mewakili generasinya, harus membedah intrik ala Chicago, maupun adu glamour dibalik chemestri kepedihan Moulin Rouge. Apalagi menakar kualitas Cher dgn Christina Aguilera sang "a small-town girl with a big voice", toh kebetulan keduanya bukan favoritku. Namun tak dapat dipungkiri jika keduanya adalah nafas utama film yg sanggup menekan posisi dudukku di bioskop selama nyaris dua jam. Steve Antin, sang sutradara yg lebih dikenal sbg penggarap video klip musik berhasil membuat beberapa sajian lagu utuh menjadi bagian dari film yg gagal membosankan. Konon ia meramu ide film berdasarkan klub Burlesque nyata di Los Angeles yg terus berjuang mentas, serta didukung kisah Robin Antin saudaranya yg pernah mengorbitkan kelompok Pussycat Dolls. Bukan kebetulan jika Pussycat Dolls telah identik dgn rombongan wanita neo-Burlesque melaui kostum glamour sembari fasih menari (salah satu anggotanya menjadi juri "So You Think You Can Dance"), serta nyata jago berolah vocal. Maka untuk mendukung Cher dan Christine yg memang dominan berlakon penyanyi, film ini menampilkan pula mantan juara "Dancing With the Stars" yakni Julianne Hough. Serta peran yg mencuri perhatianku adalah tampilan Stanley Tucci mewakili figur gay. Pertama, aku selalu tertukar kenangan antara Stanley Tucci dgn aktor Curtis Armstrong terutama di film Ray yg memerankan Ahmet Ertegun sang pemilik Atlantic Record. Salah satu dialog berkesan adalah saat Ray Charles pertama berkenalan dgn Ahmet sembari menyebutkan namanya. "Omelet? What kinda name is that?" celetuk Ray. Kedua, peran Stanley mewakili gay seolah mengingatkan pada film berlatar serupa yakni Bird Cage (Robin Williams). Hal yg boleh menguatkan bahwa Burlesque juga identik dgn ekspose kalangan para feminim, termasuk pria yg lebih memilih sbg feminism ;o)

Burlesque sbg presentatif pentas sandiwara glamour sekaligus sexy, sejatinya pula menampilkan dunia panggung kehidupan yg kompleks meminjam lirik Taufik Ismail yg pernah dipopulerkan Ahmad Albar. Jatuh bangun Christina Aguilera yg antara lain sudah pernah diinterpretasi Julia Robert lewat Pretty Woman, intrik sabotase yg malah mengorbitkan, terutama introspeksi Cher saat memulihkan semangat di ujung kebangkrutan. Diane Warren sengaja menuliskan lagu You Haven't Seen the Last of Me untuk Cher, menjadi salah satu spirit utama Burlesque yg setara dgn Out Here of My Own milik Irene Cara untuk film Fame. Saat lampu sorot terfokus pada satu objek tanpa bergerak selain merintih di ruang kosong, selalu sanggup berdampak menggetarkan. "Lebih bagusan yg ini ketimbang penyanyi utama yg muda, sapa sih penyanyinya?", tanya rekan di bangku sebelah. "Jelas lebih matang dong, ni nenek udah 65an taon umurnya", sahutku rada terganggu. Seolah lewat tekad You Haven't Seen the Last of Me, "Kau masih belum melihat upayaku hingga akhir", malah menjadi inti drama pada skenario yg umumnya berujung klise.
I've been brought down to my knees
And I've been pushed way past the point of breaking
But I can take it, I'll be back .. Back on my feet
This is far from over, I am far from over
You haven't seen the last of me ..
Salah satu faktor pembeda versiku dalam menyelesaikan masalah Burlesque dari tema musikal lain, adalah ide hak pengelolaan ruang. Melalui intrik pengalihan properties berbalur asmara maupun bujukan uang adalah hal jamak, namun saat tampil lewat film ini cukup di luar dugaan termasuk brilian. Semoga bukan cuma aku yg memperhatikan terutama saat kondisi pekerjaan sedang trend dgn isu tata ruang UU 26/2007 maupun zonasi UU 27/2007 termasuk akses bagi hak ulayat melalui UU 41/1999 hingga aspek ekoregion masyarakat lokal pada UU 32/2009. Jika selama ini ada kelakar internal pelaku spasial berupa, "Darat, hutan, dan di bawah tanah sudah dikapling, lalu laut bakal dipagarin, tinggal udara menyusul perundangannya". Maka pada film Burlesque mengadopsi hak kelola tata ruang udara sekaligus hak akses di atas bangunan tertentu, terutama untuk menahan pertumbuhan vertikalnya yg dapat menutupi ruang atau pandangan dari bangunan lain. Artinya hak kelola dan akses tersebut dapat dibayar menjadi hak kompensasi dalam jangka waktu tertentu, sebetulnya telah dikenal dalam tata krama Arsitektur yg disebut Rasio Lantai Bangunan (Floor Area Ratio) berbanding Koefesien Dasar Bangunan. Aturan ini perlu ditetapkan sbg kontrol terhadap laju vertikal pada high rise building, seperti yg telah terjadi di New York bahkan Gotham City misalnya. Banyak kawasan terutama jalan umum yg tidak lagi bisa mendapatkan sinar matahari langsung dikarenakan ketinggian serta rapatnya posisi skyscrapers begitu menutupi langit.
Salah satu rekayasa kondisi maupun eksplorasi yg membuat manusia semakin kehilangan akses mendasar terhadap sumber alam, menjadi prilaku artificial conditional bahkan ter-alienasi pada kodrat sesamanya. Mungkin itulah gunanya pentas sandiwara semacam Burlesque yg selalu relevan mengalihkan perhatian dari esensi berkehidupan. Sekaligus melalui Burlesque masih diberikan jeda untuk boleh berteriak menggugat walau luput dari sorotan lampu utama, berdaya terobos melalui spirit semacam You Haven't Seen the Last of Me.
I'm not going nowhere, I'm staying right here
You won't see me begging, I'm not taking my bow
Can't stop me .. It's not the end
You Haven't Seen the Last of Me

-duke-

3 komentar:

Tere mengatakan...

Tinjauan menarik mengenai "Air Rights" dan ulasan nan sexy :)

Anonim mengatakan...

kewren euy...

Nisye_82 mengatakan...

Air Rights : Right to use the vertical space above properties and reasonable use by neighbors and others such as aircraft.

Poskan Komentar