Follow me on Twitter RSS FEED

"We Are Not Alone, Right?"

I had an experience .. I can't prove it, I can't even explain it ..
But everything that I know as a human being, everything that
I am tells me that it was real. I was given something wonderful,
something that changed me forever. A vision of the universe,
that tells us undeniably -how tiny- and insignificant and how ..
Rare, and precious we all are. A vision that tells us that
we belong to something is greater than ourselves ..
We're not that none of us are alone.
Terkadang jika kegandrunganku terhadap fiksi melalui film yg berkaitan dgn jenis "Alien" lantas dipertanyakan, memang sulit kujelaskan alasannya. Yang jelas bukan lagi perkara hiburan atau pelampiasan khayal,semata, tapi telah merasuk ranah ideology tertentu serta mempengaruhiku. Misalnya melalui pilihan tiga fiksi yg kuanggap memiliki kesamaan tema, yakni pemahaman terhadap esensi peradaban bumi hingga eksistensi peran manusia penghuninya. Film Contact, District 9, serta Outlander boleh mewakili beberapa pertanyaan hakiki seperti apakah manusia satu2nya mahluk berakal dan berbudi yang menghuni jagad maha luas ini? Apakah bumi hanyalah a lonely living planet padahal galaksi Bimasakti cuma seukuran debu dari konstelasi perbintangan? Tiga pilihan ini hanya contoh kecil dari sub genre yg telah dikembangkan dalam berbagai corak misalnya Conehead dan What Planet Are You From dari jenis komedi, Quadrology film Alien dari versi horror, atau serial Star Trek yg berawal dari TV.

Film pertama seperti yg muncul pada headline di atas adalah berjudul Contact (1997) besutan Robert Zemeckis. Fiksi ini berdasarkan jurnal ilmiah oleh pakar astronomi Carl Sagan yg juga tertarik masalah UFO, Extra Terresterial serta fenomena Crop Circle (seperti di film The Sign). Meski dicampuri racikan ala Hollywood, namun masih dianggap lebih serius ketimbang sejenis film Independence Day. Contact bukan cuma mengangkat tentang ide “perjalanan ruang menuju luar angkasa” (atau dimensi lain) menurut teori “Lubang Cacing” milik Einstein, tapi filosofi adanya transfer pengetahuan dan sharing pengalaman bahwa manusia tidak sendirian di jagad ini. Konflik pada akhir film berupa misteri perbedaan konversi waktu menurut bumi dgn perjalanan yg mengarungi dimensi, sengaja dibiarkan mengambang untuk dicerna penontonnya (jika ingin, selain mengunyah popcorn). Apakah film ini akan menjadi fiksi yg memuaskan rasa penasaran terhadap kehidupan di luar bumi semata, ataukah filosofi mendasar seperti karakter manusia yg selalu mencari dan membutuhkan komunikasi terhadap sesama mahluk berjiwa secara vertical maupun horizontal kepada sang maha pencipta?
Contact dibangun secara runtut melalui pengalaman sang tokoh yg diperankan oleh Jodie Foster. Sejak kecil ia harus kehilangan sang ayah yg telah membangkitkan minatnya pada perangkat radio komunikasi, hingga terobsesi mencari komunikasi lain sbg astronomer yg lantas dapat mempertemukannya dgn figur sang ayah pada "frekwensi asing" (Search for Extra-Terrestrial Intelligence). Upaya yg dilakukannya sanggup membuat kontroversi secara massif, bahkan presiden USA perlu menjelaskan secara pribadi yg disiarkan secara internasional. Menariknya, Bill Clinton tampil mewakili diri dan posisinya sbg presiden saat itu (cameo) menanggapi "pesan dari luar angkasa bumi" yg diliput jaringan CNN :
"Saya mengajak kalian untuk melihat kenyataan di balik fakta
(beyond the facts), maka kita harus menyelesaikan secara fakta pula
(on the facts). Untuk mengawasi apa yang sebenarnya terjadi dan menerima,
serta meyakini sebagai fakta (factually appropriate steps)".
Pilihan kedua adalah film District 9 (2009), mengisahkan satu pesawat induk asing (mothership) para alien (yg lalu disebut 'prawn' sesuai sosoknya) sedang kehabisan bahan bakar di bumi. Lantas 'macet' dan mengapung diam di langit kota Johanesburg pada pertengahan tahun 2010 selama berbulan-bulan tanpa ada komunikasi. Maka manusia membentuk tim Multi-National United yg bertugas untuk mendatangi dan memeriksa kapal itu, rupanya diisi ribuan aliens dalam kondisi sekarat. Dilakukan proses evakuasi termasuk penempatan para "prawn" di wilayah daratan khusus disebut District 9, terlokalisir dari komunitas penduduk setempat serta jadi minat para peneliti yg terutama kepada tehnologi asing. Dalam perkembangan beberapa tahun kemudian, para prawn semakin berkembang biak walau mengkonsumsi utama makanan kaleng untuk kucing serta menimbulkan kumuh. Ditambah lagi munculnya keterlibatan mafia Nigeria yg juga ingin menguasai persenjataan alien termasuk mengkonsumsi daging dan organ prawn demi alasan aprodisak atau mitos kesaktian tertentu.

District 9 diadaptasi dari film pendek 'Alive In Joburg' karya Neill (sekaligus sutradara District 9), yg memang kelahiran dan tinggal di Joburg (nama lain Johanesburg) pada sekitar 30 tahunan silam. Terinspirasi dari politik apartheid terutama era 60an akhir, saat rezim kulit putih pernah mengalokasikan 60 ribu warga kulit hitam di 'Distrik 6' Cape Town, lantas pernah dipaksa pindah penampungan menuju Cape Flats. Maka film District 9 sesungguhnya adalah potret buram dari kenyataan District 6, gak perlu ke ruang angkasa untuk mencari dan menemukan “mahluk aneh” (prawn) lainnya. Sejarah manusia yg menjadikan manusia lainnya bagai alien, memang setua peradaban manusia itu sendiri. Simbol alienasi telah dan tetap bertebaran melalui teks verbal seperti 'You are not welcome here', 'Anjing dan Niger dilarang masuk' (era rasial di pintu2 kafe di Amerika). Bahkan penggolongan seperti ras, serta mungkin kolom “agama” pada KTP Indonesia adalah label tersendiri yg niscaya menciptakan perbedaan keyakinan berupa atribut kafir, atheis, dst. Sekaligus memang pula menjelaskan melalui ending film, bahwa konsep sekular maupun ide akulturasi adalah pada dasarnya absurd selain pula konyol.
Film ketiga adalah Outlander (2009), konsep yg telah ditulis oleh sang sutradara Howard McCain saat ia masih kuliah tahun 1992. Diilhami jurnal Arkeologi yg membuat replika kapal Viking kuno yg berkaitan dgn legenda pahlawan Beowulf, maka Howard mengembangkan pola karakter yg berasal dari peradaban lain (di luar bumi) atau generasi lain (konsep Time Travel, inget buku H.G Wells: The Time Machine). Suatu masa sekitar 709 Sebelum Masehi, sebuah ledakan berpijar di angkasa dan sinar terpecah bagai mitos pasukan Lucifer yg jatuh. Kemudian muncul sosok aneh berkilau, yg jika sempat dilihat oleh manusia purba pasti disebut dewa bermata satu (cyclops, padahal helm yg melindungi muka serta kedua matanya). Itulah kejatuhan kapal luar angkasa yg sedang dalam perjalanan menuju pulang ke planetnya membawa mayat dari planet jajahan lain yg diamuk mahluk setempat (indigenous). Rupanya ada satu mahluk yg berhasil menyelinap ke kapalnya, dan membuat kerusakan hingga harus terdampar di bumi pada jaman besi.

Menurut survival pod, lokasi jatuhnya pesawat itu di 'an abandoned outpost' ato kini disebut Norwegia. Serta tokoh yg selamat itu lalu mengunduh bahasa komunikasi setempat yakni 'Old Norse' (ibu bahasa Skandinavia), yg juga demi kenyamanan penonton sekaligus ditranslate menjadi English. Dan perkataan bumi pertama yg diucap si tokoh yg meringis akibat proses download tadi, adalah: "fcuk!" (Apakah tokoh "Kain" si bayi Adam dan Hawa, menangis saat lahir?). Selanjutnya, silahkan gabung antara tokoh film Beowulf plus mahluk Grendel tentu, juga nuansa film 'The 13th Warrior', sedikit romance ala Dragonheart, plus konyolnya sosok spritual (religi?). Mungkin jadi timbul pertanyaan, ini film maunya ke futuristik ato malah nyilem di era Jurasic? Demi mudahnya, masukkan saja konsep mesin waktu terutama sosok si alien yg gak berbeda dgn manusia pada saat itu. Jikapun ingin dikaitkan dgn manipulasi genetika yg berupa generasi Nephilim (Genesis 6: 1-8), si alien malah kalah gede dari para native yakni bangsa Vikings yg terkenal bongsor. Menariknya adalah penggunaan material besi yg bukan dari bumi, yakni pembuatan pedang keras untuk bisa membacok monster. Apakah intervensi seperti ini yg lantas dapat merambah ke aspek tehnologi seperti keberadaan piramida di tengah peradaban purba, peta landasan udara di dataran tinggi Nazca (Peru), mitos tehnologi supra modern era Atlantis? Juga warisan konspirasi para penguasa langit yg kini disebut religion, sbg alasan keterbatasan akal dan tehnologi manusia bumi yg memang setitik debu nebula.
Esensi yg mungkin dibutuhkan adalah "Komunikasi", yg bukan sekadar perkara "berbahasa" ("Bukan Inggris, tapi matematika, adalah yg universal", kata tokoh Sparks di film Contact). Komunikasi yg membuat kita bukanlah alien dan meng-alienkan lainnya, dari film District 9. Komunikasi pula yg sanggup membuka hati dan melebarkan pikiran yg konon lahir dari 11% kapasitas maksimal otak manusia, selain dipenuhi intrik dan prasangka ala Outlander.
*Well .. the most important thing is that you all keep searching
for your own answers. So I told u one thing 'bout universe though.
That is a pretty big place, bigger than anything that anyone has
ever dreamed of before. So, if it's just Us .. seems like an awful
waste of space .. right?* [Dr. Eleanor Ann "Sparks" Arroway]
-duke-

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Kirain gw doang yg sinting mikir alien

Anonim mengatakan...

temennya banyak yang mikirin alien, malah pengen jadi alien so jangan kuatir, lo gak sendirian :D

Albert_Batara mengatakan...

Penulis artikel ini perlu diperiksa terkait misteri Crop Circle di Jogja hahahaa ...

JO2 mengatakan...

THE TRUTH IS OUT THERE

Poskan Komentar