Follow me on Twitter RSS FEED

Gampang Lupa (Fragile)

Posted in

if God is dead and an actor plays his part ..
his words of fear will find their way to a place in your heart
without the voice of reason every faith is its own curse
without freedom from the past things can only get worse

Baru-baru ini di satu TV Swasta Indonesia, ditayangankan berita penjualan bahan makanan kadaluwarsa di pasar Wates Cirebon. Hal yang juga pernah terjadi di Kalbar terutama terkait isue komoditas yang diselundupkan dari negara tetangga secara illegal. Transaksi terjadi secara terang-terangan serta (tentu) dgn harga dibanting, jelaslah diperuntukkan bagi konsumen kaum jelata serta masif.

Ketika diwawancara reporter, seorang wakil konsumen mengatakan hal ini sudah biasa dan mereka gk lantas jadi diare, terlebih yg penting harganya murah. Padahal jelas saat di close up, makanan yg dibeli tsb telah ditempeli jamur. Potret yg bukan lagi menyoal 'kemurahan', tapi perihal biang penyakit. Maka jauh untuk menakar kadar kualitas apalagi kandungan gizi, sebagai asupan nutrisi dari tinjauan aspek lahir termasuk sensasi bathin.

Gak lantas tulisan ini bermaksud nyinyir ato mendadak kritis di antara belantara kemiskinan dan busung lapar. Maupun memancing keriuhan diantara beragamnya bencana termasuk penurunan daya beli, demo yg semakin gak jelas lalu ditimpa semerbak ajang sepak bola. Jika pemberitaan telah menjadi komoditas termasuk tunggangan bagi yg berkepentingan, terkadang perlu awas saat mengunyah informasi. Bukankah sudah jamak, misalnya berita kenaikkan BBM atau perkara berkaitan hajat banyak terjadi di bulan puasa. Selain aspek waktu yg mayoritas dianggap pas untuk menahan emosi dan perut, juga bakal diikuti ritual2 kelanjutan yakni heboh mudik dan antri.

Hal ini berlangsung terus dan berulang, sehingga sebetulnya bukan lagi soal fenomena walaupun tetap aktual sbg komoditas pemberitaan. Maka gak perlu pula jadi skeptis jika kebanyakan konsumen menjadi imun atau kebal terhadap segala isu dan dinamika, berlaku secara umum buat si penerima berita maupun sang pelaku dan yg tengah jadi objek pemberitaannya.

Nah, imunisasi ato proses kekebalan ini terjadi secara periodik, gak lantas nongol pada dampaknya. Biasanya dimulai dgn stadium mual, lalu diikuti sindrom cuwek, sebelum akhirnya jadi keracunan akut. Kondisi ini berlaku umum serta nyatanya sungguh relevan dgn berbagai isu, serta terus berulang mirip gelombang tsunami berikut kisah pilu penderitanya.
Mari belajar lagi ke contoh makanan, sederhananya ada 4 kriteria yg boleh disebut konsumsi yg berbahaya atau mengancam konsumen:

1. Makanan (dan minuman) kadaluwarsa,
2. Makanan olahan dgn zat pewarna non-makanan,
3. Makanan menggunakan bahan pengawet terlarang,
4. Makanan pada kemasan bahan berbahaya.

Tentu dapat dimaklumi jika pewarna tekstil yg nge-jreng serta awet tsb telah ikut campur saat dicampur sekaligus mewarnai aneka menu sarapan. Selanjutnya akan nimbrung ke dalam lambung yg pasti gak sanggup menguraikannya, sehingga sukses mengakibatkan gagal ginjal bahkan kangker lever. Jangan lupakan pula menu formalin dan borax yg pernah dan selalu jadi primadona di era serba instant dan komoditas yg mengandalkan kemasan *biar tampak 'lucu' selalu dan untuk segar disantap* ini. Jadilah paket kemasan yg 'berselera' sekaligus murah.
Alam telah mengutus lalat si binatang jalang sbg katalisator, tapi merekapun ogah hinggap di makanan jenis ini. Mungkin mereka paham betapa gawatnya minyak penggoreng jajanan yg bersifat karsenogin. Ditambah unsur pembungkus makanan agar mentereng dan trendy pada styrofoam yg maksudnya agar tetap panas, lantas dicetak pula logo diatasnya namun ternyata mengandung Plumbum (timah hitam) pada pembungkusnya itu.

Jika segalanya telah disajikan siap masuk mulut, gak ada bedanya dengan setiap informasi yg akan masuk buat kepala. Apalagi dalam kondisi lapar dan dahaga, kadang naluri plus insting yg bakal lebih mendominasi, yakni 'Bagaimana agar tetap survive dan eksist!'. Itupun selama yg disebut 'makanan' masih menjadi konsumsi primer, termasuk menulis di berbagai blog dan milis ehehee

Padahal makanan bukan sekadar nutrisi bagi hayati, namun konsumsi buat kekayaan hati dan nurani. Serta kesemuanya memiliki tujuan dan alasan sama, 'kepentingan memelihara status dan hidup jangka lama'. Walau kadar pencernaan tiap orang berbeda, ada yg gampang diare kalo ketemu karedok, atau gampang sewot saat dihadapkan topik yg bernuansa agama misalnya. 'Jangan dicampuri akidah', itu alasannya.
Jadi rupanya, makananpun bisa mencerminkan siapa si pencernanya. Perkara yg disadari betul di paham gastronomy serta para kuliner. Sekaligus peran para koki termasuk peraciknya turut ambil kepentingan, untuk melempar komoditas yg disebut *layak santap* dan laik jual serta termasuk di sebut di atas adalah jeli melihat musim, dst.

Namun apapun itu, kembali mengacu pada empat jenis makanan yg semestinya gak layak konsumsi, memang nyatanya bisa menyebabkan penyantapnya gampang lupa. Entah memang sengaja dijual ke publik maupun gak sengaja termakan menu santapan dari racikannya sendiri. Maka 'gampang lupa' boleh diindikasikan sbg stadium tertentu sbg akibat mengkonsumsi makanan limbah, maupun peraciknya sendiri. Gampang lupa, misalnya kapan terakhir peristiwa gunung meletus. Indikasinya jelas, selalu penanganan terlambat atau seolah gak pernah terjadi sebelumnya. Sementara slogan mitigasi atau pra bencana hanya jadi kiasan karena memang dianggap gak punya prospek bernilai proyek.

Lalu biasanya ketika menjadi gampang lupa, akan gampang luka. Lupa bukan perkara alamiah maupun hukum alam, melainkan dampak luka yg dibuat secara terencana dan sistemik. Jadi gak heranlah kalo Sting pernah bernyanyi, "History will teach us nothing".

our written history is a catalogue of crime ..
the sordid and the powerful, the architects of time
the mother of invention, the oppression of the mild
the constant fear of scarcity, aggression as its child
-duke-

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Life is a succession of lessons which must be lived to be understood. (Ralph Waldo Emerson)
When life is not successfully lived, it becomes failure.

Anonim mengatakan...

capee dee....
(rudi)

Poskan Komentar