Follow me on Twitter RSS FEED

Lemony Snicket's A Series Of Unfortunate Events

You ever want something
That you know you shouldn't have
The more you know you shouldn't have it
The more you want it
And then one day .. you get it
And it's so good to you
Ada banyak alasan maupun ekspresi seseorang, untuk menyatakan bahwa dirinya sedang tertimpa kemalangan. Ketika petaka itu muncul laksana sejuta topan badai dan langit runtuh menimpa kepala, adalah semacam lambang bahwa masalahnya begitu berat ditanggung. Serta pembenaran sepihak bahwa gak ada lagi petaka lain yg bisa lebih laknat dari kemalangannya itu. Mirip dangdut "paling malang sedunia", bahwa masalahku lebih berat daripada masalahmu. Padahal siapa sih yg gak pernah terlibat masalah? "Nobody's know the trouble I've seen", ungkapan paling manusiawi sekaligus egois, menunjukkan betapa pentingnya seseorang. Meski harus ditunjukkan melalui kemalangan (musibah kok dibanggakan?), menjadi sebuah komoditas tersendiri. Masih ingat betapa tersinggungnya seorang kepala daerah ketika pemberitaan menyudutkan wilayahnya sbg termiskin se Indonesia. Namun ketika pemerintah menyodorkan bantuan berupa anggaran bagi wilayah miskin, berbondonglah para kepala daerah menyatakan kemiskinannya. Sehingga gak jelas lagi dimana bencananya, pada data kemalangan ataukah prilaku yg mestinya menjadi musibah akut.
Eksploitasi kemalangan berupa sekuel musibah telah diterjemahkan dalam sebuah naskah fiksi "A Series of Unfortunate Events". Ada 13 buku yg kemudian diterjemahkan lewat narasi penggambaran self-personifikasi tokoh Lemony Snicket bersama tiga anaknya keluarga Baudelaire. "Perkenalkan, si sulung adalah gadis belia bernama Violet, who loves to execute dan senang mencoba hal baru. Adik lelakinya bernama Klaus, he loved to read dan terobsesi dgn kata-kata. Sunny si bungsu yg masih bayi, senang mengoceh dgn bahasa yg hanya dimengerti oleh kedua saudaranya. And she loved to bite, ngigitin benda apa aja. Lalu, oh ya .. Namaku Lemony Snicket, and it's my duty to tell you their tale. Selanjutnya kita bisa memulai kisah ini dgn .. the precise cause of the Baudelaire fire, kemalangan besar berupa kebakaran di rumah keluarga Baudelarie, but just like that .. Selanjutnya, sang yatim piatu Baudelaire harus hidup dlm situasi baru yang suram. Kisah the Baudelaire orphans berikut setiap rangkaian kemalangannya sbg pelajaran hidup nan berharga".
Wonder this time where shes gone
Wonder if she's gone to stay
Ain't no sunshine when she's gone
And this house just ain't no home
Anytime she goes away (anytime she goes away)

Pilihan nuansa gothic bergaya Tim Burton maupun semangat petualangan noir ala Harry Potter, ketiga orphan ini mesti melalui tiap 'percobaan'. Terutama saat mesti berhubungan dgn karakter utama Count Olaf, yg selalu merasa bisa memahami serta merekayasa keinginannya. Serta yg terutama, peran Count Olay sungguh berbakat meramu berbagai kemalangan berikut rekayasa. Akibatnya gak terlalu susah menebak, juga jago ngeles dan muter2 umumnya para pesilat lidah. "Ooo beef, yes. A roast beef. It's the Swedish term for 'Beef that has been roasted'. Tentu ia pintar membungkus nilai kemalangan bukan sbg bencana, namun kemalangan adalah sbg aset tergantung penggunaannya terutama menurut kepentingan. Apakah setiap rambut yg tumbuh di kepala adalah kemalangan bagi bisnis barbershop?

Para figuran lain yg mewarnai serial kemalangan agar dramatis, antara lain paman Montgomery dan istrinya, Josephine. Juga aktor Dustin Hofman walau berkesan numpang liwat, karena porsi utama ada pada tiga yatim piatu bersaudara. Penampilan Violet (Emily Browning, kelahiran Melbourne) mengingatkan pada Juliette Lewis. Sang sutradara Brad Silberling (pernah dgn sentimentil menggarap "City of Angel") berusaha memberi patron baru pada kisah anak modern, selain unsur sihir melalui jenis Harry Potter maupun aksi anti hero semacam Shrek. Lemony Snicket digunakan sbg pembawa pesan mengenai makna kemalangan, sesungguhnya menyimpan beragam kebahagiaan pada waktunya. Bencana hanya wacana yg dapat digunakan manusia untuk menutupi kebenaran, apalagi jika dikaitkan dgn nasib atau takdir. Manusialah yg menyebut kebakaran dan kematian sbg kemalangan, sbg komoditas, tanpa perlu merenungi proses keseimbangan atau siklus kehidupan.
Maka pilihan Jude Law sbg narrator konyol pemeran Lemony Snicket, dapat mewakili pesan Daniel Handler selaku pengarang serial buku. Naskah humor hitam berbalur satire kehidupan, secara komikal disimbolkan lewat peran Jim Carey sbg Count Olaf (dan tiga peran lainnya) yg menggunakan kemalangan sbg aset. Semakin kemalangan orang lain ia nikmati, semakin karam pula ia dalam bencana. Dan seperti kotak pandora telah dibuka, ada pengharapan yg patut dikeluarkan. Franklin D. Roosevelt pernah berujar, "In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was planned that way". Gak ada yg kebetulan dalam politik, jikapun terjadi, itu bagian dari politik sendiri. Ketika dijabarkan dalam kemalangan beruntun, memang gak ada yg kebetulan di situ. Namun rencana objektifnya bukanlah kemalangan baru, melainkan "Pasti muncul pelangi setelah badai, bukan matahari itu malah padam".
Tentu anda bisa menjadikannya subjektif, apalagi bagi si buta warna. Hanya untuk menutupi kemalangan gak bisa menikmati makna tiap garis pelangi. Dan itulah bencanamu sendiri.
I ought to leave the young thing alone
Ain't no sunshine when she's gone
(Ain't no sunshine when she's gone)
Only darkness everyday
("Ain't No Sunshine" - Bill Whiters)
-duke-

2 komentar:

yoris mengatakan...

buku terjemahannya ada di gramed nig

endyonisius mengatakan...

Makasih infonya, tp berat buat beli seluruh koleksinya (ada 12 judul kan?). Sedih mulu sih ..

Poskan Komentar